Blog Pribadi Paulus Roi

Berbagi hidup dan pemikiran bagi kemuliaan Allah

Kekuatiran: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Penyebab dan Cara Mengatasi KekuatiranAda banyak hal dalam dunia ini yang dapat membuat kita merasa kuatir. Berbagai hal negatif, seperti bencana alam, wabah penyakit, krisis ekonomi berkepanjangan, dan tindakan-tindakan kriminal, semuanya berpotensi mengancam kenyamanan hidup kita. Kita menyadari semua itu dan mulai berusaha mengantisipasinya. Kita mengerahkan seluruh pikiran dan tenaga kita untuk mengupayakan kehidupan yang nyaman di dunia ini.

Akan tetapi, setelah segala upaya yang kita lakukan, apa yang terjadi? Kita tetap merasa kuatir! Bagaimanapun kita berupaya mengantisipasi hal-hal buruk itu, kekuatiran tetap muncul dalam hati kita. Kita mendapati bahwa semakin kita berusaha menyingkirkan kekuatiran itu, kekuatiran itu justru lebih dekat menghampiri kita.

Sekarang coba renungkan, sebenarnya dari manakah kekuatiran itu datang? Dari luar atau dari dalam diri kita sendiri?

Kita seringkali mengira bahwa kekuatiran itu datang dari luar diri kita. Kita mengira bahwa keadaan buruk di sekitar kitalah yang membuat kita merasa kuatir. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Kekuatiran itu bukan datang dari luar diri kita, melainkan dari dalam diri kita sendiri. Masalahnya bukan terletak pada keadaan buruk yang terjadi di sekitar kita, melainkan pada sikap hati dan pola pikir kita yang keliru.

Kekuatiran timbul dalam diri kita karena hati dan pikiran kita begitu terfokus pada hal-hal yang bersifat sementara. Ketika hati dan pikiran kita begitu terfokus pada harta kekayaan yang kita miliki, kita menjadi kuatir kalau-kalau harta kekayaan itu hilang, rusak, atau dicuri orang. Ketika hati dan pikiran kita begitu terfokus pada kebahagiaan dan kenyamanan hidup di dunia ini, kita menjadi kuatir kalau-kalau bencana alam, wabah penyakit, dan berbagai peristiwa buruk lainnya menimpa kita. Ketika hati dan pikiran kita begitu terfokus pada orang-orang tertentu, suami, isteri, anak, kekasih, atau sahabat kita, kita menjadi kuatir kalau-kalau mereka pergi meninggalkan kita. Singkatnya, ketika hati dan pikiran kita begitu terfokus pada hal-hal yang bersifat sementara, kekuatiran akan selalu muncul dalam diri kita.

Yesus sangat memahami kenyataan ini. Itulah sebabnya, ketika Ia mengajar murid-murid-Nya agar jangan kuatir, Ia juga mengajar mereka agar mengarahkan fokus mereka pada hal-hal yang bersifat kekal. Dalam Matius 6:19-20, sebelum mengajar murid-murid-Nya agar jangan kuatir, Yesus berkata:

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

Kemudian, setelah mengajar dan memberikan beberapa alasan mengapa murid-murid-Nya tidak boleh kuatir, dalam Matius 6:33 Yesus menutup pengajaran-Nya itu dengan berkata:

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Yesus tidak ingin kita begitu terfokus pada hal-hal duniawi yang bersifat sementara dan menjadi kuatir karenanya. Sebaliknya, Ia ingin kita mengarahkan fokus kita pada hal-hal sorgawi yang bersifat kekal. Ia ingin kita mengarahkan fokus kita pada Allah dan karya-Nya atas kita, pada karakter Allah dan kehendak-Nya atas kita. Itulah satu-satunya cara untuk menyingkirkan kekuatiran dari dalam diri kita dan mengalami sukacita sejati. Sebelum kita dapat mengarahkan fokus kita pada Allah, kita tidak akan pernah berhasil menyingkirkan kekuatiran dari dalam diri kita.

Jadi, bila hari ini anda merasa kuatir, anda perlu bertanya pada diri anda sendiri: “Sudahkah hati dan pikiran saya terfokus pada Allah?” Ingatlah, anda tidak akan pernah berhasil menyingkirkan kekuatiran dari dalam diri anda sebelum anda berhasil mengarahkan fokus anda pada Allah.

(Artikel ini telah dibaca 1407 kali)

Tinggalkan Balasan

Copyright © Blog Pribadi Paulus Roi. All rights reserved.