Blog Pribadi Paulus Roi

Berbagi hidup dan pemikiran bagi kemuliaan Allah

Datanglah Sebagaimana Adanya Kamu

Datanglah Sebagaimana Adanya KamuAku menggeleng-gelengkan kepalaku dalam ketidakpercayaan. Tidak mungkin ini tempatnya. Tidak mungkin aku diterima di sini. Aku sudah diberi undangan beberapa kali oleh beberapa orang yang berbeda, dan baru memutuskan untuk melihat seperti apa tempatnya. Tapi, tidak mungkin ini tempatnya.

Sekali lagi kulihat undangan yang ada di genggamanku. Kuperiksa lagi kata-kata yang tertera di sana dengan teliti. “Datanglah sebagaimana adanya kamu. Tidak perlu ditutup-tutupi.” Di bawah kata-kata itu kutemukan alamatnya.

Ya, aku berada di tempat yang benar. Sekali lagi aku mengintip melalui jendelanya. Aku melihat sebuah ruangan besar yang dipenuhi orang-orang yang wajahnya memancarkan sukacita. Mereka semua mengenakan pakaian yang bagus, bersih, dan rapi seperti orang-orang yang makan di restoran mewah.

Dengan perasaan malu kupandang pakaianku yang compang-camping, buruk, dan penuh noda. Aku benar-benar kotor dan menjijikkan. Bau busuk tercium dari tubuhku. Aku tak dapat membersihkan kotoran yang melekat di tubuhku dan menghilangkan bau busuk itu. Aku benar-benar merasa malu dan merasa tak pantas masuk ke tempat itu. Kupikir, lebih baik aku menyingkir saja.

Akan tetapi, ketika aku hendak memutar badanku untuk meninggalkan tempat itu, kata-kata yang tertera pada undangan itu melintas di benakku. “Datanglah sebagaimana adanya kamu. Tidak perlu ditutup-tutupi.” Aku pun memutuskan untuk mencobanya. Kukerahkan segala keberanianku. Kubuka pintu restoran itu dan kudekati pria yang berdiri di belakang panggung.

“Nama anda, Tuan?” tanyanya seraya tersenyum ramah kepadaku.

“Daniel F. Renken.” Jawabku bergumam tanpa berani menatapnya. Kumasukkan tanganku ke kantong pakaianku dalam-dalam untuk menyembunyikan noda-nodanya.

Pria itu nampaknya tidak memperhatikan kotoran yang berusaha kusembunyikan. Ia pun melanjutkan, “Baik, Tuan. Sebuah meja telah dipesan atas nama anda. Anda mau duduk sekarang?”

Aku tak dapat mempercayai apa yang telah kudengar. Walaupun demikian, aku tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja.”

Pria itu kemudian mengantarku ke sebuah meja dan, benar saja, ada namaku tertera di sana dengan tulisan tebal merah tua. Aku pun duduk dan mulai membaca-baca menunya. Ada banyak sekali hal menyenangkan yang tertera di sana seperti cinta kasih, pengampunan, sukacita, pengharapan, damai sejahtera, keyakinan, kemurahan, kesabaran, kesetiaan, kelemahlembutan, dan kebaikan. Aku sadar ini bukanlah restoran biasa. Kuletakkan menu itu ke atas meja untuk melihat nama tempat ini. “Kemurahan Tuhan,” itulah nama tempat di mana aku berada!

Beberapa saat kemudian pria yang tadi mengantarku kembali dan berkata, “Saya merekomendasikan sajian spesial hari ini. Bila anda memilih sajian spesial hari ini, anda akan mendapatkan semua sajian yang tercantum pada menu ini.”

“Anda pasti bercanda! Benarkah saya dapat memperoleh semua yang ada di dalam menu ini? Apakah nama sajian spesial hari ini?” demikian tanyaku dengan penuh semangat.

“Ya, benar. Saya tidak bercanda. Nama sajian spesial itu adalah keselamatan.” Jawab pria itu mantap.

“Baiklah, aku ambil sajian spesial itu.” Jawabku spontan.

Namun, secepat aku membuat keputusan itu, secepat itu pula kegembiraan meninggalkanku. Aku teringat akan keadaanku. Duka yang mendalam memenuhi hatiku dan air mata mengalir deras dari kedua mataku. Dengan menangis tersedu-sedan aku berkata pada pria itu, “Tuan, lihatlah diriku. Aku ini kotor, hina, dan menjijikkan. Aku benar-benar tak berharga. Aku ingin mendapatkan semua itu, tetapi aku sama sekali tak sanggup membelinya.”

Tanggapan pria itu benar-benar di luar dugaanku. Sambil tersenyum ramah dia berkata, “Tuan, semua pesanan anda telah dibayar oleh pria yang ada di sana.” Ia menunjuk ke arah pintu ruangan itu. “Nama-Nya Yesus.”

