Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

3 Karakteristik Ibadah yang Sejati

Bila Allah itu ada — dan Dia memang ada —, maka ibadah kepada-Nya merupakan suatu keharusan bagi semua makhluk. Setidaknya ada 2 alasan bagi pernyataan ini, antara lain:

  • Karena Allah adalah satu-satunya keberadaan yang sempurna, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak dan layak menerima penyembahan dari semua makhluk.
  • Karena Allah adalah pencipta dan penguasa yang berdaulat mutlak atas seluruh ciptaan, maka seluruh ciptaan bertanggung jawab untuk menyembah dan tunduk kepada-Nya.

Karena itu, keengganan dan ketidakseriusan dalam ibadah pada dasarnya merupakan suatu bentuk penghinaan, penghujatan, dan bahkan penyangkalan terhadap keberadaan Allah. Itu merupakan bentuk kefasikan yang sangat dikecam oleh Allah di dalam Alkitab (bd. Rom 1:18-21).

Selain itu, perlu diperhatikan pula bahwa sekalipun Allah menghendaki ibadah kepada-Nya, tidak semua ibadah berkenan kepada-Nya. Misalnya, dalam Matius 15:7-9 Yesus mengutip Yesaya 29:13 untuk mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berkenaan dengan ibadah yang mereka lakukan. Mereka adalah orang-orang yang sangat giat beribadah. Namun, karena ibadah mereka hanya bersifat lahiriah dan hanya didasarkan pada tradisi manusia, maka ibadah mereka tidak berkenan kepada Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menghendaki supaya kita beribadah kepada-Nya, tetapi lebih daripada itu, supaya kita beribadah kepada-Nya dengan benar. Dengan kata lain, ketekunan dalam beribadah saja tidaklah cukup. Selain ketekunan, kita harus memperhatikan karakteristik ibadah yang benar dan yang berkenan kepada Allah. Bila tidak, segala ketekunan ibadah kita hanya akan menjadi kesia-siaan belaka.

Setidaknya ada 3 karakteristik ibadah yang sejati, yang berkenan kepada Allah, dan yang harus senantiasa kita perhatikan, antara lain:

1. Ibadah itu berpusat pada Allah.

Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” (Wahyu 4:8-11)

Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus. Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.” Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring: “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” Dan keempat makhluk itu berkata: “Amin”. Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah. (Wahyu 5:8-14)

Bila kita membaca Wahyu 4 dan 5, kita akan mendapati suatu gambaran yang sangat menakjubkan berkenaan dengan ibadah di sorga. Dalam ibadah itu Allah menjadi pusat perhatian dari seluruh makhluk yang ada. Seluruh makhluk memperhatikan karakter Allah yang mahakudus, mahakuasa, dan kekal. Selain itu, mereka juga memperhatikan keagungan Allah dalam penciptaan alam semesta dan kemuliaan Yesus Kristus dalam penebusan umat-Nya. Semua itu membuat mereka tersungkur di hadapan Allah dan Yesus Kristus, melemparkan mahkota mereka, dan memuji Dia tiada henti. Tak ada seorangpun yang berusaha menonjolkan diri dan berusaha menarik perhatian orang lain bagi dirinya sendiri. Semua perhatian, pujian, hormat, dan kemuliaan ditujukan kepada Allah dan Yesus Kristus semata.

Berdasarkan gambaran ibadah di sorga itu, kita dapat menarik beberapa pelajaran penting berkenaan dengan karakteristik ibadah yang sejati, antara lain:

  • Ibadah itu bukan tentang kita.

Ibadah itu bukan tentang kehebatan, kecakapan, kebaikan, kesalehan, kehormatan, dan keinginan kita. Ibadah itu bukan tentang bagaimana kita dapat menarik perhatian orang lain dan membuat mereka memuji diri kita. Ibadah itu juga bukan tentang bagaimana kita dapat memanipulasi Allah supaya Dia memberikan segala sesuatu yang kita inginkan. Bila kita beribadah dengan motivasi demikian, sesungguhnya kita telah melakukan ibadah yang kosong, munafik, dan sia-sia.

