Blog Pribadi Paulus Roi

Berbagi hidup dan pemikiran bagi kemuliaan Allah

Dunia Tunanetra Itu Seperti Apa Sih?

Dunia TunanetraSebagaimana mungkin telah anda ketahui dari profil pribadi saya, saya adalah seorang tunanetra. Saya telah menjadi seorang tunanetra sejak tahun 1996 pada usia 12 tahun. Saya juga telah bersekolah di Sekolah Luar Biasa khusus penyandang tunanetra dan bergaul dengan banyak rekan tunanetra lainnya. Saya mengetahui dan mengalami secara langsung apa dan bagaimana kehidupan tunanetra yang sesungguhnya. Karena itu, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi wawasan kepada anda, pengunjung blog saya, tentang bagaimanakah dunia tunanetra yang sesungguhnya.

Ada 2 alasan yang menggerakkan hati saya untuk membagikan wawasan ini.

Pertama, saya cukup sering mendapat pertanyaan-pertanyaan yang sama berkenaan dengan dunia tunanetra dari orang-orang yang beru berkenalan dengan saya. Daripada saya harus menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang, lebih baik saya tuliskan saja di sini. Dengan demikian saya cukup memberikan rujukan ke halaman ini bila ada orang yang bertanya kepada saya. 😛

Kedua, saya mendapati bahwa ada banyak orang yang memiliki presepsi-presepsi keliru tentang kaum tunanetra. Presepsi-presepsi itu seringkali menimbulkan gap yang tak perlu dalam komunikasi dan relasi dengan kaum tunanetra. Karena itu, saya ingin meluruskan segala presepsi keliru tersebut. 🙂

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu anda ketahui tentang dunia tunanetra pada umumnya.

  1. Ada berbagai tingkat kebutaan.

Tidak semua orang tunanetra sungguh-sungguh mengalami kebutaan secara total (100% buta). Kenyataannya, menurut World Health Organization (WHO), hanya 15,88% dari kaum tunanetra yang sungguh-sungguh mengalami kebutaan secara total. 84.12% sisanya masih memiliki sisa penglihatan dengan tingkat kemampuan tertentu untuk mengenali warna, bentuk, cahaya, dan/atau gerakan. Sebagian memiliki penglihatan yang kabur dalam suatu tingkat tertentu dan sebagian yang lain memiliki penglihatan dengan bintik-bintik kebutaan di beberapa area.

Kedua mata saya sendiri saat ini memiliki kondisi yang berbeda satu sama lain. Mata kanan saya mengalami kebutaan secara total, sedangkan mata kiri saya masih dapat mengenali cahaya dan gerakan dengan tingkat kemampuan yang sangat rendah. Ada semacam “kabut kebutaan” pada bagian tengah area penglihatan mata kiri saya, sehingga saya harus “melirik” untuk dapat mengenali cahaya dan gerakan di depan mata saya.

  1. Buta total tidak selalu berarti gelap total.

Anda mungkin mengira bahwa seorang yang mengalami kebutaan secara total pasti memiliki “penglihatan” yang gelap total atau hitam kelam. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada tunanetra yang mengalami kebutaan total, tetapi “penglihatannya” justru berwarna putih seperti kabut. Mata kanan saya sendiri yang mengalami kebutaan total justru “melihat” campuran berbagai warna secara tak teratur.

Tentu saja yang dapat memberikan keterangan ini adalah kaum tunanetra yang sebelumnya dapat melihat dan membedakan warna. Mereka yang mengalami kebutaan total sejak lahir tentu tak dapat memberikan keterangan warna apa yang ada pada “penglihatannya”, karena mereka tak pernah mengenal perbedaan warna. Mereka hanya berasumsi bahwa apa yang “dilihatnya” adalah warna hitam seperti dikatakan banyak orang. Karena itu, kita tak dapat mengetahui “penglihatan” seperti apa yang sebenarnya dimiliki oleh mereka yang buta total sejak lahir.

  1. Kaum tunanetra bermimpi saat tidur.

“Apakah kaum tunanetra juga bermimpi saat tidur? Bagaimana isi mimpi mereka? Apakah mimpi mereka juga mengandung sensasi visual?” Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu terlintas di benak anda.

