Blog Pribadi Paulus Roi

Berbagi hidup dan pemikiran bagi kemuliaan Allah

Kehinaan dan Kemuliaan Manusia

Citra Diri ManusiaAda sebagian orang yang menilai diri mereka begitu tinggi. Mereka memposisikan diri mereka sebagai “allah”. Mereka merasa berkuasa atas diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka bersikap seolah-olah mereka tidak membutuhkan Allah.

Di sisi lain, ada sebagian orang yang menilai diri mereka begitu rendah. Mereka merasa kecil, hina, tak berharga, dan tak berguna. Mereka bersikap seolah-olah mereka tidak memiliki kelebihan apapun.

Manakah di antara kedua sikap itu yang seharusnya kita miliki? Bagaimanakah pandangan Alkitab tentang manusia?

Manusia adalah makhluk ciptaan. Sebagai makhluk ciptaan, kita bergantung sepenuhnya pada pencipta kita. Dialah yang memberikan nafas hidup kepada kita (Kej 2:7) dan berkuasa atas hidup kita. Karena itu, adalah sebuah kekeliruan besar bila ada orang yang merasa tidak membutuhkan Allah dan menganggap dirinya berkuasa atas segala sesuatu.

Manusia diciptakan dari debu tanah (Kej 2:7). Allah memilih menciptakan manusia dari sesuatu yang sederhana dan tak bernilai. Hal ini seharusnya mengingatkan kita akan segala ketidaklayakan kita di hadapan Allah dan membuat kita senantiasa rendah hati di hadapan-Nya. Abraham adalah salah satu teladan kita dalam hal ini. Sekalipun ia memiliki hubungan yang karib dengan Allah, ia menyadari ketidaklayakannya di hadapan Allah. Dalam Kejadian 18:27 ia berkata:

Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.

Kita hanyalah makhluk ciptaan yang terbuat dari debu dan abu. Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa menyadari ketidaklayakan kita di hadapan Allah dan kebergantungan kita kepada-Nya atas setiap tarikan nafas kita.

Di sisi lain, manusia adalah ciptaan Allah yang unik, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:27). Sebagai gambar dan rupa Allah, kita memiliki kemuliaan yang tidak dimiliki oleh ciptaan lainnya. Kita memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dari pada segala ciptaan lainnya. Dalam Matius 6:26 Yesus berkata:

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

Kita jauh lebih berharga dari pada tumbuh-tumbuhan, binatang, dan segala ciptaan lainnya. Allah telah memberi kita nilai dan kemuliaan yang tak dimiliki oleh ciptaan lainnya. Lebih dari pada itu, Allah juga memberi kita kuasa atas segala ciptaan lainnya (Kej 1:28). Dia menempatkan kita pada posisi yang lebih tinggi dari pada ciptaan lainnya. Sungguh besar kasih Allah pada kita, sehingga Ia menjadikan kita istimewa di hadapan-Nya. Karena itu, kita patut mengucap syukur kepada Allah atas segala kemuliaan yang telah Ia anugerahkan kepada kita.

Akan tetapi, keadaan manusia saat ini telah jauh berbeda dengan keadaannya yang semula saat baru diciptakan. Manusia telah jatuh dalam dosa dan mengalami kerusakan total. Roma 3:23 mengatakan: “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Dosa telah merusakkan gambar dan rupa Allah yang ada dalam diri kita. Sebagai manusia berdosa, kita sama sekali tidak layak di hadapan Allah.

Walaupun demikian, Allah begitu mengasihi kita. Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dalam dunia untuk menanggung segala dosa kita yang percaya kepada-Nya. Melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib segala dosa kita diampuni dan hubungan kita dengan Allah kembali dipulihkan. Di dalam Kristus kita bukan lagi orang berdosa yang dimurkai, melainkan orang benar yang diberkati. Dan pada puncaknya kelak kita akan dimuliakan bersama dengan Kristus (Rom 8:17). Semua ini sekali lagi menunjukkan betapa besarnya kasih Allah pada kita, sehingga Ia rela mengorbankan Putra-Nya yang Tunggal demi memulihkan keadaan kita.

Jadi, pada dasarnya kita adalah makhluk yang lemah dan hina, tetapi Allah menjadikan kita mulia dan istimewa. Pada dasarnya kita adalah orang berdosa yang layak menerima murka dan hukuman Allah, tetapi di dalam Kristus Allah telah membenarkan dan menjadikan kita ahli waris kerajaan-Nya. Raja Daud sangat memahami kebenaran ini. Dalam Mazmur 8:4-6 ia berkata:

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

Kita yang rendah dan hina telah dijadikan mulia dan berharga. Kita menjadi makhluk yang mulia karena Allah telah menganugerahkan kemuliaan itu kepada kita. Karena itu, seperti raja Daud, marilah kita senantiasa mengucap syukur kepada Allah dalam kerendahan hati di hadapan-Nya. Segala kemuliaan hanya bagi Allah sampai selama-lamanya! Amin.

(Artikel ini telah dibaca 1219 kali)

Tinggalkan Balasan

Copyright © Blog Pribadi Paulus Roi. All rights reserved.