  • Ibadah itu bukan tentang orang ataupun tentang hal-hal lain.

Ibadah itu bukan tentang keindahan suara pemimpin pujian, kecakapan para pemain musik, kefasihan bicara pemimpin doa, atau kesalehan pemimpin ibadah. Ibadah itu juga bukan tentang kecanggihan peralatan yang digunakan, kemewahan gedung gereja, baiknya cuaca, atau hal-hal lain. Tentu saja semua itu penting dan patut diupayakan dalam ibadah demi mempersembahkan yang terbaik bagi kemuliaan Allah. Namun, semua itu tidak sepatutnya menjadi dasar yang menentukan kerinduan dan kesungguhan ibadah kita kepada Allah. Bila kita mendasarkan dan menggantungkan ibadah kita pada semua itu, sesungguhnya kita sedang melaksanakan ibadah dengan dasar yang keliru.

  • Ibadah itu semata-mata tentang Allah.

Ibadah itu semata-mata tentang siapa Allah, tentang apa yang Dia kerjakan, dan tentang apa yang Dia kehendaki. Ibadah itu haruslah didasarkan dan dimotivasi oleh kekaguman akan Allah, kesadaran akan ketidakberdayaan dan kebergantungan kepada Allah, dan kerinduan untuk memuliakan Allah. Singkatnya, ibadah itu haruslah berpusat pada Allah. Itulah ibadah yang sejati yang Allah kehendaki.

Bagaimana kita dapat melaksanakan ibadah yang demikian? Dengan senantiasa merenungkan kemuliaan Allah — kesempurnaan karakter-Nya, keagungan karya-Nya, dan kebenaran kehendak-Nya — setiap waktu secara berkesinambungan sampai hati, pikiran, dan seluruh hidup kita dikuasai oleh-Nya, sampai diri kita dan segala sesuatu yang lain tidak lagi berarti, sampai kita tersungkur di hadapan-Nya dalam kekaguman, pujian, dan ucapan syukur kepada-Nya. Tentu saja, semua ini tidak mudah dan membutuhkan proses yang panjang. Namun, kita harus berjuang untuk melakukannya. Hanya dengan demikian kita dapat mempersembahkan ibadah yang sejati kepada Allah.

2. Ibadah itu dilakukan dalam roh dan kebenaran atas dasar iman kepada Yesus Kristus.

Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” (Yohanes 4:19-26)

Dalam Yohanes 4 diceritakan perjumpaan dan percakapan Yesus dengan seorang wanita Samaria di sumur Yakub. Segera setelah wanita Samaria itu menyadari bahwa Yesus adalah seorang nabi, dia pun menanyakan perihal ibadah yang benar, apakah ibadah itu harus dilakukan di atas gunung Gerisim atau di Yerusalem. Lalu, sebagai jawaban atas pertanyaan wanita itu Yesus menyatakan bahwa ibadah yang benar bukanlah tentang di mana ibadah itu dilakukan, melainkan tentang bagaimana ibadah itu dilakukan. Dia menyatakan bahwa ibadah yang Allah kehendaki adalah ibadah yang dilakukan dalam roh dan kebenaran. Namun, apakah yang dimaksudkan-Nya dengan ibadah dalam roh dan kebenaran?

Berdasarkan konteks percakapan Yesus dengan wanita Samaria itu, setidaknya ada 3 hal yang Yesus nyatakan berkenaan dengan ibadah yang sejati, antara lain:

  • Ibadah itu haruslah dilakukan dalam kesungguhan hati.

Ada sebagian orang yang memahami frase “menyembah dalam roh” yang digunakan dalam bagian ini dengan pengertian “menyembah dengan menggunakan bahasa roh”. Namun, pemahaman itu tidak sesuai dengan konteks bagian ini, karena dalam bagian ini Yesus sama sekali tidak berbicara tentang karunia bahasa roh. Selain itu, pemahaman itu juga keliru secara teologis, karena karunia bahasa roh tidak diberikan kepada semua orang percaya, tetapi hanya kepada sebagian orang saja (1Kor 12:10-11, 28-30). Karena itu, bila bahasa roh merupakan syarat ibadah yang benar, bagaimana orang-orang percaya yang tidak memperoleh karunia bahasa roh dapat melaksanakan ibadah yang benar?

