Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Kebenaran Injil dan Peraturan Persepuluhan

Bila saya dapat meyakinkan Anda bahwa peraturan persepuluhan sudah tidak berlaku lagi pada era Perjanjian Baru, apakah yang akan Anda perbuat dengan uang Anda? Apakah Anda akan tetap mendukung pekerjaan Tuhan dengan memberikan persembahan yang terbaik? Atau Anda akan mempergunakannya sesuka hati Anda tanpa peduli pada pekerjaan Tuhan?

Bila Anda akan tetap memberikan persembahan yang terbaik bagi pekerjaan Tuhan, bukankah itu berarti bahwa berlaku atau tidak berlakunya peraturan persepuluhan tidak lagi menjadi persoalan yang signifikan bagi anda? Namun, bila ketidakberlakuan persepuluhan membuat Anda mempergunakan uang Anda sesuka hati tanpa mempedulikan pekerjaan Tuhan, bagaimana mungkin Anda dapat mengaku sebagai orang Kristen sejati yang telah mengenal kebenaran Injil dan mengalami kebesaran anugerah Allah dalam hidup anda? Bagaimana mungkin Anda dapat mengaku bahwa Anda telah bertobat dan menjadi murid Kristus bila Anda masih sedemikian terikat pada harta duniawi? Tidak tahukah Anda bahwa untuk menjadi murid Kristus, Anda harus melepaskan diri dari segala milik Anda (Luk 14:33)?

Karena itu, persoalan utama dalam hal memberi persembahan bukanlah apakah peraturan persepuluhan masih berlaku atau sudah dibatalkan, melainkan bagaimana pengenalan seseorang akan kebenaran Injil dan kebesaran anugerah Allah dalam hidupnya. Orang percaya sejati, yaitu dia yang sungguh-sungguh telah mengenal kebenaran Injil dan menyadari kebesaran anugerah Allah dalam hidupnya, akan tetap memberi dengan penuh sukacita dan tanggung jawab, tak peduli apakah ia percaya bahwa peraturan persepuluhan masih berlaku atau sudah dibatalkan. Sebaliknya, seseorang yang pada dasarnya tidak peduli pada Allah tak akan mau memberi persembahan sekalipun ia diajar bahwa peraturan persepuluhan masih berlaku. Ia tak akan terusik dengan ancaman-ancaman apapun yang diberikan. Atau, apabila hati nuraninya masih bekerja sedikit lebih baik, ia mungkin akan memberi persepuluhan, tetapi hal itu semata-mata dilakukannya karena rasa takut dan keterpaksaan. Pertanyaannya, apakah memberi persembahan dengan motivasi seperti itu diperkenan di hadapan Allah?

Memberikan persembahan yang terbaik jelas merupakan suatu “keharusan” bagi orang percaya sejati. Akan tetapi, itu bukanlah keharusan yang dipaksakan dari luar, dengan ancaman kutuk atau iming-iming kemakmuran jasmani, melainkan keharusan yang timbul dari dalam, sebagai buah dari hati yang telah diperbaharui oleh pengenalan akan kebenaran Injil. Yang pertama dilakukan atas dasar keterpaksaan dan ketakutan, yang terakhir dilakukan atas dasar kerelaan dan sukacita. Yang pertama dilakukan dengan motivasi memperoleh keuntungan pribadi secara jasmani, yang terakhir dilakukan dengan motivasi memuliakan Allah. Itulah sebabnya, daripada mengintimidasi Anda dengan dosa “mencuri atau merampok milik Tuhan” — dan Anda akan berdalih bahwa dosa itu telah ditebus oleh Kristus —, saya memilih untuk mengingatkan dan menyadarkan Anda kembali akan kebenaran Injil dan implikasinya berkenaan dengan harta kekayaan yang Anda miliki.

Ingatkah Anda pada pengakuan iman yang Anda ucapkan saat Anda baru bertobat? Bukankah saat itu Anda mengaku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan juruselamat anda? Dan kemudian, setelah Anda mengucapkan pengakuan iman itu, bukankah Anda disambut sebagai anggota tubuh Kristus dan anggota keluarga Allah? Sudahkah Anda memahami makna semuanya itu?

Semua orang Kristen mengaku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan juruselamat mereka. Mereka juga percaya bahwa mereka adalah satu tubuh dan satu keluarga di dalam Kristus. Sayangnya, tidak semua orang Kristen sungguh-sungguh memahami makna dari kebenaran-kebenaran itu dan implikasinya bagi hidup mereka. Tak mengherankan bila berbagai persoalan timbul di dalam gereja, dan salah satu di antaranya adalah soal harta. Karena itu, menjadi tanggung jawab setiap hamba Tuhan untuk menjelaskan makna kebenaran Injil itu dan implikasinya bagi kehidupan orang percaya, termasuk dalam hal kekayaan.

