Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Saling Memperhatikan dalam Pertemuan Ibadah

Gereja memiliki fungsi, peranan, dan tugas dalam penginjilan, pengajaran, persekutuan, pelayanan, dan ibadah. Pada dasarnya kelima hal itu tak dapat dipisahkan satu sama lain. Bila satu saja dari kelima hal itu tidak dikerjakan dengan baik, maka gereja akan berjalan pincang. Karena itu, kita harus senantiasa berusaha mengerjakan kelima hal itu sebaik mungkin secara seimbang. Walaupun demikian, pada artikel ini saya hanya akan membahas satu di antaranya, yaitu persekutuan di antara orang-orang percaya khususnya dalam konteks pertemuan ibadah.

“Apa tujuan Anda datang ke gereja setiap minggu?” Bila pertanyaan ini diajukan kepada orang-orang Kristen, maka jawaban paling umum yang akan kita dapatkan adalah: Untuk berdoa, memuji Tuhan, dan mendengarkan firman Tuhan. Semua jawaban itu tidaklah keliru. Namun, semua jawaban itu hanya menekankan satu aspek saja dari ibadah Kristen, yaitu aspek vertikal, sedangkan aspek horizontal dari ibadah seringkali diabaikan dan dilupakan. Padahal, selain aspek vertikal, Alkitab juga mengajarkan aspek horizontal dalam ibadah Kristen, yaitu persekutuan di antara orang percaya. Berkenaan dengan hal itu, marilah kita mempelajari Ibrani 10:24-25.

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Dalam bahasa Indonesia nas ini terdiri dari beberapa kalimat perintah. Namun, dalam bahasa aslinya nas ini sesungguhnya hanya terdiri dari 1 kalimat saja. Induk kalimat nas ini terdapat pada ayat 24a, di mana orang-orang percaya dinasihati untuk saling memperhatikan. Ayat 24b menerangkan tujuan dari tindakan itu dan ayat 25 menerangkan wujud nyata dari tindakan itu.

1. Perintahnya: Saling memperhatikan.

Kata “memperhatikan” (Yun: katanoeo) dipergunakan 2 kali dalam surat Ibrani, yaitu dalam Ibrani 3:1 dan 10:24. Dalam Ibrani 3:1 penulis telah mengajak para pembacanya untuk memperhatikan Yesus Kristus. Sekarang, dalam bagian ini dia mengajak para pembaca suratnya untuk saling memperhatikan seorang akan yang lain. Dengan kata lain, sebagaimana kita harus terus-menerus memperhatikan Yesus Kristus dalam ibadah, kita pun harus terus-menerus memperhatikan saudara-saudara seiman kita dalam ibadah. Kita harus menekankan relasi vertikal dengan Allah, tetapi kita pun harus menekankan relasi horizontal dengan saudara-saudara seiman kita.

Bentuk Present Imperative kalimat ini menunjukkan bahwa tindakan saling memperhatikan ini harus dilakukan secara berkesinambungan sebagai suatu kebiasaan dalam ibadah. Sementara ada beberapa orang yang membiasakan diri untuk menjauhi pertemuan ibadah dan persekutuan Kristen (ay. 25a), orang-orang percaya harus membiasakan diri untuk saling memperhatikan dalam ibadah. Dengan kata lain, ini bukanlah sebuah program yang hanya diadakan sesekali saja, melainkan suatu hal yang harus dibiasakan dan dibudayakan dalam gereja. Bahkan, lebih daripada itu, hal ini harus dikerjakan semakin giat menjelang hari Tuhan yang mendekat (ay. 25b).

