Blog Pribadi Paulus Roi

Berbagi hidup dan pemikiran bagi kemuliaan Allah

Kualitas Jemaat Tesalonika

Dari Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu.

Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita. Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang. (1Tes 1:1-10)

Jemaat Tesalonika dirintis oleh rasul Paulus dalam perjalanan misinya yang kedua dalam waktu yang relatif singkat, yaitu kurang dari sebulan (bd. Kis 17:1-9). Hal itu terjadi karena adanya orang-orang Yahudi yang iri hati dan menindas mereka bersama dengan para penjahat dan preman-preman pasar. Karena itu, rasul Paulus terpaksa harus meninggalkan jemaat itu. Walau demikian, ternyata jemaat Tesalonika dapat bertumbuh menjadi jemaat yang cukup kuat dalam iman.

Surat 1 Tesalonika ditulis tak lama setelah rasul Paulus meninggalkan jemaat Tesalonika (sekitar 6 bulan), yaitu ketika ia berada di kota Korintus pada tahun 51 m. Ia sedemikian memikirkan nasib jemaat Tesalonika. Ia mengutus Timotius untuk menilik mereka. Surat ini ditulis sebagai tanggapan terhadap kabar yang dibawa Timotius mengenai kondisi jemaat itu. Melalui surat ini rasul Paulus hendak menyatakan kepuasannya atas mereka sekaligus mendorong mereka agar tetap kuat dalam iman mereka.

Kualitas Jemaat TesalonikaDalam 1 Tesalonika 1:2 rasul Paulus mengungkapkan kepuasan dan rasa syukurnya atas keberadaan jemaat Tesalonika. Setidaknya ada 3 hal yang dia syukuri dari jemaat itu, yaitu pekerjaan iman mereka, usaha kasih mereka, dan ketekunan pengharapan mereka kepada Tuhan Yesus Kristus (ay. 3). Frase “pekerjaan iman”, “usaha kasih”, dan “ketekunan pengharapan” itu menunjukkan bahwa iman, kasih, dan pengharapan jemaat Tesalonika bukanlah iman, kasih, dan pengharapan palsu, melainkan iman, kasih, dan pengharapan yang sungguh-sungguh nyata dan sejati. Kenyataan itu membuat Paulus yakin bahwa Allah telah memilih mereka (ay. 4).

1. Pekerjaan Iman

Sebagaimana diuraikan dalam Yakobus 2:14-26, iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong dan mati. Dengan kata lain, iman yang sejati adalah iman yang bekerja, iman yang diekspresikan melalui ketaatan kepada Allah, iman yang berbuahkan perbuatan-perbuatan baik. Konsep iman ini tidak hanya dipahami oleh Yakobus, tetapi juga oleh Paulus. Hal ini nampak dari frase “pekerjaan iman” yang digunakan Paulus di sini atau frase “ketaatan iman” yang digunakan Paulus dalam Roma 1:5. Karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa teologi Paulus dan teologi Yakobus saling bertentangan jelas merupakan pendapat yang keliru.

Paulus senantiasa mengingat pekerjaan iman jemaat Tesalonika. Artinya, iman jemaat Tesalonika bukanlah iman yang kosong atau mati. Sebaliknya, iman mereka sungguh-sungguh hidup dan nyata. Ada beberapa hal yang menunjukkan hal itu:

Pertama, kesejatian iman mereka ditunjukkan melalui sukacita dan kesediaan mereka menerima berita Injil di tengah-tengah penindasan berat yang mereka alami (ay. 6b). Bila seseorang berada dalam situasi yang aman dan kondusif, akan lebih mudah baginya untuk menerima kebenaran Injil secara sambil lalu dengan iman palsu. Namun, bila ia berada di tengah-tengah penindasan dan penganiayaan yang keras atas iman Kristen, tentulah ia perlu berpikir 2 kali untuk menerima kebenaran Injil, terlebih lagi bersukacita dalam kebenaran Injil. Hal itu hanya mungkin terjadi bila Roh Kudus sungguh-sungguh bekerja dalam hatinya dan menganugerahkan iman yang sejati kepadanya. Dan justru hal inilah yang dialami oleh jemaat Tesalonika. Sekalipun mereka harus mengalami penindasan dari orang-orang Yahudi, mereka tetap bersedia menerima kebenaran Injil dengan penuh sukacita.

Kedua, kesejatian iman mereka ditunjukkan melalui kehidupan mereka yang taat (ay. 6a). Iman mereka tidak hanya berupa persetujuan intelektual saja, tetapi lebih daripada itu, iman mereka terekspresi dalam ketundukan kepada Allah. Mereka telah mengikuti cara hidup Paulus dan juga cara hidup Kristus. Dengan kata lain, mereka menyatakan karakter Kristus melalui gaya hidup yang mereka jalani.

