Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Jati Diri Manusia: Ciptaan menurut Gambar Allah

“Siapakah aku?” Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat penting dan menuntut pemikiran yang sangat serius, karena jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan nilai, makna, dan tujuan hidup kita. Bila kita keliru dalam mengenali siapa diri kita, kita dapat jatuh dalam 2 sikap yang keliru, yaitu (1) sikap sombong, di mana kita memandang diri terlalu tinggi, atau (2) sikap rendah diri, di mana kita memandang diri terlalu rendah. Selanjutnya, kedua sikap itu akan menyimpangkan kita dari nilai, makna, dan tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Karena itu, penting bagi kita untuk merenungkan, mengingat, dan menyadari siapa diri kita yang sesungguhnya secara berkesinambungan setiap waktu.

Untuk mengetahui nilai, manfaat, dan tujuan suatu benda, kita perlu mempelajari awal-mula terbentuknya benda itu — siapa yang merancangnya, bagaimana benda itu dibuat, dan untuk apa benda itu dibuat. Demikian pula, untuk mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya, kita perlu mempelajari awal-mula terbentuknya manusia. Untuk itu, kita dapat mempelajari Alkitab yang adalah “buku manual” kehidupan kita.

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kejadian 1:26-27)

Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kejadian 2:7)

Dalam Kejadian 1:26-28 dan 2:7 Allah telah menyatakan bagaimana Dia merancang dan membentuk manusia. Berdasarkan penyataan Allah itu, setidaknya ada 2 hal penting yang dapat kita ketahui tentang jati diri manusia: (1) Kita diciptakan oleh Allah, dan (2) Kita diciptakan menurut gambar Allah. Kedua hal itu masing-masing memberikan beberapa implikasi yang patut kita perhatikan.

Jati Diri Manusia: Ciptaan Allah

Bertolak belakang dengan teori evolusi naturalistik, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Allah, oleh hikmat dan kuasa-Nya, telah membentuk manusia dari debu tanah, menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya, dan menjadikannya makhluk yang hidup. Kebenaran ini memberikan beberapa implikasi yang patut kita perhatikan, antara lain:

  1. Kita direncanakan oleh Allah.

Seandainya teori evolusi naturalistik benar, bahwa manusia terbentuk secara kebetulan dari suatu proses alam yang bersifat acak, maka kita tidak memiliki nilai, makna, dan tujuan hidup yang berarti di dunia ini. Apapun yang kita perbuat tak ada artinya dan hidup kita hanyalah suatu kesia-siaan belaka. Namun, puji syukur kepada Allah, teori evolusi itu tidak benar dan manusia tidak terbentuk secara kebetulan. Sebaliknya, manusia diciptakan oleh Allah menurut rencana-Nya yang maha bijaksana.

Sebelum Allah menciptakan manusia, Dia telah merencanakan dan menentukan nilai, makna, dan tujuan keberadaan manusia itu, di mana manusia akan menyandang gambar-Nya dan menguasai seluruh bumi demi kemuliaan-Nya. Hal ini tidak hanya berlaku bagi Adam dan Hawa, tetapi juga bagi seluruh keturunannya. Karena itu, tidak peduli bagaimana kita dilahirkan dan tidak peduli bagaimana keadaan diri kita, kebenaran ini juga berlaku bagi kita:

Hidup kita adalah hidup yang direncanakan. Hidup kita adalah hidup yang bernilai, bermakna, dan bertujuan. Karena itu, jangan pernah menyia-nyiakannya. Sebaliknya, marilah kita mempergunakan hidup kita dengan bijaksana seturut kehendak Allah.

  1. Kita terbatas dan bergantung pada Allah.

Tidak ada ciptaan yang bersifat tidak terbatas. Semua ciptaan bersifat terbatas. Karena kita adalah ciptaan, maka kita pun bersifat terbatas.

Lebih buruk lagi, kita diciptakan dari debu tanah — sesuatu yang rendah, hina, lemah, dan mati. Hanya oleh hembusan napas Allah sajalah kita dapat menjadi makhluk yang hidup, kuat, tinggi, dan mulia. Sekiranya Allah menarik napas hidup itu dari kita, maka sekejap saja kita akan mati dan kehilangan segala sesuatu yang kita miliki.

