Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

3 Karakteristik Kasih Gayus

Dari penatua kepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran….
Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing. Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, jikalau engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah. Sebab karena nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatupun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran. (3 Yohanes 1, 5-8)

Seperti halnya dalam suratnya yang kedua, dalam suratnya yang ketiga Rasul Yohanes juga menyebut dirinya dengan sebutan “penatua”. Namun, berbeda dengan surat 2 Yohanes yang nampaknya ditujukan pada sebuah gereja lokal, surat 3 Yohanes ditujukan pada seorang individu yang bernama Gayus. Selain apa yang dikemukakan dalam surat ini, tidak banyak yang dapat kita ketahui tentang hal ikhwalnya. Apakah dia adalah seorang penatua, diaken, atau anggota jemaat biasa, kita pun tidak dapat mengetahuinya secara pasti. Walaupun demikian, dia memiliki reputasi yang baik di antara orang-orang percaya karena kasih dan kebaikannya.

Setidaknya ada 3 hal yang dapat kita pelajari berkenaan dengan kasih Gayus, antara lain:

1. Kasih Gayus diterapkan pada orang yang benar.

Kasih Gayus bukanlah kasih yang membabi buta. Dia tidak menerapkan kasihnya dengan beramah-tamah kepada sembarang orang, termasuk pada guru-guru palsu. Seandainya demikian, Rasul Yohanes tentu tidak akan memuji kasihnya. Sebaliknya, dia akan memperingatkan dan menegurnya, seperti yang dilakukannya dalam surat sebelumnya (2Yoh 10-11).

Kasih Gayus ditujukan kepada orang yang benar. Dalam hal ini dia menerapkan kasihnya dengan menerima dan mendukung para pemberita Injil yang sejati, yang setidaknya memiliki 2 kriteria sebagaimana disebutkan pada ayat 7:

  • Mereka membawa pengajaran yang benar.

Berkebalikan dengan guru-guru palsu yang pergi dengan menyangkal kebenaran Kristus (2Yoh 7), para pemberita Injil yang sejati pergi demi nama Kristus. Mereka pergi untuk memberitakan dan mengajarkan Injil Yesus Kristus. Ya, mereka tidak menyembunyikannya, tetapi memberitakannya. Mereka tidak menyangkalinya, tetapi mengajarkannya. Karena itu, mereka dapat dibedakan dari guru-guru palsu berdasarkan ajaran yang mereka bawa.

  • Mereka memiliki motivasi yang benar.

Pemberita Injil yang sejati tidak memberitakan Injil untuk mencari keuntungan dan kemuliaan bagi diri mereka sendiri. Sebaliknya, mereka justru rela mengalami berbagai kesukaran dan penderitaan demi Injil Yesus Kristus yang mereka beritakan (bd. 2Kor 2:17; 4:2, 5). Apapun yang terjadi, mereka tidak akan mengurangi, memutarbalikkan, apalagi menyangkali, kebenaran Injil itu. Kapanpun dan di manapun, berita mereka akan selalu konsisten, karena kemuliaan Kristuslah yang menjadi motivasi utama mereka.

Para pemberita Injil yang demikianlah yang diterima dan didukung oleh Gayus dengan segala keramahannya. Karena itu, Rasul Yohanes memuji kasihnya itu. Dan, lebih jauh lagi, Rasul Yohanes mendorongnya untuk tetap berbuat demikian, karena dengan berbuat demikian dia turut mengambil bagian dalam pekerjaan mereka untuk kebenaran (ay. 8; bd. Mat 10:40-42).

2. Kasih Gayus diterapkan tanpa memandang bulu.

Uraian pada bagian sebelumnya mungkin menimbulkan sebuah pertanyaan dalam benak sebagian orang: “Bila kasih tidak sepatutnya diterapkan pada sembarang orang, apakah itu berarti kasih bersifat membeda-bedakan dengan memilih-milih?” Jawaban atas pertanyaan ini adalah “ya” dan “tidak” bergantung pada apa yang menjadi dasar pembedaan itu dan bagaimana kasih itu diterapkan.

