Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

11 Aspek Kehidupan Kristen yang Sehat

“Kehidupan seperti apakah yang Allah kehendaki untuk Anda jalani di dunia ini?” Ini adalah pertanyaan yang sangat penting dan mendesak. Bila Anda tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan ini, Anda tidak akan dapat membangun kehidupan Kristen yang sehat seturut kehendak Allah. Anda mungkin sangat sibuk dengan segala rutinitas Anda. Namun, bila Anda tidak mengetahui tujuan hidup Anda secara jelas, Anda hanya akan berputar-putar di tempat tanpa mengalami kemajuan sedikitpun. Anda mungkin mengira bahwa Anda telah bekerja bagi Allah, tetapi sesungguhnya Anda sedang menyia-nyiakan hidup Anda. Karena itu, bila Anda ingin menggenapi kehendak Allah atas hidup Anda, Anda harus sungguh-sungguh memahami apa maksud dan rencana Allah atas hidup Anda.

Dalam jawaban-Nya terhadap pertanyaan seorang ahli Taurat yang hendak mencobai Dia, Yesus Kristus meringkaskan kehendak Allah atas kehidupan umat-Nya dalam 2 hukum:

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Matius 22:37-40)

Sesungguhnya, itulah gambaran besar dari desain kehidupan Kristen yang Allah kehendaki!

Bila Anda memperhatikan kedua hukum itu dengan seksama, Anda akan mendapati bahwa ada 3 kasih yang tercakup di dalamnya, yaitu kasih akan Allah, kasih akan diri sendiri, dan kasih akan sesama manusia. Ketiga kasih itu merupakan karakteristik kehidupan Kristen yang sehat. Ketiganya saling terkait dan tak dapat dipisahkan satu sama lain.

  • Anda tidak dapat mengasihi sesama Anda bila Anda tidak mengasihi diri Anda sendiri. Anda tidak dapat mengajar orang lain bila Anda sendiri enggan belajar. Anda tidak dapat berbelas kasihan kepada orang lain bila Anda sendiri mengalami kehampaan di dalam jiwa Anda. Anda tidak dapat membuat hidup orang lain bermakna bila Anda sendiri menyia-nyiakan hidup Anda!
  • Anda tidak dapat mengasihi diri Anda sendiri bila Anda tidak mengasihi Allah. Anda tidak dapat memiliki hikmat yang benar bila Anda tidak mengenal Allah. Anda tidak dapat mengalami damai sejahtera, kepuasan, dan sukacita sejati di dalam jiwa Anda bila Anda tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Anda tidak dapat menjalani kehidupan yang bermakna bila Anda tidak mengikuti kehendak Allah!
  • Anda tidak dapat mengasihi Allah bila Anda tidak mengasihi sesama Anda. Anda tidak dapat memuliakan Allah bila Anda tidak menjalankan peranan Anda sebagai garam dan terang di tengah-tengah dunia ini — dalam gereja, dalam keluarga, dalam pekerjaan, dan dalam masyarakat.

Karena itu, bila Anda ingin membangun dan memiliki kehidupan Kristen yang sehat seturut kehendak Allah, Anda harus memperhatikan, menerapkan, dan mengembangkan ketiga kasih itu secara seimbang.

Anda muhngkin bertanya: “Bagaimana penerapan praktis dari ketiga kasih itu? Apa saja yang perlu diperhatikan dalam penerapan ketiga kasih itu?” Untuk membantu Anda, berikut ini akan saya bagikan beberapa hal penting yang patut Anda perhatikan dalam masing-masing kasih itu. Anda dapat menggunakannya sebagai check list untuk mengevaluasi hidup Anda.

Kasih akan Allah

Setidaknya ada 3 hal yang patut kita perhatikan berkenaan dengan kasih akan Allah, antara lain:

1. Pengenalan akan Allah

Ini merupakan elemen paling mendasar dari kasih akan Allah, bahkan dari seluruh bangunan hidup kekristenan kita. Kita tidak dapat mengasihi Allah bila kita tidak mengenal siapa Dia. Kita tidak dapat memuji Allah secara tulus dari dalam hati kita bila kita tidak mengenal karya-Nya. Kita tidak dapat menyenangkan Allah bila kita tidak mengenal kehendak-Nya. Karena itu, penting bagi kita untuk terus-menerus meningkatkan pengenalan kita akan Allah: Siapa Dia, apa yang Dia kerjakan, dan apa yang Dia kehendaki atas hidup kita.