Ada pula sebagian orang lain yang memahami frase “menyembah dalam roh” yang digunakan dalam bagian ini dengan pengertian “menyembah dalam pimpinan Roh Kudus”. Sekalipun pemahaman ini tidak keliru secara teologis, pemahaman ini tidak sesuai dengan konteks, karena dalam bagian ini Yesus sama sekali tidak berbicara tentang Roh Kudus dan karya-Nya dalam diri orang percaya. Dia baru membicarakan pribadi dan karya Roh Kudus dalam diri orang percaya pada pasal 14-16.

Frase “menyembah dalam roh” yang digunakan dalam bagian ini lebih tepat dipahami dengan pengertian “menyembah dengan kesungguhan hati”, yaitu suatu kontras terhadap penyembahan yang bersifat lahiriah semata. Pengertian ini lebih sesuai dengan konteks percakapan Yesus dengan wanita Samaria itu. Wanita Samaria itu nampaknya mempunyai anggapan bahwa benar-tidaknya suatu ibadah ditentukan oleh tempat pelaksanaannya, sehingga dia menanyakan tempat ibadah yang benar kepada Yesus. Namun, Yesus mengoreksi anggapan wanita Samaria itu dengan menyatakan bahwa benar-tidaknya suatu ibadah tidak dibatasi dan tidak ditentukan oleh tempat pelaksanaannya (ay. 21), melainkan oleh sikap hati orang yang melaksanakannya, apakah dia menyembah dengan penuh kesungguhan atau tidak. Sekalipun seseorang beribadah di Yerusalem dengan cara dan sikap yang benar secara lahiriah, bila dia melakukannya tanpa hati yang sungguh-sungguh mengasihi dan menghormati Allah, segala bentuk ibadah yang dilakukannya hanya akan menjadi suatu kemunafikan yang menjijikkan di hadapan Allah (bd. Mat 15:7-9).

Lebih jauh lagi, untuk menegaskan pernyataan-Nya, Yesus menyatakan bahwa Allah itu roh (ay. 24). Dia tidak bersifat material dan tidak dibatasi oleh hal-hal yang bersifat lahiriah. Karena itu, ibadah kepada-Nya tidak sepatutnya dibatasi oleh hal-hal lahiriah seperti waktu dan tempat ibadah, jenis dan alat musik yang digunakan, posisi dan gerakan tubuh tertentu, dan sebagainya. Sebaliknya, ibadah itu sepatutnya dilakukan dengan kerinduan dan kesungguhan hati yang mengatasi segala batasan lahiriah. Ketika keadaan dan hal-hal lahiriah seakan tidak memungkinkan pelaksanaan ibadah kepada Allah, hati yang sungguh-sungguh mengasihi dan merindukan Allah akan selalu berupaya mencari jalan untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang didorong oleh kasih dan kesungguhan hati seperti itulah yang sesungguhnya Allah kehendaki.

Pertanyaannya, bagaimana dengan ibadah yang kita lakukan? Apakah kita melaksanakannya dengan sungguh-sungguh karena kasih kepada Allah atau semata-mata karena kebiasaan dan keterpaksaan? Apakah kita sungguh-sungguh berupaya mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada Allah tak peduli betapapun besarnya tantangan yang kita hadapi, atau kita justru berupaya mencari-cari alasan untuk tidak beribadah kepada Allah? Marilah kita memeriksa hati kita masing-masing di hadapan Allah.

  • Ibadah itu haruslah dilakukan dalam pengenalan akan Allah.

