Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

4 Hal yang Membuat Para Guru Palsu Sangat Berbahaya

Secara umum ada 2 bentuk serangan yang dilancarkan Iblis untuk mengacau-balaukan dan menghancurkan gereja Kristus, antara lain:

  1. Dia dapat menyerang gereja dari luar, yaitu melalui penganiayaan dan penderitaan yang menimpa gereja.
  2. Dia dapat menyerang gereja dari dalam, yaitu melalui penyesatan yang menyusup ke dalam gereja.

Kedua bentuk serangan itu terus-menerus dilancarkan Iblis sejak permulaan gereja sampai sekarang. Keduanya sama-sama berbahaya dan sama-sama berpotensi memurtadkan anggota-anggota gereja dari iman kepada Yesus Kristus. Karena itu, kita patut waspada terhadap kedua bentuk serangan Iblis itu.

Ketika Rasul Yohanes menulis suratnya yang kedua (2 Yohanes), nampaknya Iblis sedang melancarkan kedua bentuk serangan itu pada gereja penerima suratnya. Gereja itu mungkin sedang berada dalam penganiayaan, sehingga Rasul Yohanes merasa perlu menyamarkan alamat suratnya. Walaupun demikian, gereja itu nampaknya dapat bertahan menghadapi penganiayaan itu, sehingga Rasul Yohanes tidak merasa perlu memberikan nasihatnya berkenaan dengan persoalan itu.

Namun, di sisi lain, Rasul Yohanes menyadari adanya persoalan lain yang sedang mengancam gereja itu, suatu persoalan yang lebih berbahaya dan bersifat terselubung, yaitu tampilnya para guru palsu di tengah-tengah mereka. Karena itu, dalam surat ini dia berfokus pada persoalan tersebut.

Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus. (2 Yohanes 7)

Setidaknya ada 4 hal yang membuat para guru palsu itu sangat berbahaya, antara lain:

1. Para guru palsu itu bersifat menipu.

Dua kali Rasul Yohanes menyebut para guru palsu itu sebagai “penyesat” atau “penipu” (deceivers) — suatu sebutan yang menunjukkan karakter dan cara kerja mereka. Mereka tidak datang ke gereja dengan label nama yang menyebutkan identitas mereka sebagai guru palsu. Sebaliknya, mereka akan datang ke gereja dengan mengaku sebagai orang Kristen. Mereka akan menunjukkan sikap yang sangat manis, penuh perhatian, dan menyenangkan. Bahkan, mereka akan mempergunakan Alkitab untuk mendukung setiap pernyataan yang mereka kemukakan. Karena itu, orang-orang yang tidak memiliki ketajaman akan mudah sekali terpedaya, mengira bahwa mereka adalah saudara seiman dalam Kristus, menyambut mereka dengan ramah dalam persekutuan jemaat, dan membiarkan mereka mengajarkan kesesatan mereka. Akibatnya, kesesatan mereka akan semakin merajalela di dalam gereja.

2. Para guru palsu itu menyerang dasar iman Kristen, yaitu Injil Yesus Kristus.

Selain menyebut mereka dengan sebutan “penyesat”, Rasul Yohanes juga menyebut guru-guru palsu itu dengan sebutan “antikristus” karena mereka menyangkal kebenaran dasar berkenaan dengan pribadi dan karya Kristus. Pada saat Rasul Yohanes menulis surat ini, guru-guru palsu itu sedang menyerang kebenaran tentang kemanusiaan Kristus. Namun, pada saat-saat lain, mereka menyerang kepenuhan keilahian Kristus, eksklusivitas-Nya sebagai satu-satunya juruselamat dunia, kecukupan karya penebusan-Nya bagi keselamatan orang percaya, kebangkitan-Nya dari kematian, dan sebagainya. Dengan menyangkal dan menyerang semua kebenaran tentang Kristus itu, sesungguhnya mereka sedang menyerang kebenaran Injil yang merupakan pondasi kekristenan. Karena itu, kesesatan mereka bukanlah hal yang remeh. Sebaliknya, itu adalah persoalan yang serius dan tidak boleh diabaikan begitu saja.

3. Para guru palsu itu banyak dan tersebar di mana-mana.

Seandainya guru-guru palsu itu sedikit dan berada di satu tempat saja, mungkin akan lebih mudah bagi gereja untuk mengantisipasi dan mewaspadainya. Namun, pada kenyataannya guru-guru palsu itu sangat banyak, bukan hanya jumlahnya, tetapi juga jenisnya, dan mereka tersebar di mana-mana. Hal ini membuat mereka semakin berbahaya.

  • Jumlah yang banyak membuat mereka kuat. Selain itu, mereka juga dapat menggunakan jumlah mereka yang banyak itu untuk meyakinkan orang pada ajaran mereka. “Lihatlah, jumlah kami terus bertambah dan ajaran kami telah dipegang oleh banyak orang. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa ajaran kami layak dipercaya? Mengapa kamu tidak mau mempercayainya?” Begitulah kurang-lebih argumentasi mereka.
  • Jenis yang bervariasi membuat mereka sukar dikenali. Bidat yang satu mempercayai kemanusiaan Yesus, tetapi menyangkal keilahian-Nya. Bidat yang lain mempercayai keilahian Yesus, tetapi menyangkal kemanusiaan-Nya. Bidat yang lain lagi mempercayai keilahian dan kemanusiaan Yesus, tetapi menyangkal eksklusivitas-Nya sebagai satu-satunya juruselamat, dan sebagainya. Semua itu dapat membingungkan jemaat Tuhan, khususnya mereka yang tidak memahami ajaran Alkitab dengan baik.
  • Penyebaran mereka ke segala tempat membuat pengaruh mereka semakin besar dan semakin luas. Akibatnya, semakin hari pengaruh mereka semakin sukar dibendung.

4. Para guru palsu itu bekerja secara aktif.

Para guru palsu itu tidak bersikap pasif dengan berdiam diri dan menunggu “mangsanya” datang. Sebaliknya, mereka bersikap aktif dan proaktif. Mereka pergi dan mencari “mangsa” yang dapat ditelannya. Mereka berjuang sedemikian rupa untuk mempropagandakan kesesatan mereka dan menyeret banyak orang ke dalam jeratnya. Karena itu, sungguh celaka bila kita yang telah mengenal kebenaran Injil hanya berdiam diri dan enggan memberitakannya secara aktif! Dengan bersikap demikian, secara tidak langsung kita turut mengambil bagian dalam pekerjaan mereka yang jahat (bd. Mat 12:30).

Demikianlah, Rasul Yohanes menyadari adanya bahaya besar yang sedang mengancam gereja Tuhan. Dia merasa terdesak untuk memperingatkan gereja Tuhan akan bahaya itu sesegera mungkin. Karena itu, dia menulis surat yang singkat ini dan memberikan beberapa nasihatnya sebelum dia dapat mengunjungi mereka.

Bagaimana dengan Anda? Sadarkah Anda akan adanya bahaya penyesatan yang sedang mengancam gereja Kristus? Pedulikah Anda akan persoalan ini? Ingatlah, penyesatan bukanlah persoalan yang remeh. Bila Anda tidak waspada, Anda akan terperangkap dan binasa dalam jebakannya tanpa Anda sadari. Karena itu, waspadalah senantiasa!

Kiranya Allah, oleh Roh-Nya yang berdiam di dalam kita, memampukan kita untuk membedakan kebenaran dari kepalsuan dan kesesatan. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.