Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Mengejar Hikmat

Hikmat merupakan sesuatu yang sangat kita perlukan untuk dapat menjalani kehidupan di dunia ini. Bila kita tidak memiliki hikmat, kita akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai konsep, pengajaran, dan gaya hidup dunia yang menyesatkan. Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa mengejar hikmat.

Ketika Salomo mendapat kesempatan untuk meminta sesuatu kepada Allah, ia menggunakan kesempatan itu untuk meminta hikmat. Ia tidak meminta umur panjang, kekayaan, atau kuasa, melainkan hikmat. Ia menyadari bahwa hikmat jauh lebih berharga daripada semuanya itu. Allah pun memujinya karena permintaannya itu (1Raj 3:5-14).

Hikmat jauh lebih berharga daripada segala kekayaan dunia ini. Hikmat dapat menghindarkan kita dari jalan yang jahat. Hikmat dapat memimpin kita kepada kehidupan yang berkenan di hadapan Allah.

Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu; kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat, dari mereka yang meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang gelap. (Amsal 2:10-13)

Lebih lanjut, Alkitab juga menyebut berbahagia orang-orang yang memiliki hikmat:

Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia. (Amsal 3:13-18)

Lalu, apakah yang dimaksud dengan hikmat? Bagaimana cara mendapatkannya?

Hikmat berbeda dengan pengetahuan. Untuk memiliki hikmat, tentu saja seseorang perlu memiliki pengetahuan. Akan tetapi, hikmat lebih daripada sekedar pengetahuan. Orang yang berhikmat mampu menggunakan pengetahuannya untuk menilai segala sesuatu secara benar. Dia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dia mampu menerapkan pengetahuannya dalam setiap aspek kehidupannya. Dia mampu mengambil jalan terbaik dalam setiap masalah yang dihadapinya.

Ada dua macam hikmat, yaitu hikmat sejati yang berasal dari Allah dan hikmat palsu yang berasal dari dunia ini. Hikmat sejati yang berasal dari Allah akan selalu menghasilkan buah yang baik. Hikmat itu akan selalu mewujudkan dirinya dalam sikap dan cara hidup yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. (Yakobus 3:17)

Sebaliknya, hikmat palsu yang berasal dari dunia, yaitu hikmat yang bersumber dari ego manusia, akan selalu menghasilkan dosa, perselisihan, dan perpecahan. Hikmat itu akan mewujudkan dirinya dalam berbagai bentuk kesombongan, iri hati, sikap mementingkan diri sendiri, dan segala macam kejahatan.

Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. (Yakobus 3:14-16)

Hikmat yang benar bersumber dari pengenalan dan sikap hati yang takut akan Allah. Amsal 1:7 mengatakan:

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Ungkapan yang senada juga dikemukakan oleh Ayub:

Tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi. (Ayub 28:28)

Tanpa pengenalan dan sikap hati yang takut akan Allah, kita tak akan pernah dapat memiliki hikmat. Hikmat yang benar hanya dapat kita peroleh bila kita sungguh-sungguh mengenal Allah dan hidup dalam ketundukan penuh kepada-Nya. Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa mempelajari dan merenungkan firman Tuhan dengan tekun setiap hari. Firman Tuhan itulah yang akan memberikan hikmat kepada kita, sebagaimana dikatakan dalam Mazmur 19:8:

Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.

Selain itu, Tuhan juga berjanji bahwa Dia akan memberikan hikmat kepada mereka yang meminta dan mengejarnya. Bila kita berada dalam situasi yang sukar, di mana kita merasa kekurangan hikmat, kita dapat berseru kepada Tuhan dan berdoa memohon hikmat dari pada-Nya. Bila kita sungguh-sungguh mencari dan mengejar hikmat Tuhan dengan segenap hati, maka Tuhan berjanji bahwa Dia akan memberikan-Nya dengan murah hati kepada kita.

Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya. (Yakobus 1:5)

Ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. (Amsal 2:3-6)

Jadi, bagaimana sekarang? Maukah Anda memperoleh hikmat Tuhan yang nilainya jauh melebihi segala kekayaan dunia ini? Mintalah, carilah, dan kejarlah hikmat itu, maka Anda akan mendapatkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.