Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Ambisi Diotrefes dan Teladan Demetrius

Pada artikel sebelumnya saya telah membahas 3 karakteristik kasih Gayus sebagaimana dinyatakan dalam 3 Yohanes 5-8. Sekarang, pada artikel ini, saya akan membahas 2 orang lain yang dibicarakan dalam surat 3 Yohanes, yaitu Diotrefes dan Demetrius.

Kita tidak mengetahui banyak hal berkenaan dengan kedua orang ini. Namun, berdasarkan apa yang dikemukakan dalam surat ini, kita dapat menduga bahwa Diotrefes adalah seorang yang ambisius. Dia mungkin telah menjadi salah seorang penatua di gereja tempat Gayus berjemaat. Sedangkan Demetrius, sama seperti Gayus, dia juga memiliki reputasi yang baik di antara orang-orang percaya. Dia mungkin adalah orang yang dipercaya oleh Rasul Yohanes untuk mengantarkan surat ini kepada Gayus.

3 Karakteristik Kasih Gayus

Seperti halnya dalam suratnya yang kedua, dalam suratnya yang ketiga Rasul Yohanes juga menyebut dirinya dengan sebutan “penatua”. Namun, berbeda dengan surat 2 Yohanes yang nampaknya ditujukan pada sebuah gereja lokal, surat 3 Yohanes ditujukan pada seorang individu yang bernama Gayus. Selain apa yang dikemukakan dalam surat ini, tidak banyak yang dapat kita ketahui tentang hal ikhwalnya. Apakah dia adalah seorang penatua, diaken, atau anggota jemaat biasa, kita pun tidak dapat mengetahuinya secara pasti. Walaupun demikian, dia memiliki reputasi yang baik di antara orang-orang percaya karena kasih dan kebaikannya.

Setidaknya ada 3 hal yang dapat kita pelajari berkenaan dengan kasih Gayus, antara lain:

3 Nasihat dalam Menghadapi Bahaya Kesesatan

Pada artikel sebelumnya saya telah membahas 4 hal yang membuat para guru palsu sangat berbahaya berdasarkan perkataan Rasul Yohanes dalam 2 Yohanes 7. Pertanyaannya, apa yang perlu kita perbuat berkenaan dengan keberadaan guru-guru palsu itu? Bagaimana kita menghadapi bahaya kesesatan yang ada di sekitar kita?

Setidaknya ada 3 nasihat yang diberikan Rasul Yohanes dalam suratnya yang kedua (2 Yohanes) berkenaan dengan bahaya kesesatan itu, antara lain:

4 Hal yang Membuat Para Guru Palsu Sangat Berbahaya

Secara umum ada 2 bentuk serangan yang dilancarkan Iblis untuk mengacau-balaukan dan menghancurkan gereja Kristus, antara lain:

  1. Dia dapat menyerang gereja dari luar, yaitu melalui penganiayaan dan penderitaan yang menimpa gereja.
  2. Dia dapat menyerang gereja dari dalam, yaitu melalui penyesatan yang menyusup ke dalam gereja.

Kedua bentuk serangan itu terus-menerus dilancarkan Iblis sejak permulaan gereja sampai sekarang. Keduanya sama-sama berbahaya dan sama-sama berpotensi memurtadkan anggota-anggota gereja dari iman kepada Yesus Kristus. Karena itu, kita patut waspada terhadap kedua bentuk serangan Iblis itu.

Mempersiapkan Diri dalam Menghadapi Kematian

Kematian merupakan sebuah peristiwa yang tidak dapat kita hindari. Sebagian orang merasa takut dan kuatir menghadapi kenyataan ini dengan berbagai alasan. Namun, ketakutan dan kekuatiran itu tak akan dapat mengubah kenyataan ini. Mau atau tidak mau, cepat atau lambat, pada akhirnya kita semua pasti mengalami kematian. Karena itu, daripada menguatirkan kematian, lebih baik kita mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi kematian.

Karakteristik dan Wujud Kasih Sang Penatua dalam surat 2 dan 3 Yohanes

Dalam suratnya yang kedua dan ketiga Rasul Yohanes memperkenalkan dirinya dengan sebutan “penatua”. Sebutan itu dapat merujuk pada 2 hal berkenaan dengan dirinya:

  • Itu dapat merujuk pada usianya yang sudah sangat tua pada waktu itu.
  • Itu dapat merujuk pada jabatan gerejani yang disandangnya. Namun, berbeda dengan jabatan penatua pada umumnya yang wewenangnya terbatas pada satu gereja lokal saja, jabatan penatua yang disandangnya adalah jabatan istimewa, di mana wewenangnya meluas ke gereja-gereja lain, karena dia adalah rasul Yesus Kristus.

Ditinjau dari kedua hal itu, baik dari segi usia maupun dari segi jabatan, jelaslah bahwa Rasul Yohanes mempunyai kedudukan dan wewenang yang lebih tinggi daripada semua penatua dan anggota jemaat yang ada. Walaupun demikian, hal itu tidak membuatnya lupa diri dan berlaku sewenang-wenang terhadap mereka. Sebaliknya, dengan menyebut dirinya “penatua” dia memposisikan dirinya sebagai bapa dan sahabat yang mengasihi mereka.