Bila hal itu menyangkut kebenaran dan kesesatan, tentu saja kasih itu bersifat membedakan dan memilih. Kasih yang sejati tidak dapat dipisahkan dari kebenaran. Karena itu, dia akan selalu berpihak pada kebenaran dan melawan kesesatan. Dia akan menerima dan mendukung orang-orang yang berjalan dalam kebenaran, tetapi akan menegur dan melawan orang-orang yang berjalan dalam kesesatan.

Namun, bila hal itu menyangkut hal-hal lain, seperti status sosial, tingkat pendidikan, etnis, dan sebagainya, kasih Kristiani tidak bersifat membeda-bedakan dan memilih-milih. Dia terbuka bagi semua orang dari segala latar belakang. Dia mau menerima dan bergaul dengan semua orang, sejauh hal itu selaras dengan kebenaran.

Kasih seperti itulah yang diterapkan oleh Gayus. Dia bersikap baik dan ramah terhadap setiap orang percaya dan pemberita Injil yang mengunjunginya, tak peduli dari mana asal mereka dan bagaimana latar belakang mereka. Sekalipun mereka adalah orang-orang asing yang belum dikenalnya secara pribadi (ay. 5), dia bersedia menerima mereka, memperlakukan mereka sebagai saudara, dan menyokong mereka dalam perjalanan dan pelayanan mereka.

3. Kasih Gayus diterapkan dengan setia dan dengan penuh kesungguhan.

Ada orang yang bersikap baik dan ramah dalam perkataan, tetapi tidak demikian dalam perbuatan. Dia mungkin berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi dia tidak memberikan apapun yang diperlukan orang itu. Sesungguhnya, itu merupakan kebaikan dan keramahan yang kosong dan tak ada gunanya (Yak 2:15-16).

Namun, kasih Gayus bukanlah kasih seperti itu. Kasihnya bukanlah kasih yang teoretis, yang manis dalam perkataan saja. Sebaliknya, kasihnya adalah kasih yang praktis, yang nyata dalam perbuatannya, di mana dia membuka rumahnya bagi para pemberita Injil yang datang, menerima mereka dengan ramah, dan menyokong mereka dalam perjalanan pelayanan mereka. Lebih daripada itu, dia mengerjakan semuanya itu dengan setia dan dengan penuh kesungguhan. Artinya, dia tidak bersikap baik dan ramah hanya pada saat-saat tertentu saja, tetapi setiap waktu. Dia tidak setengah-setengah dalam melayani, tetapi dengan sepenuh hati dan dengan segala yang dimilikinya. Singkatnya, Dia adalah seorang yang dapat diandalkan dalam pelayanannya, khususnya dalam perhatian dan dukungannya terhadap para pemberita Injil.

Karena itu, tak mengherankan bila Gayus memiliki reputasi yang sangat baik di antara orang-orang percaya. Setiap orang yang pernah mengunjunginya mengenal kebaikan dan keramahannya, lalu bersaksi tentang kebaikan dan keramahannya itu di hadapan jemaat. Namun, satu hal yang jauh lebih penting daripada semuanya itu adalah bahwa Allah berkenan atas perbuatannya.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menerapkan kasih dan keramahan kepada orang-orang percaya dan para hamba Tuhan sebagaimana yang Allah kehendaki? Ingatlah, sikap kita terhadap umat Tuhan akan diperhitungkan pada hari penghakiman kelak (Mat 25:31-46). Bila kita sungguh-sungguh mengasihi Kristus, sepatutnyalah kita mengasihi umat dan hamba-hamba yang diutus-Nya juga.

Kiranya kasih Allah di dalam Yesus Kristus, Tuhan kita, semakin nyata dalam hidup kita. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.