Blog Pribadi Paulus Roi

Berbagi hidup dan pemikiran bagi kemuliaan Allah

Tragedi Lonceng Berdarah

Tragedi Lonceng BerdarahAlkisah, di sebuah desa tinggalah seorang ibu yang sudah tua bersama anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Ibu itu seringkali merasa sedih karena memikirkan anaknya yang memiliki tabiat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Ia sering menangis meratapi nasibnya yang malang, tetapi ia tetap berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan, tolong sadarkan anakku yang kusayangi supaya ia tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.” Akan tetapi, semakin hari si anak semakin larut dalam perbuatan jahatnya. Berulang kali ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.

Suatu malam si anak kembali beraksi dan merampok rumah seorang penduduk desa. Malangnya, dia tertangkap. Dia pun kemudian dibawa ke hadapan raja untuk diadili. Karena ia sudah terlalu sering melakukan kejahatan, maka sang raja menjatuhkan hukuman pancung kepadanya. Hasil pengadilan itu diumumkan ke seluruh desa, bahwa hukuman pancung akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu pun sampai ke telinga sang ibu. Dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan, “Tuhan, ampunilah anak hamba. Biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosanya.”

Kemudian dengan tertatih-tatih Ibu itu datang menghadap sang raja untuk memohon agar anaknya dibebaskan. Akan tetapi, keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman pancung. Dengan hati hancur ibu itupun kembali ke rumah. Tak hentinya ia berdoa supaya anaknya diampuni sampai akhirnya ia tertidur karena kelelahan. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya, di tempat yang telah ditentukan, rakyat berbondong-bondong manyaksikan hukuman pancung bagi si anak. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak itu sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua dan tanpa terasa ia menitikkan air mata menyesali perbuatannya.

Detik demi detik terus berlalu. Akan tetapi, sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng itu belum juga berdentang. Lima menit telah berlalu dan suasana mulai berisik. Akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi ia menarik tali lonceng, tetapi suara dentangnya tidak juga terdengar.

Saat mereka semua sedang bingung, tiba-tiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan hasil penyelidikan dari beberapa orang yang naik ke atas untuk melihat dari mana darah itu mengucur.

Apa yang sebenarnya telah terjadi? Ternyata di dalam lonceng itu ditemukan tubuh sang ibu dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi. Dan sebagai gantinya, kepala ibu itulah yang terbentur ke dinding lonceng itu. Rupanya pagi-pagi benar ibu itu bangun dan dengan susah payah memanjat ke atas serta mengikat dirinya di bandul lonceng itu untuk mencegah hukuman pancung anaknya.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara itu, sambil memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan, si anak menangis meraung-raung menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.

Tahukah anda bahwa hal serupa telah diperbuat Yesus Kristus 2000 tahun yang lalu? Kita yang telah melakukan banyak pelanggaran dan dosa di hadapan Allah harus menerima murka dan hukuman Allah di neraka untuk selama-lamanya. Akan tetapi, karena kasih-Nya yang begitu besar pada kita, Yesus telah turun ke dunia, menjelma menjadi manusia, dan menyerahkan diri-Nya menjadi korban tebusan bagi kita. Demi menyelamatkan kita, orang-orang berdosa, Dia rela mengorbankan diri-Nya sendiri di atas kayu salib untuk menanggung segala hukuman dosa kita. Berkat pengorbanan-Nya itulah kita, yang percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan juruselamat, dapat terbebas dari hukuman kekal di neraka. Sebaliknya, kita dapat memperoleh hidup kekal dan menikmati persekutuan yang indah dengan Allah di dalam sorga untuk selama-lamanya. Betapa menakjubkan kasih karunia Allah itu bagi kita!

Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. (Mrk 10:45)

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16)

Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia. (Ibr 9:28)

Pertanyaannya sekarang, sudahkah anda menerima dan mengalami anugerah Allah itu? Bila belum, datanglah segera pada Yesus. Percaya dan terimalah Dia sebagai Tuhan dan juruselamat anda. Hanya dengan cara demikian anda dapat terbebas dari hukuman kekal dan menerima anugerah keselamatan. Perhatikanlah nas Alkitab berikut ini:

Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia (Yesus Kristus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. (Kis 4:12)

Bila anda telah menerima dan mengalami anugerah Allah yang menakjubkan itu, saya ucapkan selamat! Jangan pernah goyah. Tetaplah berpegang teguh pada pengharapan yang pasti di dalam Yesus Kristus, Tuhan kita. Dan marilah kita senantiasa hidup dengan penuh ucapan syukur kepada Allah yang telah mengaruniakan anugerah yang sedemikian besar bagi kita. Biarlah kemuliaan hanya bagi Dia untuk selama-lamanya! Amin.

(Artikel ini telah dibaca 1652 kali)

Tinggalkan Balasan

Copyright © Blog Pribadi Paulus Roi. All rights reserved.