Blog Pribadi Paulus Roi

Berbagi hidup dan pemikiran bagi kemuliaan Allah

Dari Keluhan dan Bantahan menuju Pujian

Kedaulatan Rencana Allah dalam Kitab HabakukBila kita mempelajari ketiga pasal kitab Habakuk, kita akan mendapati suatu perubahan sikap yang begitu luar biasa, dari keluhan dan bantahan menuju pujian. Pada permulaan kitabnya ini Habakuk mengeluh kepada Allah karena nampaknya Allah hanya berdiam diri saja melihat umat-Nya, bangsa Yehuda, jatuh terjerembap ke dalam penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain. Ia mengeluh karena nampaknya Allah membiarkan ketidakadilan berlangsung begitu saja, di mana orang fasik berlaku lalim terhadap orang benar (1:2-4).

Kemudian dalam 1:5-11 Allah menanggapi keluhan Habakuk tersebut. Dia menyatakan bahwa semuanya itu bukannya terjadi tanpa sepengetahuan-Nya. Sebaliknya, segala peristiwa yang terjadi itu berada dalam rencana dan kendali-Nya. Dialah yang membangkitkan bangsa Kasdim yang fasik dan kejam itu untuk menghukum bangsa Yehuda.

Tentu saja tanggapan Allah itu sangat mengejutkan Habakuk. Bagaimana mungkin YHWH (baca: YAHWEH) yang dikenalnya sebagai Allah yang mahakudus itu dapat berlaku demikian? Bagaimana mungkin Allah yang mahakudus itu dapat membiarkan kelaliman dan ketidakadilan berlangsung begitu saja di depan mata-Nya? Bahkan, lebih lagi, bagaimana mungkin Allah yang mahakudus itu dapat melakukan suatu ketidakadilan dengan memakai bangsa Kasdim yang fasik itu untuk menghukum bangsa Yehuda yang masih lebih baik dari pada mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus berkecamuk dalam diri Habakuk. Dalam 1:12 – 2:1 ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu untuk membantah Allah atas jawaban yang telah diberikan-Nya kepadanya. Ia yakin bahwa Allah tidak akan dapat menjawab bantahannya itu. Itulah sebabnya dalam 2:1 ia mengatakan bahwa ia ingin meninjau apa yang akan Allah katakan kepadanya sebagai jawaban atas bantahannya itu. Ia yakin bahwa ia akan dapat menangkis setiap jawaban yang akan Allah berikan kepadanya.

Dalam 2:2-20 Allah kembali menjawab bantahan Habakuk. Ia menyatakan bahwa Ia akan menghukum bangsa Kasdim karena jalannya yang jahat dan menghancurkan tempat kediaman mereka di Babilonia. Dan pada akhir bagian ini Allah meyakinkan Habakuk: “Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!” Tentu saja kalimat terakhir itu juga ditujukan pada Habakuk yang hendak melanjutkan perbantahannya dengan Allah.

Jawaban Allah itu membuat Habakuk tersungkur di hadapan-Nya. Ia merasa heran sekaligus kagum atas rencana Allah yang tak terpikirkan olehnya itu. Dia setuju terhadap rencana Allah itu, tetapi ia berdoa dengan sangat agar dalam murka-Nya Allah tetap mengingat umat-Nya dan menganugerahkan belas kasihan kepada mereka (3:2). Dia begitu kagum dan gemetar mendengar rencana Allah yang dahsyat itu. Dan sebagaimana yang Allah perintahkan kepadanya, ia pun berdiam diri. Dalam 3:16 ia berkata: “Dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.”

Akhirnya, dengan penuh sukacita Habakuk pun tunduk pada rencana dan kehendak Allah yang berdaulat. Dalam 3:17-19 ia memuji Allah:

Sekalipun pohon ara tidak berbunga,
pohon anggur tidak berbuah,
hasil pohon zaitun mengecewakan,
sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,
kambing domba terhalau dari kurungan,
dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN,
beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
ALLAH Tuhanku itu kekuatanku:
Ia membuat kakiku seperti kaki rusa,
Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

Habakuk telah mengakhiri keluhan dan bantahannya kepada Allah. Ia mengakhirinya dengan sebuah pujian yang begitu indah, sebuah pujian yang didasarkan pada ketundukan yang penuh kepada Allah yang berdaulat. Dia telah memandang kemuliaan Allah. Sekalipun penderitaan dan banyak hal buruk terjadi dalam hidupnya, dia tahu bahwa Allah adalah kekuatan dan keselamatannya, dan baginya itu sudahlah cukup.

Seperti halnya Habakuk, mungkin saat ini anda melihat berbagai ketidakadilan terjadi di sekitar anda. Mungkin anda juga mengeluh kepada Allah karena Dia membiarkan segala ketidakadilan itu. Akan tetapi, ketahuilah bahwa Allah tidak pernah menutup mata atas segala ketidakadilan yang terjadi. Semua itu ada dalam kendali-Nya. Percayalah bahwa Allah selalu memiliki rancangan yang terbaik bagi umat-Nya. Dan akhirnya, tunduklah di hadapan Allah dan pujilah Dia atas segala hikmat-Nya yang luar biasa! Amin.

(Artikel ini telah dibaca 927 kali)

Tinggalkan Balasan

Copyright © Blog Pribadi Paulus Roi. All rights reserved.