1. Yesus Kristus adalah Tuhan.

Berkenaan dengan kebenaran ini, kita perlu memahami bahwa dalam kematian-Nya Yesus Kristus tidak hanya membayar hutang dosa kita, tetapi Dia juga membeli seluruh hidup kita dengan harga yang lunas dibayar (1Kor 6:20; 7:23). Dengan demikian, baik hidup kita maupun segala sesuatu yang ada pada kita, semuanya adalah kepunyaan-Nya. Dialah pemilik dan penguasa yang berdaulat mutlak atas seluruh hidup kita, sedangkan kita hanyalah hamba yang bertanggung jawab mengelola dan mempergunakan segala sumber daya itu seturut kehendak-Nya dan bagi kemuliaan-Nya. Kebenaran itulah yang harus senantiasa kita ingat ketika kita menyebut Yesus Kristus sebagai Tuhan.

Berkenaan dengan harta kekayaan, kebenaran ini memberikan sebuah prinsip yang tegas, bahwa seluruh harta yang ada pada kita — bukan hanya sepersepuluhnya saja — adalah milik Tuhan, sedangkan kita hanyalah penatalayan yang bertanggung jawab mengelola dan mempergunakan semua harta itu seturut kehendak-Nya. Bila kita sungguh-sungguh percaya dan menerima prinsip ini, sikap kita terhadap harta akan berbeda.

  • Kita tidak akan mempergunakan sepeserpun dari uang kita secara sembarangan sesuka hati kita seolah-olah uang itu adalah milik kita sendiri. Sebaliknya, kita akan sangat berhati-hati dalam mempergunakannya. Kita akan selalu mempertimbangkan dan bertanya: “Apakah yang Allah kehendaki berkenaan dengan seluruh harta ini? Bagaimana aku harus mempergunakannya? Berapa banyak yang boleh aku pakai untuk memenuhi kebutuhan pribadiku? Berapa banyak yang boleh aku simpan sebagai tabungan? Ke mana aku harus memberikan uang ini untuk mendukung pekerjaan Tuhan?”
  • Kita tidak akan membeli suatu barang hanya karena kita menginginkan dan menyukainya. Sebaliknya, kita akan selalu bertanya: “Apakah barang ini benar-benar aku perlukan? Apakah barang ini akan membuatku lebih memuliakan Tuhan atau justru menjauhkan aku daripada-Nya?” Kesederhanaan akan selalu menjadi gaya hidup yang kita kejar.
  • Kita tidak akan merasa berat dan terpaksa dalam memberi persembahan. Sebaliknya, kita akan dapat dengan mudah dan penuh kerelaan memberikan harta itu untuk mendukung pekerjaan Tuhan.

Jadi bagaimana? Sudahkah Anda menyadari identitas Anda sebagai penatalayan? Sudahkah Anda mengelola harta kekayaan yang Allah percayakan kepada Anda secara bertanggung jawab? Ingatlah bahwa kelak, ketika sang pemilik itu datang kembali, kita harus memberikan pertanggungjawaban atas pengelolaan seluruh harta itu (Mat 25:19-21; Rom 14:12). Manusia tidak dapat menghakimi Anda, tetapi Allah berkuasa melakukannya!

2. Yesus Kristus adalah juruselamat.

Berkenaan dengan kebenaran ini, kita perlu memahami bahwa karya penebusan Kristus tidak hanya membebaskan kita dari murka dan hukuman Allah yang akan datang, tetapi juga dari dunia jahat yang sekarang ini (Gal 1:4). Dengan demikian Dia memberikan identitas dan arah baru bagi hidup kita, di mana kewargaan kita bukan lagi di dalam dunia ini, melainkan di dalam sorga (Flp 3:20). Keberadaan kita di dunia ini hanyalah sementara, karena dunia ini bukanlah tujuan akhir kita. Sebaliknya, tujuan akhir kita adalah kehidupan kekal di dalam sorga. Ke sanalah kita melangkah dan mengarahkan pandang kita.

Berkenaan dengan harta kekayaan, kebenaran ini memberikan sebuah implikasi yang jelas, bahwa kekayaan sejati orang-orang percaya tidaklah berada di dunia ini, melainkan di dalam sorga. Harta dunia ini hanya bersifat sementara dan akan segera lenyap. Namun, harta sorgawi itu bersifat kekal. Bila kita sungguh-sungguh menyadari kebenaran ini, sikap kita terhadap harta pun akan berubah.