Selain mengoreksi anggapan keliru yang dimiliki oleh wanita Samaria itu, Yesus juga menunjukkan persoalan lain yang dihadapi oleh wanita Samaria itu sehubungan dengan ibadah yang benar, di mana wanita Samaria itu tidak memiliki pengenalan yang benar akan Allah (ay. 22). Wanita Samaria itu mempersoalkan tempat ibadah yang benar, tetapi apa gunanya mengetahui tempat ibadah yang benar bila dia tak memiliki pengenalan akan Allah? Bagaimana dia dapat melaksanakan ibadah yang berpusat pada Allah bila dia tidak mengenal Allah? Bagaimana dia dapat mengasihi Allah, memuji dan memuliakan Dia, serta menaati kehendak-Nya dengan kesungguhan hati bila dia tidak mengenal Allah? Tidak mungkin. Tanpa pengenalan akan Allah, segala bentuk ibadah yang dilakukannya hanya akan menjadi ibadah yang kosong, tak berarti, dan bahkan menyimpang. Itulah sebabnya Yesus menyatakan kepadanya bahwa ibadah kepada Allah haruslah dilakukan dalam kebenaran, yaitu dalam pengenalan akan Allah.

Demikian pula, bila kita rindu melaksanakan ibadah yang benar dan berkenan kepada Allah, penting bagi kita untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Dia. Untuk itu, kita perlu membaca, merenungkan, dan mempelajari firman-Nya dengan tekun setiap hari. Itulah sarana yang Allah gunakan untuk memperkenalkan diri-Nya kepada kita (2Tim 3:15-17). Bila kita enggan mempergunakan sarana itu dengan baik, kita tak akan dapat mengenal Allah, lebih-lebih beribadah kepada-Nya dengan benar.

Selain itu, perlu diperhatikan pula bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa ibadah itu harus dilakukan “dalam roh dan dalam kebenaran” seolah-olah “dalam roh” dan “dalam kebenaran” merupakan 2 hal yang terpisah. Sebaliknya, Dia menyatakan bahwa ibadah itu harus dilakukan “dalam roh dan kebenaran,” di mana “dalam roh” dan “dalam kebenaran” merupakan satu kesatuan yang tak boleh dipisahkan satu sama lain. Tanpa kesungguhan hati, ibadah akan menjadi kegiatan agamawi yang kosong dan penuh kemunafikan. Sebaliknya, tanpa pengenalan akan Allah, ibadah akan menjadi kegiatan agamawi yang liar dan menyimpang (Ams 19:2-3; 29:18; Rom 10:1-3). Karena itu, kita perlu memperhatikan keduanya secara seimbang.

  • Ibadah itu haruslah dilakukan dalam iman kepada Yesus Kristus.

Akhirnya, Yesus menyatakan persoalan paling mendasar yang dihadapi oleh wanita Samaria itu, di mana dia tidak memiliki juruselamat atas hidupnya — sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi (ay. 22). Wanita Samaria itu telah tinggal dalam dosa perzinahan selama bertahun-tahun dan sistem agama yang dianutnya tidak memberikan jalan keluar atas persoalan itu. Tidak peduli seberapa tekun dia beribadah dalam agamanya, dia tetap adalah orang berdosa yang terasing dari Allah yang mahakudus. Ketekunan ibadahnya tak dapat menyucikan segala dosanya. Sebaliknya, dosa-dosanyalah yang justru mencemari ibadahnya kepada Allah. Karena itu, dia tidak mungkin dapat mempersembahkan ibadah yang berkenan kepada Allah. Dia membutuhkan seorang juruselamat yang dapat menyucikannya dari segala dosa, memperbaharui batinnya, menyingkapkan kebenaran kepadanya, dan memampukannya mengenal Allah serta beribadah kepada-Nya dengan benar.

Namun, Yesus tidak hanya menyatakan persoalan yang dihadapi wanita Samaria itu. Dia juga menyatakan jalan keluar atas persoalan itu. Pada ayat 26 Dia menyatakan bahwa sesungguhnya Dialah Mesias yang dijanjikan itu. Dia telah datang untuk menjadi juruselamat dunia (Ay. 42). Karena itu, di dalam Dia setiap orang percaya dapat datang dan beribadah kepada Allah dalam roh dan kebenaran. Sebaliknya, di luar Dia tak ada seorang pun yang dapat datang kepada Allah (Yoh 14:6).