Semua ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kita tidak dapat hidup tanpa kuasa pemeliharaan Allah yang menopang kita. Kita semua terbatas dan bergantung pada kuasa pemeliharaan-Nya setiap waktu. Karena itu, janganlah kita berlaku sombong di hadapan-Nya. Sebaliknya, marilah kita senantiasa merendahkan diri dalam penyembahan kepada-Nya.

  1. Kita berada di bawah wewenang Allah.

Adalah benar bahwa Allah menempatkan manusia pada kedudukan yang tinggi dan memberikan wewenang kepadanya untuk berkuasa atas seluruh bumi. Namun, itu tidak berarti bahwa manusia dapat bertindak sesuka hatinya. Betapapun tingginya kedudukan manusia, dia hanyalah ciptaan Allah dan berada di bawah wewenang-Nya. Dengan kata lain, pada dasarnya manusia adalah hamba-hamba Allah yang diberi wewenang sekaligus tanggung jawab untuk mengatur dan memelihara seluruh bumi seturut kehendak-Nya dan demi kemuliaan-Nya.

Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa menyadari batas wewenang dan tanggung jawab yang Allah berikan kepada kita. Janganlah kita melampaui batas wewenang yang Allah tetapkan. Sebaliknya, marilah kita tunduk dan mengerjakan tanggung jawab yang Dia percayakan kepada kita. Dengan demikian Allah akan dimuliakan di dalam kita dan kita pun akan dipuaskan di dalam Dia.

Jati Diri Manusia: Gambar Allah

Berbeda dengan tumbuhan dan hewan yang diciptakan “menurut jehnisnya”, manusia diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah”. Artinya, ada sifat-sifat tertentu di dalam diri manusia yang serupa dengan sifat-sifat Allah. Sifat-sifat itulah yang menjadikan manusia istimewa dan berbeda dari tumbuhan dan hewan.

Berikut ini adalah beberapa sifat “gambar Allah” yang Allah karuniakan kepada kita:

  1. Spiritual dan imortal

Di satu sisi, kita adalah makhluk fisikal. Kita memiliki tubuh jasmani yang terbentuk dari debu tanah. Dalam hal ini kita tidak jauh berbeda dari tumbuhan dan hewan yang membutuhkan makanan untuk dapat bertahan hidup.

Namun, di sisi lain, kita juga adalah makhluk spiritual. Kita mempunyai jiwa yang berasal dari hembusan napas Allah. Berbeda dengan jiwa hewan, jiwa kita bersifat imortal. Artinya, jiwa kita tidak dapat mengalami kematian. Jiwa kita akan terus hidup sekalipun tubuh kita mati.

Walaupun demikian, jiwa itu dapat mengalami penderitaan. Seperti halnya tubuh yang akan mengalami kelaparan dan kesakitan bila tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup, demikian pula jiwa kita akan mengalami kehausan dan kehampaan yang amat dalam bila tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Bagaimanapun kita berupaya mengisi kehampaan itu dengan segala kesenangan dunia ini, kehampaan jiwa itu tak akan dapat terobati, karena kehampaan jiwa itu hanya dapat diisi dan dipuaskan oleh Allah. Karena itu, kita membutuhkan persekutuan dengan Allah setiap waktu.

  1. Intelektual dan moral

Karena kita memiliki tubuh jasmani, maka kita dapat mengalami berbagai perasaan dan keinginan yang berhubungan dengan tubuh jasmani kita, seperti rasa haus dan lapar, rasa sakit, rasa terancam, hasrat seksual, dan sebagainya. Dalam hal ini kita juga tidak jauh berbeda dengan hewan.