2. Persekutuan dengan Allah

Kita tidak dapat mengasihi Allah bila kita enggan, jarang, dan bahkan tidak pernah berelasi dengan Dia. Selain itu, kita tidak akan dapat mengalami kepuasan dan sukacita sejati di dalam jiwa kita bila kita tidak memiliki persekutuan dengan Allah, sumber kepuasan dan kebahagiaan yang sejati. Akibatnya, bukannya mengasihi dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain, kita justru akan menuntut orang lain memuaskan jiwa kita — sesuatu yang tidak mungkin dapat mereka lakukan — dan membenci mereka ketika mereka gagal melakukannya. Karena itu, penting bagi kita untuk memiliki persekutuan dengan Allah setiap waktu.

3. Keserupaan dengan gambar Allah

Sejak awal Allah merancang kita seturut gambar-Nya supaya kita dapat mencerminkan kemuliaan karakter-Nya di tengah-tengah dunia ini (Kej 1:26-27; Yes 43:7). Namun, setelah kejatuhan dalam dosa, gambar itu rusak dan hidup kita tidak lagi sesuai dengan rancangan Allah. Walaupun demikian, rancangan Allah atas hidup kita tidak pernah berubah. Melalui karya penebusan Kristus yang sempurna dan melalui karya Roh Kudus di dalam hidup kita Allah terus-menerus berkarya memulihkan hidup kita seturut rancangan-Nya. Karena itu, keserupaan dengan gambar Allah — dengan karakter-Nya yang kudus, benar, adil, penuh kasih, panjang sabar, murah hati, dan sebagainya — harus menjadi tujuan hidup kita. Hanya dengan demikian hidup kita akan sungguh-sungguh bermakna.

Kasih akan Diri Sendiri

Setidaknya ada 4 hal yang patut kita perhatikan berkenaan dengan kasih akan diri sendiri, antara lain:

1. Pengelolaan waktu

Ketika kita berbicara tentang hidup, pada dasarnya kita sedang berbicara tentang waktu atau kesempatan yang Allah karuniakan kepada kita. Bila kita tidak mengatur penggunaan waktu kita dengan baik, kita akan cenderung menggunakannya secara sembarangan untuk hal-hal yang tidak berguna. Dengan demikian kita sedang menyia-nyiakan dan menghancurkan hidup kita sendiri. Karena itu, bila kita mengasihi diri kita, maka penting bagi kita untuk memperhatikan dan mengatur penggunaan waktu kita dengan baik. Singkirkan segala aktivitas yang tidak bermanfaat dan pastikan bahwa kita menggunakan waktu kita hanya untuk hal-hal yang bermanfaat sesuai dengan panggilan Allah atas hidup kita.

2. Pengembangan wawasan dan keterampilan

Kita tidak akan dapat memaksimalkan hidup kita dan menjalaninya secara bijaksana bila kita tidak memiliki wawasan dan keterampilan yang memadai. Misalnya, kita tidak akan dapat memelihara kesehatan tubuh kita secara bijaksana bila kita tidak mengetahui bagaimana pola makan yang tepat dan cara berolahraga yang benar. Kita tidak akan dapat mendidik anak secara bijaksana bila kita tidak memiliki wawasan yang memadai tentang cara mendidik anak yang baik. Kita juga tidak akan dapat meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja kita bila kita tidak meningkatkan wawasan dan keterampilan kita.

Selain itu, seperti yang pernah dikatakan Rick Warren, “Ketika Anda berhenti belajar, Anda berhenti memimpin.” Dengan kata lain, ketika kita berhenti meningkatkan wawasan, keterampilan, dan kualitas diri kita, kita akan ditinggalkan oleh kemajuan zaman. Akibatnya, kita tidak akan dapat membawa pengaruh dan memberikan kontribusi positif yang berarti di tengah-tengah dunia ini. Seperti garam yang tidak lagi asin, kita akan disingkirkan dan diinjak orang (Mat 5:13). Karena itu, adalah penting bagi kita untuk terus-menerus belajar dan mengembangkan wawasan, keterampilan, serta sumber daya yang kita miliki.