Jadi, iman kepada Yesus Kristus merupakan syarat mutlak bagi ibadah yang sejati. Karena itu, bila Anda belum sungguh-sungguh percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat atas hidup Anda, percaya dan terimalah Dia sekarang. Bila tidak, segala bentuk ibadah yang Anda lakukan hanya akan menjadi kesia-siaan belaka. Sedangkan bagi Anda yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat atas hidup Anda, sadarilah senantiasa bahwa sesungguhnya karya penebusan Kristuslah yang memampukan dan melayakkan Anda datang beribadah kepada Allah, bukan usaha dan perbuatan baik apapun yang Anda lakukan. Ingat dan sadarilah hal itu setiap kali Anda beribadah kepada Allah.

3. Ibadah itu berkoherensi dengan seluruh aspek hidup kita.

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

Dalam Roma 12:1 Rasul Paulus menyatakan bahwa ibadah yang sejati meliputi seluruh hidup kita yang dipersembahkan kepada Allah. Artinya, ibadah itu tidak terbatas pada ritual keagamaan yang kita lakukan di suatu tempat tertentu, pada suatu waktu tertentu, dan dengan suatu tata cara tertentu saja. Lebih daripada itu, ibadah itu haruslah berkoherensi dengan seluruh aspek hidup kita, baik dalam pemikiran maupun dalam praktik hidup setiap hari. Bila tidak, maka segala bentuk ritual ibadah yang kita lakukan tidak akan berkenan kepada Allah.

Salah satu contoh bberkenaan dengan hal ini terdapat dalam Yesaya 58:1-12. Dalam nas tersebut Allah mengecam ibadah yang dilakukan oleh umat Yehuda. Di satu sisi, mereka nampaknya tekun beribadah dan gemar mempelajari firman Tuhan (ay. 2). Namun, di sisi lain, mereka bersikap mementingkan diri sendiri dan berlaku semena-mena terhadap orang lain (ay. 3b-4a). Dengan tegas Allah menyatakan bahwa ibadah mereka sama sekali tidak berkenan kepada-Nya (ay. 4b-5). Selanjutnya, Dia menyatakan bahwa ibadah yang dikehendaki-Nya adalah ibadah yang diwujudkan dalam kebajikan dan kemurahan hati (ay. 6-7) dan Dia berjanji akan mengganjar ibadah yang demikian dengan perkenan-Nya (ay. 8-12).

Karena itu, selain sikap dan cara ibadah, penting pula bagi kita untuk memperhatikan sikap dan cara hidup kita setiap hari. Ingatlah, tidak ada dualisme rohani-sekuler di dalam kekristenan, karena keduanya saling terkait satu sama lain. Kita harus memperhatikan yang satu dan tidak boleh mengabaikan yang lain.

Akhirnya, marilah kita senantiasa memperhatikan 3 karakteristik ibadah yang sejati ini:

  1. Ibadah itu berpusat pada Allah,
  2. Ibadah itu dilakukan dalam kesungguhan hati dan pengenalan akan Allah atas dasar iman kepada Yesus Kristus, dan
  3. Ibadah itu berkoherensi dengan seluruh aspek hidup kita.

Sekali lagi, semua ini tidak mudah untuk dikerjakan. Namun, justru karena itulah kita perlu bersandar pada pertolongan Roh Kudus dan mendisiplin diri setiap hari untuk mengerjakannya. Dengan demikian akan nampak seberapa besar kasih dan kerinduan kita akan Allah.

Kiranya Allah senantiasa dimuliakan melalui ibadah dan hidup kita setiap hari. Amin.

Pertanyaan: Tantangan apa saja yang Anda hadapi sehubungan dengan ibadah yang sejati? Silahkan bagikan pengalaman Anda melalui kolom komentar di bawah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.