Blog Pribadi Paulus Roi

Berbagi hidup dan pemikiran bagi kemuliaan Allah

Pentingnya Komunitas Rohani

Pentingnya Komunitas RohaniAda sebagian orang yang merasa tidak memerlukan komunitas rohani. Mereka mengira mereka dapat bertumbuh sendiri. Lebih lagi, di zaman modern ini informasi dapat didapat dengan mudah. Bila mereka tak memahami suatu bagian Alkitab, mereka dapat mencari penjelasannya di Internet. Bila mereka ingin mendengar kotbah, mereka dapat menonton televisi atau mengakses Youtube. Bila mereka ingin memuji Tuhan, mereka dapat menyetel mp3 player. Singkatnya, mereka dapat mengikuti kebaktian dari mana saja dan kapan saja melalui kecanggihan teknologi.

Bila demikian, mengapa kita perlu memiliki suatu komunitas rohani? Mengapa kita perlu bersekutu dan membangun relasi yang baik dengan saudara-saudara seiman di dalam Kristus?

Setidaknya ada 3 alasan mengapa komunitas rohani itu penting:

  1. Alasan teologis: Karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang “berkomunitas” (Yoh 17:20-23).

Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. (Yoh 17:20-23)

Kita tidak menyembah Allah yang tunggal secara mutlak (absolute monotheism). Allah yang demikian tak memiliki kapasitas hubungan persekutuan yang saling mengasihi di dalam diri-Nya sendiri. Jauh sebelum segala sesuatu ada, Dia berada sendiri di dalam kekekalan. Ia tidak mengasihi siapapun dan tidak dikasihi oleh siapapun. Bagaimana Allah yang demikian dapat disebut sebagai sumber kasih?

Kita juga tidak menyembah banyak allah (polytheism). Allah-allah dalam pandangan agama-agama politeisme memiliki sifat, kehendak, dan tujuan yang berbeda-beda dan bahkan saling bertentangan satu sama lain. Karena itu, allah-allah itu sering berselisih dan bertengkar satu dengan lainnya. Bagaimana allah-allah seperti itu dapat menjadi teladan untuk hidup dalam kasih?

Allah yang kita sembah adalah Allah Tritunggal, satu Allah yang secara kekal menyatakan diri-Nya dalam 3 pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiga pribadi itu berbagian dalam satu hakikat keallahan yang sama. Karena itu, ketiga pribadi itu memiliki sifat, kehendak, rencana, dan tujuan yang sama. Tak ada perselisihan atau pertentangan di antara ketiga pribadi itu. Sebaliknya, sejak dari kekekalan ketiga pribadi itu ada dalam relasi yang saling mengasihi satu dengan yang lain. Dia adalah sumber kasih yang sejati. Kasih sudah ada di dalam diri-Nya dan sudah dikerjakan-Nya sejak dari kekekalan. Itulah sebabnya Dia menjadi dasar dan teladan utama kita untuk hidup berkomunitas dalam relasi yang saling mengasihi satu sama lain.

  1. Alasan antropologis: Karena kita dirancang dan dicipta sebagai makhluk sosial yang memerlukan komunitas (Kej 1:26-27; 2:18).

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kej 1:26-27)

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kej 2:18)

Kita dirancang dan dicipta menurut gambar Allah. Gambar Allah itu tidak hanya mengacu pada karakter Allah, tetapi juga mengacu pada persekutuan yang ada di antara ketiga pribadi Allah. Gambar Allah itu tidak hanya mengacu pada aspek akal dan moral saja, tetapi juga mengacu pada aspek relasi. Karena itu, ketika Allah berencana menciptakan manusia, Dia berkata: “Baiklah Kita…..” bukan “Baiklah Aku….” Dan kemudian Dia menjadikan manusia itu laki-laki dan perempuan agar manusia itu dapat berelasi, saling mengisi, saling melengkapi, dan saling mengasihi satu sama lain. Allah yang “berkomunitas” menjadikan manusia yang berkomunitas.

Lebih jauh, Allah mengatakan bahwa tidak baik bila manusia seorang diri saja. Perkataan Allah ini jelas mengacu pada sifat dasar manusia, di mana pada dasarnya manusia tidak dapat hidup seorang diri saja. Manusia dirancang dan dicipta sebagai makhluk sosial yang perlu berelasi dan berinteraksi dengan sesamanya dalam kesepadanan. Adam jelas telah memiliki kapasitas-kapasitas yang luar biasa di dalam dirinya. Namun, bagaimanapun juga dia tetap membutuhkan manusia lain untuk melengkapi dan menyempurnakan hidupnya, karena memang demikianlah rancangan Allah atas manusia. Karena itu, menolak berkomunitas sama dengan menolak menjadi manusia yang utuh sesuai dengan hakikatnya.

Kita tidak dapat hidup dan bertumbuh sendiri. Kita dicipta dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat saling mengisi dan saling melengkapi satu sama lain, di mana kelebihan kita menutupi kelemahan sesama kita dan kelebihan sesama kita menutupi kelemahan kita. Selain itu, kedewasaan karakter kita pun hanya dapat dibentuk dan dikembangkan melalui relasi dengan orang lain. Dalam relasi dengan orang lain kita belajar untuk menerima perbedaan, mengatasi konflik, membuang sifat mementingkan diri sendiri, memegang tanggung jawab, dan sebagainya. Kita mungkin dapat mempelajari semua teori karakter dari buku, tetapi bila kita tak pernah belajar menerapkannya dalam relasi langsung dengan orang lain, selama-lamanya karakter itu tak akan kita miliki.

