Blog Pribadi Paulus Roi

Berbagi hidup dan pemikiran bagi kemuliaan Allah

Kehidupan dan Pelayanan Matthew Henry

Biografi Matthew HenryMatthew Henry lahir pada tahun 1662 di Inggris. Ketika itu gereja Anglikan menjalin hubungan baik dengan gereja Roma Katolik. Yang memerintah pada masa itu adalah Raja Karel II, yang secara resmi diangkat sebagai kepala gereja. Raja Karel II ingin memulihkan kekuasaan gereja Anglikan sehingga orang Kristen Protestan lainnya sangat dianiaya. Mereka disebut dissenter, orang yang memisahkan diri dari gereja resmi. Puncak penganiayaan itu terjadi ketika pada 24 Agustus 1662 lebih dari dua ribu pendeta gereja Presbiterian dilarang berkhotbah lagi. Mereka dipecat dan jabatan mereka dianggap tidak sah.

Pada masa yang sulit itu lahirlah Matthew Henry. Ayahnya, Philip Henry, adalah seorang pendeta dari golongan Puritan, sedangkan ibunya, Katherine Matthewes, seorang keturunan bangsawan. Karena Katherine berasal dari keluarga kaya, sepanjang hidupnya Philip Henry tak perlu memikirkan uang atau bersusah payah mencari nafkah bagi keluarganya, sehingga ia dapat dengan sepenuh hati mengabdikan diri untuk pelayanannya sebagai hamba Tuhan. Matthew adalah anak kedua. Kakaknya, John, meninggal pada usia 6 tahun karena penyakit campak. Ketika masih balita, Matthew sendiri juga terserang penyakit itu dan nyaris direnggut maut.

Dari kecilnya Matthew sudah tampak memiliki bermacam-macam bakat, sangat cerdas, dan pintar. Tetapi yang lebih penting lagi, sejak kecil ia sudah mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan mengakui-Nya sebagai Juruselamatnya. Usianya baru tiga tahun ketika ia sudah mampu membaca satu pasal dari Alkitab lalu memberikan keterangan dan pesan tentang apa yang dibacanya. Selain itu, sejak masa kecilnya Matthew sudah diajarkan bahasa Ibrani, Yunani, dan Latin oleh ayahnya, sehingga walaupun masih sangat muda, ia sudah pandai membaca Alkitab dalam bahasa aslinya. Dengan demikian Matthew sudah menyiapkan diri untuk tugasnya di kemudian hari, yaitu tugas pelayanan sebagai pendeta.

Pada tahun 1685, ketika berusia 23 tahun, Matthew pindah ke London, ibu kota Inggris, untuk belajar hukum di Universitas London. Matthew tidak berniat untuk menjadi ahli hukum, ia hanya menuruti saran ayahnya dan orang lain yang berpendapat bahwa studi itu akan memberikan manfaat besar baginya karena keadaan di Inggris pada masa itu tidak menentu bagi orang Kristen, khususnya kaum Puritan.

Beberapa tahun kemudian Matthew kembali ke kampung halamannya. Dalam hatinya ia merasa terpanggil menjadi pendeta. Kemudian, ia diperbolehkan berkhotbah kepada beberapa jemaat di sekitar Broad Oak. Ia menyampaikan Firman Tuhan dengan penuh kuasa. Tidak lama setelah itu, ia dipanggil oleh dua jemaat, satu di London dan satu lagi jemaat kecil di wilayah pedalaman, yaitu Chester. Setelah berdoa dengan tekun dan meminta petunjuk Tuhan, ia akhirnya memilih jemaat Chester, dan pada tanggal 9 Mei 1687 ia diteguhkan sebagai pendeta di jemaat tersebut. Waktu itu Matthew berusia 25 tahun.