Ya, kaum tunanetra juga bermimpi saat tidur. Mereka yang, seperti saya, sebelumnya dapat melihat dan baru mengalami kebutaan belakangan, tetap mengalami mimpi dengan sensasi visual. Sensasi visual yang mereka lihat dalam mimpi sesuai dengan daya imajinasi mereka. Misalnya, bila dalam imajinasi saya si A itu bertubuh tegap dan berambut cepak, maka seperti itu pulalah sensasi visual yang saya lihat dalam mimpi saya.

Namun, bagaimana dengan mereka yang mengalami kebutaan sejak lahir? Saya sendiri pernah merasa penasaran berkenaan dengan hal ini. Saya pun bertanya kepada rekan-rekan saya yang mengalami kebutaan sejak lahir. Ternyata, mereka juga bermimpi saat tidur. Namun, mimpi mereka tidak mengandung sensasi visual. Mimpi mereka berupa sensasi suara dan sensasi sentuhan sebagaimana yang mereka alami dalam kehidupan nyata mereka. Dengan kata lain, dalam mimpi pun mereka tetaplah kaum tunanetra. 🙂

  1. Kaum tunanetra tidak merasa malu atau terganggu disebut tunanetra atau buta.

Kehidupan Orang ButaAda sebagian orang yang merasa sungkan dan canggung ketika hendak mengucapkan kata “tunanetra” atau “buta” di depan seorang tunanetra. Mereka mungkin merasa takut kalau-kalau perkataan mereka akan menyinggung perasaan orang tunanetra itu. Padahal, pada umumnya kaum tunanetra tidak merasa malu dan juga tidak merasa terganggu dengan hal itu sejauh hal itu tidak dimaksudkan untuk mencaci-maki mereka.

Kenyataannya, kaum tunanetra seringkali juga mempergunakan kebutaan sebagai lelucon kasar di antara mereka sendiri. Misalnya, bila anda datang ke Sekolah Luar Biasa khusus bagi penyandang tunanetra dan mengamati perilaku anak-anak tunanetra di sana, mungkin anda akan melihat ada 2 tunanetra yang saling bertabrakan saat berjalan lalu saling “mencaci” dengan berkata: “Hoi, ga bisa lihat ya! Matanya ditaruh di mana?” Itu adalah salah satu contoh lelucon kasar yang biasa terjadi di kalangan tunanetra dan tak ada yang merasa tersinggung atau marah karenanya.

  1. Kaum tunanetra tidak memiliki “indra keenam”.

Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa seorang tunanetra tentu memiliki semacam “indra keenam” atau kemampuan unik tertentu. Kemudian, ketika mereka berjumpa dengan seorang tunanetra, mereka akan bertanya apakah dia memiliki hal itu atau tidak. Bila tidak, mereka pun akan kecewa.

Saya sendiri pernah beberapa kali berjumpa dengan orang seperti itu. Misalnya, suatu kali seseorang bertanya apakah saya dapat mengenali nilai uang kertas yang disodorkannya. Saya pun mengatakan bahwa saya tidak mampu. Setelah mendengar jawaban saya, orang itu segera bersikap merendahkan saya dan mengatakan bahwa saya seharusnya mampu melakukannya. Saya hanya berpikir: “Orang ini pasti kebanyakan nonton Si Buta dari Gua Hantu.” 😛

Perlu anda ketahui bahwa kaum tunanetra bukanlah manusia super yang memiliki indra keenam seperti si buta dari gua hantu. Memang ada beberapa orang yang memiliki indra pendengar, pencium, atau perasa yang luar biasa, tetapi jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Pada umumnya mereka memiliki kemampuan indra yang relatif sama dengan orang-orang lainnya. Bila nampaknya indra mereka lebih peka dari orang-orang lain, hal itu semata-mata karena mereka terbiasa mempergunakannya.

  1. Kaum tunanetra tidak memerlukan perhatian yang berlebihan.

Banyak orang seringkali menaruh rasa kasihan dan perhatian yang terlalu berlebihan terhadap seorang tunanetra yang dijumpainya. Mereka berusaha menolong orang tunanetra itu dalam segala hal seolah-olah ia tak mampu melakukannya sendiri. Mereka mungkin memiliki maksud yang baik, tetapi seringkali hal itu justru membuat si tunanetra merasa tak nyaman.

Perlu anda ketahui bahwa pada umumnya kaum tunanetra adalah orang-orang yang mandiri. Mereka dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan mengurus diri mereka sendiri dengan baik. Ketika mereka berada di suatu lingkungan yang baru, tentu saja mereka memerlukan bantuan orang lain untuk memperkenalkan situasi lingkungan itu kepada mereka. Namun, mereka akan segera dapat menyesuaikan diri setelahnya.