Demikian pula halnya dengan pengembangan talenta yang kita miliki. Ada kalanya kita ragu atau tak tahu talenta apa yang sebenarnya kita miliki. Di sini kita memerlukan orang-orang yang dapat memberitahu dan mengkonfirmasi kita mengenai hal itu. Dan untuk itu tentu saja kita harus terlebih dahulu bergaul akrab dengan mereka, sehingga mereka dapat memperhatikan apa sebenarnya kelebihan kita. Ada kalanya kita mengalami keputusasaan dalam upaya pengembangan talenta itu. Di sini kita memerlukan orang-orang yang dapat memberi kita dukungan, nasihat, dan dorongan semangat yang dapat menguatkan kita.

Karena itu, penting bagi kita untuk memiliki sebuah komunitas yang baik dan sehat, di mana ada relasi yang sepadan di dalamnya. Kesepadanan itu mencakup kesepadanan dalam pemahaman tentang kebenaran, nilai-nilai yang dianut, dan tujuan hidup yang hendak dicapai. Sedangkan relasi itu mencakup hubungan timbal-balik yang saling mengisi, saling melengkapi, saling mengasihi, dan saling membangun satu sama lain.

  1. Alasan soteriologis-misiologis: Karena komunitas merupakan sarana yang Allah rancang untuk menggenapi rencana-Nya dan menyatakan kemuliaan-Nya (Yoh 17:20-23).

Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. (Yoh 17:20-23)

Yesus menyelamatkan kita dari dunia yang jahat ini serta memberikan kemuliaan-Nya kepada kita supaya kita dapat menjadi satu di dalam Dia. Dia menganugerahkan damai sejahtera kepada kita bukan supaya kita dapat hidup seorang diri di dunia ini. Sebaliknya, hal itu dilakukan-Nya justru supaya kita dapat berdamai dengan saudara-saudara seiman kita dan membangun sebuah komunitas yang sepadan dan saling mengasihi.

Selain itu, bila kita perhatikan, setelah Roh Kudus dicurahkan, komunitas Kristen itu muncul begitu saja sebagai dampak alamiah kepenuhan Roh Kudus. Tak ada yang memerintahkan orang percaya membentuk suatu komunitas saat itu. Mereka berkumpul begitu saja dan bersatu sebagai sebuah komunitas jemaat Tuhan (Kis 2:44-46).

Namun, rencana dan tujuan Allah tidak hanya berhenti sampai di situ. Persekutuan orang percaya dalam sebuah komunitas bukanlah tujuan akhirnya. Tujuan akhir dari seluruh rencana Allah adalah penyataan kemuliaan-Nya di antara segala bangsa. Komunitas dirancang sebagai sarana untuk menggenapi tujuan tersebut. Karena itu, kita tidak boleh berhenti pada keberadaan komunitas itu sendiri. Kita harus bergerak maju, bekerja bersama dalam sebuah komunitas yang sehat untuk menyatakan kemuliaan Allah di tengah-tengah dunia ini.

Kita tidak dipanggil untuk bernyanyi solo atau bermain single music, melainkan untuk menyelanggarakan sebuah pagelaran orkestra yang mahabesar dengan suatu harmoni musik yang mahaindah sebagai perwujudan kemuliaan Allah yang mahadahsyat. Sungguh konyol bila kita berusaha melakukannya seorang diri saja! Seberapapun hebatnya kita, seberapapun banyaknya kecakapan musik yang kita miliki, kita tak akan pernah dapat menyelenggarakan sebuah pagelaran orkestra seorang diri. Kita perlu bekerja sama dengan para pemusik lain untuk melakukannya. Demikian pula, untuk menyatakan kemuliaan Allah Tritunggal yang Mahabesar itu kita tak dapat bekerja seorang diri. Kita memerlukan saudara-saudara seiman yang lain untuk bekerja bersama kita.

Lebih daripada itu, saat ini kita berjuang di tengah-tengah dunia yang sedemikian sesat dan jahat. Bila kita berjuang seorang diri, kita akan mudah dikalahkan dan jatuh. Kita akan gagal menggarami dunia yang tawar ini. Bisa jadi, justru kita sendirilah yang akan menjadi tawar oleh pengaruh dunia ini. Karena itu, komunitas yang saling membangun dan saling menguatkan mutlak kita perlukan untuk dapat berdiri teguh dan berjuang di tengah-tengah dunia ini (Flp 1:27). Dengan demikian, ketika kita lemah, kita memiliki saudara yang dapat menguatkan kita. Ketika kita jatuh, kita memiliki saudara yang dapat menopang dan mengangkat kita. Ketika kita putus asa, kita memiliki saudara yang dapat memberikan dorongan semangat bagi kita. Pada akhirnya kita pun akan dapat mencapai garis akhir yang telah Allah tetapkan bagi kita.

Jadi, bagaimana sekarang? Marilah kita mengupayakan kesatuan hati di antara kita berdasarkan kebenaran firman Tuhan. Marilah kita membangun relasi yang saling mengisi, saling melengkapi, saling mengasihi, dan saling membangun di antara kita sebagai saudara seiman di dalam Kristus. Akhirnya, marilah kita bersatu-padu, bekerja dan berjuang bersama untuk menggenapi rencana Allah dan menyatakan kemuliaan-Nya di tengah-tengah dunia ini. Soli Deo gloria! Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!

(Artikel ini telah dibaca 2741 kali)

Tinggalkan Balasan

Copyright © Blog Pribadi Paulus Roi. All rights reserved.