Blog Pribadi Paulus Roi

Berbagi hidup dan pemikiran bagi kemuliaan Allah

Kesia-siaan Segala Sesuatu

Kesia-siaan Segala Sesuatu dalam Kitab Pengkotbah“Segala sesuatu adalah sia-sia.” Itulah kesimpulan Pengkhotbah setelah ia mengeksplorasi berbagai cara yang ditempuh manusia untuk memuaskan hatinya dan menemukan makna hidupnya di dunia ini. Perkataan Pengkhotbah itu terdapat pada awal dan akhir kitab Pengkhotbah, yaitu pada 1:2 dan 12:8. Selain itu, dalam kitab ini kata “sia-sia” dan “kesia-siaan” muncul berulang kali. Hal itu menunjukkan maksud utama penulisan kitab ini, di mana Pengkotbah hendak menekankan kesementaraan dan ketidakberartian segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Banyak orang berusaha mencari kepuasan dan makna hidupnya dengan kesenangan. Pengkotbah pun ingin mengetahui apakah hal itu dapat memuaskan hatinya. Ia pun melakukan segala hal yang oleh banyak orang dipandang sebagai kesenangan, seperti minum anggur, membangun rumah-rumah dan taman-taman, membeli banyak budak dan ternak, mengumpulkan segala harta benda yang indah, serta memiliki banyak gundik (Pkh 2:3-10). Namun, benarkah semua itu dapat memuaskan hatinya? Sama sekali tidak. Demikianlah kesimpulan yang didapatkannya:

Aku berkata dalam hati: “Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itupun sia-sia.” (Pkh 2:1)

Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari. (Pkh 2:11)

Jadi, mencari kesenangan hanyalah kesia-siaan belaka. Tak ada satu halpun di dunia ini yang dapat benar-benar menyenangkan dan memuaskan hati kita.

Bagaimana dengan kekayaan? Bukankah banyak orang berusaha mencari kepuasan dan makna hidupnya dengan kekayaan? Pengkhotbah telah mengamati hal itu (Pkh 5:9 – 6:2). Dia pun berkata:

Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? (Pkh 5:9-10)

Memiliki kekayaan pun hanyalah kesia-siaan belaka. Uang tak akan dapat memuaskan hati kita. Sebaliknya, mengejar uang justru akan mendatangkan berbagai kesukaran pada kita. Rasul Paulus pun telah mengingatkan kita akan bahaya cinta uang dalam 1 Timotius 6:10:

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Kitab Pengkhotbah ditulis oleh Salomo yang memiliki segala hikmat dan pengetahuan. Bagaimana pendapatnya mengenai hikmat dan pengetahuan? Dapatkah hikmat dan pengetahuan memberikan kepuasan dan makna hidup kepadanya?

Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari bahwa hal inipun adalah usaha menjaring angin, karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan. (Pkh 1:17-18)

Ternyata mengejar hikmat dan pengetahuan juga adalah kesia-siaan. Hikmat dan pengetahuan tak dapat memberikan kepuasan dalam hati kita.

Bagaimana dengan segala pekerjaan yang dilakukan manusia di dunia ini? Pengkhotbah juga telah merenungkan hal itu. Dalam Pengkotbah 2:22-23 ia berkata:

Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.

Ternyata tak ada bedanya. Bekerja pun adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Seberapapun kerasnya kita bekerja, kepuasan hati tak kunjung kita dapatkan.

Sampai di sini mungkin ada yang bertanya: Bila mencari hikmat dan bekerja hanyalah kesia-siaan, apakah itu berarti kita tidak perlu mencari hikmat dan tidak perlu bekerja? Tidak! Jelas bukan demikian maksudnya. Allah menghendaki dan memerintahkan agar kita mencari hikmat. Misalnya, dalam Amsal 4:5 dikatakan:

Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku.

Selain itu, rasul Paulus juga menasihatkan agar umat Kristen bekerja. Dalam 2 Tesalonika 3:10 ia berkata:

Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Mencari hikmat dan bekerja harus kita lakukan. Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa semua itu tak akan dapat memberikan kepuasan sejati kepada kita. Bila kita berusaha mencari kepuasan dan makna hidup dengan mengejar hikmat dan bekerja, pada akhirnya kita akan kecewa.

Ada banyak cara lain lagi yang ditempuh manusia untuk menemukan kepuasan dan makna hidupnya. Namun, setelah Pengkotbah mengamati dan mencobanya sendiri, ternyata tak ada satupun cara yang berhasil. Itulah sebabnya ia berkesimpulan bahwa segala sesuatu hanyalah kesia-siaan belaka.

Tunggu! Benarkah segala sesuatu secara mutlak adalah kesia-siaan belaka? Benarkah sama sekali tak ada harapan bagi kita untuk menemukan makna hidup dan memperoleh kepuasan sejati?

Puji syukur kepada Allah! Itu bukanlah kesimpulan akhirnya. Ada sebuah kunci yang dapat mengubah segala kesia-siaan itu menjadi kebermaknaan. Inilah kesimpulan akhir yang diberikan Pengkotbah:

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. (Pkh 12:13-14)

Seluruh hidup kita akan bermakna bila kita menjalaninya dalam takut akan Allah. Segala sesuatu pun akan bermakna bila dikerjakan dan dipergunakan dalam ketundukan kepada Allah. Mengapa? Karena itulah ketetapan Allah bagi setiap orang.

Selain itu, kelak Allah akan menuntut pertanggungjawaban kita. Ia akan menghakimi segala perbuatan kita menurut keadilan dan kebenaran-Nya. Apakah gunanya kepuasan selama hidup yang singkat di dunia ini bila kelak kita menerima penghukuman kekal? Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa mengarahkan pandangan kita kepada kekekalan selama menjalani hidup di dunia ini. Penting pula bagi kita untuk memiliki juruselamat yang dapat menjamin keselamatan kekal kita. Bila tidak, kita akan terus-menerus dihinggapi ketakutan dan kekuatiran akan kematian.

Pertanyaannya, sudahkah anda memiliki juruselamat yang dapat menjamin keselamatan kekal anda? Bila belum, datanglah pada Yesus Kristus. Dia adalah satu-satunya juruselamat dunia. Hanya di dalam Dia sajalah ada jaminan keselamatan. Dia telah mengorbankan diri-Nya untuk menanggung segala hukuman dosa umat-Nya yang percaya. Karena itu, tak akan ada lagi hukuman bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Yesus Kristus], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. (Kis 4:12)

Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia. (Ibr 9:28)

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. (Rom 8:1)

Akhirnya, hanya di dalam Kristus sajalah ada kepuasan dan damai sejahtera yang sejati. Hanya di dalam Dia sajalah ada kehidupan yang bermakna. Dialah satu-satunya jawaban dari segala kesia-siaan hidup kita. Karena itu, marilah kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya dan menjadikan Dia pusat dari seluruh kehidupan kita. Biarlah nama-Nya dipermuliakan selama-lamanya! Amin.

(Artikel ini telah dibaca 3713 kali)

Tinggalkan Balasan

Copyright © Blog Pribadi Paulus Roi. All rights reserved.