Kaum tunanetra pada umumnya juga adalah orang-orang yang “tahan banting”. Menabrak dinding atau pintu, tersandung batu atau tangga, jatuh, tercebur selokan, tertabrak kendaraan, dan mengalami berbagai kecelakaan lain mungkin telah berulang kali mereka alami. Bagi mereka hal itu adalah hal yang biasa dan tak perlu terlalu dikuatirkan. Sikap anda yang terlalu menguatirkan mereka justru akan membuat mereka merasa tak nyaman.

  1. Kaum tunanetra menggunakan bahasa orang berpenglihatan.

Kaum tunanetra tetap menggunakan kata-kata yang umum dipakai oleh orang-orang berpenglihatan. Misalnya, mereka mengatakan bahwa mereka sedang menonton TV atau sedang membaca buku. Padahal, yang mereka lakukan adalah mendengarkan TV atau mendengarkan suatu buku dibacakan. Mereka mungkin juga mengatakan bahwa mereka hendak melihat sesuatu. Padahal, yang sebenarnya mereka lakukan adalah merabanya.

Karena itu, anda tak perlu heran bila mendengar seorang tunanetra berkata bahwa dia “melihat”, “menonton”, atau “menyaksikan” sesuatu seolah-olah mereka berpenglihatan. Sebaliknya, anda pun tak perlu merasa canggung mempergunakan kata-kata itu terhadap mereka.

  1. Kaum tunanetra tidak kebal dari dosa apapun.

Ada sebagian orang yang menyangka bahwa kaum tunanetra menghadapi godaan dosa yang lebih ringan karena kebutaan mereka. Padahal, kenyataannya sama sekali tidaklah demikian! Kaum tunanetra tidak kebal dari godaan dosa apapun. Mereka juga bergumul dengan berbagai macam dosa seperti halnya semua orang lain.

Bagaimana dengan pornografi? Banyak orang mengira kaum tunanetra tak akan bergumul dengan dosa ini. Padahal, pornografi, percabulan, dan perzinahan juga menjadi salah satu dosa yang memikat banyak orang tunanetra. Sekalipun mereka tak dapat melihat video atau gambar porno, mereka tetap dapat membaca cerita porno, mendengar video porno, dan berimajinasi tentang hal itu.

  1. Kaum tunanetra menikmati aktivitas-aktivitas orang berpenglihatan.

Kaum tunanetra juga dapat menikmati aktivitas-aktivitas yang digemari oleh orang-orang berpenglihatan. Sebagian dari mereka senang menjelajahi tempat-tempat baru, pergi ke bioskop atau ke konser musik, dan berjalan-jalan ke mall. Sebagian yang lain senang dengan dunia olahraga seperti sepak bola, renang, catur, memancing, dan sebagainya. Singkatnya, hampir tak ada perbedaan hobi antara kaum tunanetra dengan orang berpenglihatan. Karena itu, anda tetap dapat mengajak mereka bergabung dengan anda menikmati aktivitas-aktivitas itu.

Namun, perlu diingat pula bahwa seperti halnya semua orang lain, kaum tunanetra juga memiliki temperamen dan karakter yang berbeda-beda. Ada yang bersifat terbuka/ekstrovert dan ada yang bersifat tertutup/introvert. Ada yang senang beraktivitas dalam keramaian dan ada yang senang beraktivitas dalam kesendirian. Ada yang menggemari olahraga dan ada yang tak menggemarinya. Bila anda berjumpa dengan seorang tunanetra, anda dapat bertanya kepadanya secara langsung mengenai hobinya.

Jadi, pada dasarnya kaum tunanetra tidak jauh berbeda dengan orang-orang lainnya. Anda tak perlu merasa canggung atau kuatir menyinggung perasaan mereka. Anda juga tak perlu memberikan perhatian yang terlalu berlebihan terhadap mereka. Pandang dan perlakukanlah mereka secara wajar sebagaimana anda memandang dan memperlakukan orang lain. Hal itu akan membuat mereka jauh lebih baik.

(Artikel ini telah dibaca 4254 kali)

Tinggalkan Balasan

Copyright © Blog Pribadi Paulus Roi. All rights reserved.