Di Chester, Matthew Henry bertemu dengan Katharine Hardware. Mereka menikah pada tanggal 19 Juli 1687. Pernikahan itu sangat harmonis dan baik karena didasarkan atas cinta dan iman kepada Tuhan. Namun pernikahan itu hanya berlangsung selama satu setengah tahun. Katharine yang sedang hamil terkena penyakit cacar. Segera setelah melahirkan seorang anak perempuan, ia meninggal pada usia 25 tahun. Matthew sangat terpukul oleh dukacita ini. Anak Matthew dan Katherine dibaptis oleh kakeknya, yaitu Pendeta Philip, ayah Matthew.

Allah menguatkan Matthew dalam dukacita yang melandanya. Setelah satu tahun lebih telah berlalu, mertuanya menganjurkannya untuk menikah lagi. Pada Juli 1690, Matthew menikah dengan Mary Warburton. Tahun berikutnya, mereka diberkati dengan seorang bayi, yang diberi nama Elisabeth. Namun, saat baru berumur satu setengah tahun, ia meninggal karena demam tinggi dan penyakit batuk rejan. Setahun kemudian mereka mendapat seorang anak perempuan lagi. Dan bayi ini pun meninggal, tiga minggu kemudian. Betapa berat dan pedih penderitaan orangtuanya. Sesudah peristiwa ini, Matthew memeriksa diri dengan sangat teliti apakah ada dosa dalam hidup atau hatinya yang menyebabkan kematian anak-anaknya. Ia mengakhiri catatannya sebagai berikut, “Ingatlah bahwa anak-anak itu diambil dari dunia yang jahat dan dibawa ke sorga. Mereka tidak lahir percuma dan sekarang mereka telah boleh menghuni kota Yerusalem yang di sorga.”

Beberapa waktu kemudian mereka mendapat seorang anak perempuan yang bertahan hidup. Demikianlah suka dan duka silih berganti dalam kehidupan Matthew Henry. Secara keseluruhan, Matthew Henry mendapat 10 anak, termasuk seorang putri dari pernikahan pertama.

Selama 25 tahun Matthew Henry melayani jemaatnya di Chester. Ia sering mendapat panggilan dari jemaat-jemaat di London untuk melayani di sana, tetapi berulang kali ia menolak panggilan tersebut karena merasa terlalu terikat kepada jemaat di Chester. Namun akhirnya, ia yakin bahwa Allah sendiri telah memanggilnya untuk menjadi hamba Tuhan di London, dan karena itu ia menyerah kepada kehendak Allah.

Pada akhir hidupnya, Matthew Henry terkena penyakit diabetes, sehingga sering merasa letih dan lemah. Sejak masa muda, ia bekerja dari pagi buta sampai larut malam, tetapi menjelang akhir hayatnya ia tidak mampu lagi. Ia sering mengeluh karena kesehatannya yang semakin menurun.

Pada bulan Juni 1714 ia berkhotbah satu kali lagi di Chester, tempat pelayanannya yang dulu. Ia berkhotbah tentang Ibrani 4:9, “Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.” Ia seolah-olah menyadari bahwa hari Minggu itu merupakan hari Minggu terakhir baginya di dunia ini. Secara khusus ia menekankan hal perhentian di sorga supaya anak-anak Allah dapat menikmati kebersamaan dengan Tuhan.

Sekembalinya ke London, ia merasa kurang sehat. Malam itu ia sulit tidur dan menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Ia dipenuhi rasa damai dan menulis pesan terakhirnya: “Kehidupan orang yang mengabdikan diri bagi pelayanan Tuhan merupakan hidup yang paling menyenangkan dan penuh penghiburan.” Ia mengembuskan nafas terakhir pada tanggal 22 Juni 1714, dan dimakamkan tiga hari kemudian di Chester. Nas dalam kebaktian pemakamannya diambil dari Matius 25:21, “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Sumber: “Tafsiran Matthew Henry” yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Momentum

(Artikel ini telah dibaca 968 kali)

Tinggalkan Balasan

Copyright © Blog Pribadi Paulus Roi. All rights reserved.