Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Identitas “Ibu yang Terpilih” dalam Surat 2 Yohanes

Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. (2 Yohanes 1a)

“Siapakah ‘ibu yang terpilih’ yang menjadi penerima surat 2 Yohanes?” Persoalan ini telah menjadi bahan perdebatan di antara para penafsir. Ada berbagai pendapat yang diajukan berkenaan dengan persoalan ini. Namun, secara garis besar pendapat-pendapat itu dapat dibagi ke dalam 2 kelompok:

1. “Ibu yang terpilih” itu adalah seorang individu.

Kelompok pertama berpendapat bahwa “ibu yang terpilih” itu mengacu pada seorang individu. Pendapat ini umumnya dipegang oleh para penafsir yang lebih kuno. Beberapa spekulasi telah diajukan berkenaan dengan identitas individu itu, antara lain:

  • “Ibu yang terpilih” itu adalah Maria, ibu Yesus.

Namun, spekulasi ini tidak mungkin benar karena beberapa alasan, antara lain:

Pertama, sejak kematian Yesus, Maria tinggal bersama Yohanes di rumahnya (bd. Yoh 19:26-27). Karena itu, adalah hal yang aneh bila Yohanes menulis surat kepadanya.

Kedua, dalam surat ini Yohanes menasihatkan supaya “ibu yang terpilih” itu waspada terhadap para penyesat yang menyangkal kemanusiaan Yesus (ay. 7). Seandainya “ibu yang terpilih” itu adalah Maria, ibu Yesus, apa gunanya Yohanes menasihatkan hal itu kepadanya? Bukankah Maria adalah wanita yang melahirkan Yesus dan yang paling memahami kemanusiaan Yesus? Karena itu, sungguh aneh bila Yohanes memperingatkan Maria supaya jangan terpedaya oleh para penyesat yang menyangkali kemanusiaan Yesus. Bukan Yohanes, tetapi Marialah yang seharusnya memberikan peringatan itu kepadanya.

Ketiga, Maria telah meninggal dunia jauh sebelum surat ini ditulis. Menurut tradisi gereja, dia meninggal dunia antara tahun 40-50, sedangkan surat ini ditulis antara tahun 90-100. Karena itu, tidak mungkin surat ini ditujukan kepadanya.

  • “Ibu yang terpilih” itu bernama Eklekte.

Pendapat ini diajukan oleh Klemens dari Aleksandria. Dia beranggapan bahwa kata Yunani “eklektē” (yang berarti “yang terpilih”) merupakan sebuah nama, sedangkan kata Yunani “kyria” (yang berarti “nyonya”) merupakan sebutan kehormatan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain, alamat surat ini seharusnya diterjemahkan “kepada nyonya Eklekte”.

Persoalannya, pada ayat 13 kata Yunani “eklektē” juga dikenakan pada saudaranya. Bila “eklektē” merupakan sebuah nama, maka kakak-beradik itu mempunyai nama yang sama. Hal ini merupakan sesuatu yang jarang sekali terjadi pada budaya waktu itu. Karena itu, spekulasi ini sangat diragukan kebenarannya.

  • “Ibu yang terpilih” itu bernama Kyria.

Pendapat ini diajukan oleh Athanasius. Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, dia beranggapan bahwa kata Yunani “kyria” merupakan sebuah nama, sedangkan kata Yunani ” eklektē” merupakan sebutan kehormatan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain, alamat surat ini seharusnya diterjemahkan “kepada Kyria yang terpilih”.

Terjemahan Alkitab berbahasa Syria dan Arab mengikuti anggapan ini. Demikian pula, John Wesley dan Albert Barnes condong pada pendapat ini. Namun, tidak ada dasar yang cukup kuat untuk mendukung pendapat ini.

  • “Ibu yang terpilih” itu adalah Marta dari Betania.

Spekulasi ini muncul karena kata “martha” dalam bahasa Aram mempunyai makna yang sejajar dengan kata “kyria” dalam bahasa Yunani. Namun, apakah buktinya bahwa “Marta” yang dituju adalah Marta dari Betania? Sekali lagi, tidak ada bukti yang cukup memadai untuk mendukung pendapat ini.

  • “Ibu yang terpilih” itu adalah seorang wanita Kristen yang tidak diketahui namanya.

Akhirnya, para penafsir yang berpendapat bahwa “ibu yang terpilih” itu mengacu pada seorang individu umumnya memilih untuk tidak berspekulasi tentang identitas individu itu. Satu hal saja yang dapat diketahui, yaitu bahwa dia adalah seorang wanita Kristen yang saleh dan cukup terkenal di kalangan orang-orang Kristen pada waktu itu.

2. “Ibu yang terpilih” itu adalah sebuah gereja lokal.

Kelompok kedua berpendapat bahwa “ibu yang terpilih” itu mengacu pada sebuah gereja lokal, sedangkan anak-anaknya mengacu pada orang-orang percaya yang tergabung di dalamnya. Pendapat ini diajukan oleh Jerome. Pada umumnya para penafsir modern memegang pendapat ini.

Beberapa argumentasi dapat diajukan untuk mendukung pendapat ini, antara lain:

  • Secara etimologis kata “gereja” (ekklēsia) dalam bahasa Yunani bergender feminim.
  • Secara teologis gereja adalah mempelai wanita Kristus (Ef 5:31-32; Why 19:7). Karena itu, bila Kristus adalah “Tuan” (Kyrios), maka gereja dapat disebut “nyonya” (kyria).
  • Secara simbolik gereja digambarkan sebagai seorang wanita dan orang-orang percaya digambarkan sebagai keturunannya (Gal 4:26; Why 12:1, 17).

Selain itu, seandainya surat ini ditujukan pada seorang individu, nasihat dan peringatan yang diberikan akan terasa aneh dan janggal:

  • Mengapa Yohanes meminta wanita itu secara khusus, bukan jemaat secara umum, untuk saling mengasihi dengannya (ay. 5)?
  • Mengingat adanya bahaya kesesatan yang mengancam seluruh anggota jemaat, Mengapa Yohanes, selaku penatua, hanya memperingatkan seorang wanita saja, bukannya seluruh anggota jemaat?

Berdasarkan semua argumentasi itu, saya menyimpulkan bahwa surat ini ditujukan kepada sebuah gereja lokal, bukan kepada seorang individu. Hanya saja, tidak dapat diketahui secara pasti gereja lokal mana yang dituju oleh surat ini. Walaupun demikian, hal itu tidak terlalu menjadi masalah, karena nasihat dan peringatan yang diberikan dalam surat ini tetap relevan bagi gereja Tuhan di segala zaman.

Kiranya kasih karunia, belas kasihan, dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kita semua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.