Aku berbalik ke arah pintu yang ditunjuk oleh pria itu. Di sana aku melihat seorang pria lain yang benar-benar mengagumkan. Kehadiran-Nya telah membuat seluruh ruangan itu terang-benderang. Aku pun melangkah maju ke arah pria itu. Setibanya di hadapan-Nya aku berbisik dengan suara gemetar, “Tuan, aku akan mencuci semua piring, membersihkan lantai, dan mengeluarkan sampah. Aku akan melakukan apapun yang bisa aku lakukan untuk membayar-Mu kembali untuk semuanya ini.”

Sambil tersenyum ramah Dia membuka tangan-Nya dan berkata, “Anak-Ku, engkau tak perlu melakukan semua itu. Semua ini akan menjadi milikmu. Engkau cukup datang kepada-Ku. Mintalah pada-Ku untuk membersihkanmu dan Aku akan melakukannya. Mintalah pada-Ku untuk membuang noda-noda yang melekat di tubuhmu itu dan hal itu akan terlaksana. Mintalah pada-Ku untuk mengizinkanmu makan di meja-Ku dan kamu akan makan. Ingat, meja ini dipesan atas namamu. Yang bisa kamu lakukan hanyalah menerima semua pemberian-Ku ini.”

Aku tak tahan lagi. Kekaguman, ketakjuban, dan sukacita besar melingkupiku sedemikian rupa. Aku pun jatuh berlutut di kaki-Nya dan berseru, “Tolong aku, Yesus! Tolong bersihkan diriku yang penuh noda ini. Tolong ubahkan hidupku. Izinkanlah aku duduk makan bersama-Mu dan berilah aku sebuah hidup yang baru di dekat-Mu.”

Segera setelah aku selesai mengucapkan kata-kata itu, aku mendengar Dia menjawabku, “Sudah terlaksana.”

Tiba-tiba saja sesuatu yang aneh dan indah terjadi. Tubuhku menjadi bersih. Tak ada noda dan bau menjijikkan lagi pada tubuhku. Aku pun melihat pakaian putih yang indah menyelubungi tubuhku. Aku merasa sangat nyaman, sepertinya segala beban yang menindihku selama ini telah terangkat. Dan sekarang aku mendapati diriku sedang duduk bersama Yesus di meja-Nya.

“Sajian spesial hari ini telah dipesan untukmu.” Kata Yesus kepadaku. “Keselamatan telah menjadi milikmu.”

Kami pun duduk makan sambil bercakap-cakap beberapa waktu lamanya. Aku sangat menikmati saat-saat bersama-Nya. Dia berkata pula kepadaku bahwa Dia ingin agar aku meluangkan waktuku sebanyak mungkin dan sering-sering datang menemui-Nya.

Ketika hampir tiba saatnya bagiku untuk pulang, Yesus berkata padaku, “Daniel, tidakkah kau lihat banyaknya meja yang kosong di ruangan ini?”

“Ya, Tuhan. Aku melihatnya. Mengapa meja-meja itu kosong?” sahutku.

“Meja-meja itu telah Kupesan untuk setiap individu yang namanya tertera di sana, tetapi tiap-tiap individu itu belum menerima undangannya. Maukah Kau mengantarkan undangan-undangan ini kepada mereka agar mereka pun dapat bergabung dengan kita?” tanya-Nya sambil mengulurkan undangan-undangan itu.

“Tentu saja!” jawabku bersemangat sambil mengambil undangan-undangan itu.

“Kalau begitu, pergilah dan antarkanlah undangan-undangan itu.” Kata-Nya ketika aku hendak pergi meninggalkan tempat itu. Kemudian dengan lembut Dia membisikkan sebuah kalimat yang tak akan pernah kulupakan. “Ketahuilah Daniel, Aku menyertaimu senantiasa sampai selama-lamanya.”

Demikianlah, aku berjalan masuk ke “Kemurahan Tuhan” dalam keadaan kotor dan menjijikkan karena telah ternoda oleh dosa. Aku bagaikan gombal usang yang sedemikian dekil. Akan tetapi, Yesus telah membersihkanku. Sekarang aku keluar sebagai manusia baru dengan mengenakan pakaian putih bersih. Aku pun menepati janjiku pada Tuhanku, bahwa aku akan pergi menyebarluaskan undangan-Nya. Ya, aku akan memberitakan Injil-Nya.

Dan sekarang, aku akan memulainya dengan kamu. Pernahkah kamu pergi ke restoran “Kemurahan Tuhan”? Ada sebuah meja yang telah dipesan atas namamu. Inilah undangan untukmu. “Datanglah sebagaimana adanya kamu. Tidak perlu ditutup-tutupi.”

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Mat 11:28)

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mrk 2:17)

Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. (Yes 1:18)

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. (Ef 2:8-9)

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:19-20)

(Artikel ini telah dibaca 1464 kali)

1 Komentar

Tambahkan komentar

Tinggalkan Balasan

Copyright © Blog Pribadi Paulus Roi. All rights reserved.