  • Kita tidak akan lagi terikat pada harta benda duniawi. Sebaliknya, kita akan selalu siap dan rela melepaskannya bila hal itu diperlukan untuk menggenapi kehendak Tuhan atas hidup kita (Mat 13:44-46; Luk 14:33).
  • Kita tidak akan berusaha menumpuk harta di dunia ini untuk memperkaya diri sendiri. Sebaliknya, kita akan berusaha mempergunakannya sedemikian rupa untuk memenuhi kehendak Allah, sehingga kita dapat memperoleh upah berlimpah di sorga (Mat 6:19-20). Kita bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri, tetapi juga untuk menolong orang yang berkekurangan (Ef 4:28).

Ingatlah, Anda tak akan dapat membawa harta kekayaan dunia ini ke dalam sorga. Mata uang sorga sama sekali berbeda dengan mata uang dunia ini dan di sana tak ada money changer. Namun, ada banyak money changer di dunia ini. Karena itu, selagi Anda masih berada di dunia ini, segera tukarkanlah harta duniawi Anda dengan harta sorgawi!

3. Kita adalah satu tubuh dan satu keluarga di dalam Kristus.

Sejak kita percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat kita, kita tergabung menjadi satu tubuh dan satu keluarga di dalam Kristus (Rom 12:5; Ef 2:19). Kita pun memiliki jalinan hubungan yang erat seorang akan yang lain. Sebagaimana setiap anggota tubuh saling melengkapi dan saling mendukung satu sama lain, demikian pula kita harus saling melengkapi dan saling mendukung satu sama lain dengan karunia kita masing-masing. Sebagaimana setiap anggota keluarga saling mengasihi dan saling memperhatikan, demikian pula kita harus saling mengasihi dan memperhatikan seorang akan yang lain. Dengan demikian keseimbangan pun dapat terjadi di dalam gereja Tuhan.

Kebenaran inilah yang menjadi salah satu dasar penyelenggaraan persembahan di dalam gereja Tuhan. Persembahan itu diselenggarakan dengan tujuan menjaga keseimbangan di dalam gereja Tuhan, sehingga pekerjaan Tuhan pun dapat terus berlangsung dengan baik (2Kor 8:13-15).

  • Gereja memiliki tanggung jawab untuk menghidupi para pemberita firman Tuhan (1Kor 9:9-14). Bila para pemberita firman itu telah berjerih lelah menyediakan makanan rohani bagi jemaat Tuhan, maka menjadi tanggung jawab jemaat Tuhan untuk menyediakan makanan jasmani bagi mereka. Dengan demikian ada keseimbangan di dalam gereja Tuhan.
  • Gereja memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan dan memelihara anggota-anggota jemaat yang hidup dalam kekurangan. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa kekurangan yang dimaksud bukanlah kekurangan yang disebabkan oleh kemalasan, keborosan, atau gaya hidup berdosa lainnya. Kekurangan yang dimaksudkan di sini adalah kekurangan yang sungguh-sungguh disebabkan oleh suatu kondisi yang tak dapat dihindari seperti bencana, kelemahan fisik, atau usia lanjut yang menyebabkannya tak mampu bekerja atau memperoleh penghasilan yang cukup bagi biaya hidupnya. Adalah tanggung jawab gereja untuk memperhatikan anggota-anggota jemaat yang berkekurangan seperti itu agar ada keseimbangan. Itulah sebabnya persembahan dijalankan, agar mereka yang berpenghasilan lebih dapat menyokong mereka yang berkekurangan.

Karena itu, bila Anda mengaku telah menjadi anggota tubuh Kristus dan anggota keluarga Allah, maka Anda juga bertanggung jawab memberikan persembahan yang terbaik untuk menyokong kehidupan para hamba Tuhan dan anggota-anggota jemaat yang berkekurangan, sehingga keberlangsungan gereja dan pelaksanaan pekerjaan Tuhan dapat terus berjalan. Ingatlah, Anda tak dapat mengaku mengasihi Kristus bila Anda tak mempedulikan hamba-hamba-Nya. Anda juga tak dapat mengaku mengasihi Allah bila Anda mengabaikan anak-anak-Nya.

Akhirnya, tak peduli apakah peraturan persepuluhan masih berlaku atau sudah dibatalkan, setiap orang percaya memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan mempergunakan hartanya secara bijak dan bertanggung jawab. Orang percaya sejati yang sungguh-sungguh telah mengenal kebenaran Injil dan mengalami kebesaran anugerah Allah dalam hidupnya tak akan bertanya: “Berapakah standar minimal persembahan yang harus kuberikan kepada Allah?” Sebaliknya, ia akan bertanya: “Bagaimana caranya agar aku dapat memberi persembahan lebih banyak daripada yang telah kuberikan selama ini agar berita anugerah itu dapat disebarluaskan kepada lebih banyak orang?”

Kiranya Allah melimpahkan hikmat dan kemurahan-Nya kepada kita, sehingga kita dapat mengelola harta yang Dia percayakan dengan bijaksana dan memberi dengan murah hati bagi kemuliaan-Nya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.