Ketiga, Kesejatian iman mereka ditunjukkan melalui teladan hidup yang mereka nyatakan di hadapan semua orang, sehingga kesaksian iman mereka dapat tersiar ke seluruh propinsi Makedonia, Akhaya, dan banyak tempat lainnya (ay. 7-8). Hidup mereka sedemikian bercahaya di depan semua orang, sehingga banyak orang memuliakan Allah (bd. Mat 5:16).

2. Usaha Kasih

Seperti halnya iman yang sejati adalah iman yang bekerja, demikian pula halnya kasih yang sejati adalah kasih yang berusaha. Kasih jelas bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Pasangan muda-mudi yang belum berpengalaman mungkin mengira kasih itu mudah, tetapi pasangan kakek-nenek yang telah menjalani hidup pernikahan lebih dari 50 tahun tahu secara pasti betapa sukarnya kasih itu. Kasih itu memerlukan usaha, perjuangan, dan kerja keras yang penuh pengorbanan.

Bila Paulus mengatakan bahwa ia mengingat usaha kasih jemaat Tesalonika, itu berarti kasih jemaat Tesalonika adalah kasih yang sungguh-sungguh nyata. Hal itu ditunjukkan melalui beberapa hal:

Pertama, kasih mereka ditunjukkan melalui pelayanan mereka terhadap Paulus selaku hamba Tuhan (ay. 9a). Mereka menyambut dan memperlakukan Paulus dengan baik. Di tengah-tengah penindasan yang terjadi mereka bisa saja membiarkan Paulus ditangkap dan ditindas agar mereka dapat selamat dari penindasan itu. Namun, mereka tidak berbuat demikian. Sebaliknya, mereka justru rela ditangkap demi melindungi Paulus (bd. Kis 17:5-10a).

Kedua, kasih mereka ditunjukkan melalui pertobatan mereka, di mana mereka berbalik dari berhala-berhala mereka dan menyerahkan diri mereka untuk melayani Allah (ay. 9b). Melepaskan dan meninggalkan penyembahan berhala yang telah menjadi tradisi mereka selama puluhan bahkan ratusan tahun jelas bukan hal yang mudah. Mereka mungkin harus menghadapi tekanan dan penolakan dari keluarga dan masyarakat. Mereka juga harus membuang patung-patung berhala mereka yang harganya tidak murah. Namun, mereka rela melakukan semuanya itu. Dan lebih daripada itu, mereka bersedia menyerahkan diri mereka untuk melayani Allah.

3. Ketekunan Pengharapan

Ketika rasul Paulus berbicara mengenai pengharapan orang percaya, yang dimaksud adalah pengharapan akan kemuliaan dan keselamatan penuh anak-anak Allah yang akan terjadi pada saat kedatangan Tuhan yang kedua kali (bd. Rom 8:17 dst). Setiap orang percaya sejati tentu senantiasa bergumul dengan dosa-dosanya. Di satu sisi dia benci terhadap dosa, tetapi di sisi lain dia seringkali jatuh dan berbuat dosa. Karena itu, dia senantiasa menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali, karena saat itulah keselamatan yang sepenuhnya akan dianugerahkan kepadanya dan dia akan dimuliakan bersama dengan Kristus.

Namun, mengharapkan kedatangan Kristus itu juga bukan hal mudah. Pertama, Alkitab tidak memberikan waktu yang pasti. Kedua, tekanan, aniaya, dan cemooh dari lingkungan sekitar bisa mengendurkan semangat dan kepercayaan kita. Karena itu, mereka yang tak sungguh-sungguh memiliki pengharapan yang kokoh akan janji Kristus tidak akan dapat bertahan menghadapi segala ketidakpastian dan cemoohan itu. Hanya mereka yang sungguh-sungguh memiliki pengharapan yang kokoh saja yang akan dapat bertahan dan bertekun menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali. Dan inilah yang terjadi dalam jemaat Tesalonika (ay. 10).

Demikianlah, sekalipun jemaat Tesalonika dirintis hanya dalam jangka waktu yang relatif singkat, mereka telah bertumbuh menjadi jemaat yang sedemikian kuat. Iman, kasih, dan pengharapan mereka sungguh-sungguh nyata dan nampak dalam seluruh kehidupan mereka. Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan kita? Sudahkah iman, kasih, dan pengharapan akan Allah nyata dan berbuah dalam kehidupan kita?

Marilah kita berjuang dengan tekun untuk menghasilkan buah bagi kemuliaan Allah seturut kebesaran kasih karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Amin.

(Artikel ini telah dibaca 2114 kali)

Tinggalkan Balasan

Copyright © Blog Pribadi Paulus Roi. All rights reserved.