2. Tujuan: Saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik.

Penulis mengatakan: “Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik.” Artinya, tindakan saling memperhatikan itu bukanlah tujuan akhirnya. Tindakan saling memperhatikan hanyalah sarana untuk mencapai sesuatu yang lain, yaitu dorongan kasih dan perbuatan baik. Hal ini penting untuk dipahami, karena banyak orang seringkali jatuh di salah satu ekstrem yang keliru:

  • Sebagian orang menganggap tindakan saling memperhatikan itu sebagai tujuan akhirnya. Mereka menempatkan kedekatan relasi di atas segala-galanya. Akibatnya, relasi itu tetap menjadi relasi yang dangkal dan tidak membangun.
  • Sebagian orang yang lain memperhatikan dengan tujuan yang negatif. Mereka memperhatikan sekedar untuk mencari-cari kesalahan sebagai bahan gosip dan bahan kritik.

Kedua sikap itu sama-sama tidak benar. Kita harus saling memperhatikan dengan tujuan yang benar, yaitu untuk saling mendorong dalam kasih dan perbuatan baik.

Kata “mendorong” itu memiliki makna yang sangat kuat, yaitu “memicu”, “menyulut”, atau “membangkitkan”. Biasanya kata ini digunakan dengan konotasi yang negatif seperti “menyulut/membangkitkan murka” atau “memicu perselisihan”. Akan tetapi, di sini penulis surat Ibrani justru mempergunakannya dengan konotasi yang positif, yaitu untuk memicu/menyulut kasih dan perbuatan baik. Dengan kata lain, tindakan saling memperhatikan itu harus dilakukan dengan tujuan memicu, menyulut, dan membakar semangat kita bersama untuk mengasihi dan berbuat baik. Dengan demikian kasih dan perbuatan baik tidak hanya menjadi wacana atau teori kosong dalam gereja, tetapi menjadi realitas yang nyata.

3. Cara: Berkumpul dan menasihati.

Bagaimana perhatian yang membangkitkan kasih dan perbuatan baik itu dapat terwujud? Penulis surat Ibrani memberikan 2 cara:

Pertama, secara negatif: Jangan meninggalkan pertemuan ibadah. Banyak orang cenderung meninggalkan ibadah ketika mereka mengalami masalah atau konflik, baik masalah pribadi maupun konflik dengan orang lain. Mereka memberikan berbagai alasan, seperti menenangkan diri, mencari penyegaran, atau mendekatkan diri kepada Tuhan secara pribadi. Namun, semua itu bukanlah alasan yang benar. Allah mengaruniakan persekutuan gereja untuk menjadi sarana pembentukan rohani kita. Karena itu, jangan tinggalkan pertemuan ibadah. Ingatlah, karakter Kristus tak akan pernah terbentuk hanya dengan mengisolasi diri. Karakter itu justru akan terbentuk melalui persoalan dan konflik.

Kedua, secara positif: Menasihati. Kata Yunani “parakaleo” yang digunakan di sini memiliki pengertian yang sangat luas: menasihati, mendorong, menguatkan, dan menghibur. Inilah wujud nyata dari perhatian yang dibicarakan oleh penulis surat Ibrani. Tindakan-tindakan inilah yang sepatutnya kita lakukan dalam setiap pertemuan ibadah kita. Karena itu, jangan datang terlambat dan jangan pulang terlalu cepat. Sediakan waktu untuk membangun relasi dengan saudara-saudara seiman yang ada.

Akhirnya, sadarilah bahwa saat ini kita hidup di zaman yang semakin hari semakin jahat dan individualistis. Sebagaimana yang Yesus katakan, karena makin bertambahnya kedurhakaan, kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin (Mat 24:12). Bila persekutuan gereja hanya berjalan apa adanya dan biasa-biasa saja, semakin hari pengaruh gereja pun akan semakin redup. Hal itu laksana seorang pendayung yang menghadapi arus sungai yang semakin deras. Bila dia hanya mendayung dengan kekuatan konstan saja, dia akan dikalahkan oleh arus sungai itu. Dia harus mendayung semakin kuat untuk dapat mempertahankan perahunya tetap melaju. Karena itu, kita harus meningkatkan persekutuan kita agar kita dapat membawa dampak positif di tengah dunia yang semakin individualistis ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.