Namun, berbeda dengan hewan yang digerakkan oleh segala perasaan dan keinginannya itu, kita memiliki pikiran dan kesadaran moral yang memampukan kita untuk menimbang apa yang baik dan apa yang buruk, untuk mengendalikan segala perasaan dan keinginan kita, serta untuk meluapkan perasaan dan keinginan itu dengan cara yang benar dan bijaksana. Karena itu, kita harus bertanggung jawab atas setiap perkataan dan perbuatan kita. Jangan biarkan emosi membutakan akal sehat kita. Sebaliknya, kita harus mempergunakan akal sehat kita dalam setiap keputusan yang kita ambil. Ingatlah, pada akhirnya kita harus mempertanggungjawabkan segala perkataan, sikap, dan perbuatan kita di hadapan penghakiman Allah yang adil.

  1. Sosial dan komunal

Allah kita adalah Allah Tritunggal. Dia bukanlah Allah yang bersifat individual. Sebaliknya, Dia adalah Allah yang bersifat “sosial” dan “komunal” di dalam diri-Nya sendiri. Sejak kekekalan Dia ada dalam persekutuan 3 pribadi — Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiga pribadi itu berbagian dalam satu hakikat keilahian yang sama. Ketiganya memiliki sifat, kehendak, rencana, dan tujuan yang sama. Tak ada perselisihan atau pertentangan di antara ketiga pribadi itu. Sebaliknya, sejak dari kekekalan ketiganya ada dalam relasi yang saling mengasihi satu dengan yang lain.

Ketika Allah menjadikan manusia menurut gambar-Nya, Dia juga memberikan sifat sosial dan komunal itu kepada manusia. Dia memandang kesendirian manusia sebagai hal yang buruk (Kej 2:18). Karena itu, Dia menciptakan manusia lain untuk menjadi penolong yang sepadan baginya. Dengan demikian manusia dapat berelasi satu sama lain, saling melengkapi, saling menolong, dan saling mengasihi.

Karena itu, tidak sepatutnya kita bersikap egois dan individualistis dengan hanya mengejar kepentingan diri sendiri saja. Sebaliknya, kita perlu memperhatikan dan mempedulikan kepentingan orang lain juga. Dengan demikian relasi yang sehat dapat terbangun.

Demikianlah, di satu sisi, manusia adalah ciptaan yang terbatas, bergantung pada Allah, dan berada di bawah wewenang Allah. Namun, di sisi lain, manusia juga adalah ciptaan yang bernilai dan istimewa, karena Allah telah merancangnya menurut gambar-Nya. Allah telah mengaruniakan kepada manusia jiwa yang kekal yang memampukannya berelasi dengan Allah, akal budi dan kesadaran moral yang memampukannya menimbang dan melakukan apa yang baik, dan karakter sosial yang memampukannya berelasi dengan orang lain.

Sayangnya, kejatuhan manusia dalam dosa telah merusakkan segala kapasitas yang dimilikinya itu. Relasinya dengan Allah hancur; akal budi dan kesadaran moralnya menjadi gelap; dan relasinya dengan sesama manusia diwarnai dengan perselisihan dan pertentangan. Bukannya bergantung dan tunduk kepada Allah, manusia justru memberontak dan berusaha menyingkirkan Allah dari kehidupannya. Akibatnya, manusia mengalami kemerosotan besar dalam segala aspek hidupnya.

Namun, oleh karya penebusan Kristus yang sempurna, relasi kita dengan Allah dipulihkan; hati dan pikiran kita yang gelap diterangi dan diperbaharui; dan kita, orang-orang percaya dari segala bangsa dan dari segala latar belakang, dipersatukan menjadi satu tubuh di dalam Dia. Singkatnya, karya penebusan Kristus telah memulihkan gambar Allah di dalam diri kita dan menjadikan kita manusia baru di dalam Dia. Karena itu, marilah kita menyadari posisi kita yang sepatutnya di hadapan Allah, yaitu sebagai umat yang bergantung dan tunduk di bawah wewenang-Nya, dan marilah kita bertumbuh dalam keserupaan dengan gambar-Nya sampai Yesus Kristus menyempurnakan hidup kita pada kedatangan-Nya yang kedua kali.

Kiranya Allah senantiasa dimuliakan melalui hidup kita semua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.