Selain itu, berdasarkan apa yang dikemukakannya dalam suratnya yang kedua dan ketiga, kita dapat melihat karakteristik dan wujud kasih sang penatua, yaitu Rasul Yohanes, kepada gereja.

Jati Diri Manusia: Ciptaan menurut Gambar Allah

“Siapakah aku?” Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat penting dan menuntut pemikiran yang sangat serius, karena jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan nilai, makna, dan tujuan hidup kita. Bila kita keliru dalam mengenali siapa diri kita, kita dapat jatuh dalam 2 sikap yang keliru, yaitu (1) sikap sombong, di mana kita memandang diri terlalu tinggi, atau (2) sikap rendah diri, di mana kita memandang diri terlalu rendah. Selanjutnya, kedua sikap itu akan menyimpangkan kita dari nilai, makna, dan tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Karena itu, penting bagi kita untuk merenungkan, mengingat, dan menyadari siapa diri kita yang sesungguhnya secara berkesinambungan setiap waktu.

Untuk mengetahui nilai, manfaat, dan tujuan suatu benda, kita perlu mempelajari awal-mula terbentuknya benda itu — siapa yang merancangnya, bagaimana benda itu dibuat, dan untuk apa benda itu dibuat. Demikian pula, untuk mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya, kita perlu mempelajari awal-mula terbentuknya manusia. Untuk itu, kita dapat mempelajari Alkitab yang adalah “buku manual” kehidupan kita.

Identitas “Ibu yang Terpilih” dalam Surat 2 Yohanes

Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. (2 Yohanes 1a)

“Siapakah ‘ibu yang terpilih’ yang menjadi penerima surat 2 Yohanes?” Persoalan ini telah menjadi bahan perdebatan di antara para penafsir. Ada berbagai pendapat yang diajukan berkenaan dengan persoalan ini. Namun, secara garis besar pendapat-pendapat itu dapat dibagi ke dalam 2 kelompok:

Jaminan Keselamatan Domba Kristus

“Apakah orang percaya sejati dapat meninggalkan imannya, kehilangan keselamatannya, dan akhirnya mengalami kebinasaan kekal?” Pertanyaan ini telah membingungkan banyak orang Kristen dan menimbulkan pertentangan di sepanjang sejarah kekristenan. Sebagian orang berpendapat bahwa orang percaya sejati, oleh kebebasannya, dapat meninggalkan imannya dan kehilangan keselamatannya. Namun, sebagian yang lain berpentapat bahwa orang percaya sejati, oleh pemeliharaan Allah, tidak mungkin meninggalkan imannya dan kehilangan keselamatannya. Pertanyaannya, pandangan manakah yang lebih dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan Alkitab?

Setelah mempelajari berbagai argumentasi yang diajukan oleh masing-masing pihak, saya berpendapat bahwa pandangan kedua, bahwa orang percaya sejati tidak mungkin meninggalkan imannya dan kehilangan keselamatannya, lebih dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan Alkitab. Tentu saja, dibutuhkan suatu pembahasan yang sangat panjang untuk menjawab dan menguraikan semua argumentasi itu secara komprehensif. Walaupun demikian, tanpa bermaksud mengabaikan argumentasi-argumentasi lainnya, pada artikel ini saya akan meninjau persoalan itu berdasarkan perkataan Yesus dalam Yohanes 10:27-30 dan menunjukkan bahwa pandangan kedua lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Tanggung Jawab Suami Kristen: Mengasihi Istri

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tanggung jawab istri Kristen, di mana dia harus tunduk kepada suaminya. Sekarang, pada artikel ini, kita akan membahas tanggung jawab suami Kristen, di mana dia harus mengasihi istrinya. Ya, mengasihi istri adalah tanggung jawab yang harus diperhatikan oleh setiap suami.

Sayangnya, sebagaimana banyak istri lebih suka membacakan Kolose 3:19 kepada suaminya, demikian pula banyak suami lebih suka membacakan Kolose 3:18 kepada istrinya. Banyak suami senang menegaskan wewenangnya sebagai kepala dan pemimpin keluarga, tetapi mereka melupakan dan mengabaikan tanggung jawab mereka untuk mengasihi istri mereka. Mereka menuntut penghormatan dan pelayanan dari istri mereka, tetapi mereka tidak memberikan perhatian dan kasih-sayang yang dibutuhkan istri mereka. Karena itu, tak mengherankan bila relasi suami-istri menjadi relasi yang timpang dan hambar.

Rasul Paulus tidak ingin relasi suami-istri dalam keluartga Kristen menjadi relasi yang timpang dan hambar seperti itu. Karena itu, setelah dia menasihati para istri untuk tunduk kepada suami mereka, dia menasihati para suami untuk mengasihi istri mereka. Lebih jauh lagi, dia juga menasihati para suami supaya mereka tidak menjadi pahit terhadap istri mereka.

Sehubungan dengan nasihat Rasul Paulus itu, ada 3 pertanyaan yang akan saya bahas dalam artikel ini, antara lain:

  1. Mengapa seorang suami harus mengasihi istrinya?
  2. Apa yang dimaksud dengan “mengasihi istri”? Apa saja yang tercakup dalam tanggung jawab ini?
  3. Apa yang dimaksud dengan “tidak menjadi pahit terhadap istri”? Apa saja implikasi dari nasihat ini?
This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.