3. Pemeliharaan kesehatan tubuh

Tidak ada seorangpun yang ingin mengalami sakit-penyakit. Semua orang ingin memiliki tubuh yang sehat dan bugar. Namun, berapa banyak orang yang sungguh-sungguh memperhatikan pola makan, pola istirahat, dan olahraga demi memelihara kesehatannya?

Seiring dengan bertambahnya usia kita, khususnya sejak usia 30 tahun, kekuatan dan kesehatan tubuh kita akan terus-menerus mengalami kemerosotan. Kemerosotan itu akan berjalan semakin cepat dan signifikan bila kita tidak berusaha mempertahankannya dengan menjaga pola makan, pola istirahat, dan olahraga yang memadai. Karena itu, bila kita ingin tetap memiliki tubuh yang sehat dan menjalani hidup yang efektif seturut kehendak Allah, kita harus memelihara kesehatan tubuh kita dengan baik.

4. Pengelolaan keuangan

Ada orang yang berpenghasilan besar, tetapi dia tidak mengelola keuangannya dengan bijaksana. Dia mempergunakan uangnya untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Akibatnya, dia hidup dalam kekurangan, lalu dia bersungut-sungut kepada Allah atas keadaannya itu.

Di sisi lain, ada orang yang berpenghasilan kecil, tetapi dia mengelola keuangannya dengan bijaksana. Setiap kali dia menerima penghasilan, dia memilah-milahnya ke dalam beberapa amplop, seperti amplop persembahan dan sedekah, amplop pendidikan, amplop tabungan, dan amplop kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, sekalipun hidupnya mungkin sangat sederhana, dia dapat mencukupkan diri dengan apa yang ada. Lebih daripada itu, dia dapat mengucap syukur kepada Allah dan berbagi dengan sesama.

Kedua jenis orang itu tidak hanya ada dalam cerita dongeng, tetapi juga ada dalam kehidupan nyata. Kita dapat menjumpai kedua jenis orang itu di sekitar kita. Kenyataan akan adanya kedua jenis orang itu menunjukkan kepada kita bahwa kecukupan hidup tidak ditentukan oleh seberapa banyak kekayaan yang diperoleh seseorang, tetapi ditentukan oleh seberapa bijaksana cara orang itu dalam mengelola kekayaannya. Karena itu, bila kita ingin hidup dengan rasa cukup, kita harus mengelola keuangan kita dengan bijaksana.

Kasih akan Sesama

Setidaknya ada 4 hal yang patut kita perhatikan berkenaan dengan kasih akan sesama, antara lain:

1. Peranan di dalam gereja

Sebagai orang percaya, kita adalah anggota-anggota tubuh Kristus. Kita dipanggil untuk bekerja sama dalam pembangunan tubuh Kristus, baik dalam pemberitaan Injil, dalam pekerjaan pelayanan, maupun dalam persekutuan dan ibadah bersama. Allah telah memperlengkapi kita dengan karunia-karunia yang berbeda-beda supaya kita dapat saling melengkapi seorang akan yang lain. Karena itu, kita bertanggung jawab untuk mempergunakan karunia-karunia itu dengan bijaksana dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan tubuh Kristus.

2. Peranan di dalam keluarga

Setiap orang memiliki peranan dan tanggung jawab yang harus dikerjakannya di dalam keluarga, entah sebagai suami, istri, orangtua, anak, saudara, atau lainnya. Orang-orang percaya pun tidak luput dari peran dan tanggung jawab itu. Dalam suratnya kepada jemaat Efesus dan jemaat Kolose Rasul Paulus menasihatkan supaya setiap suami mengasihi istrinya, setiap istri tunduk kepada suaminya, setiap orangtua mendidik anak-anaknya, dan setiap anak menghormati orangtuanya (Ef 5:22—6:4; Kol 3:18-21). Bahkan, dalam 1 Timotius 5:8 dia mengatakan bahwa bila ada orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk daripada orang yang tidak beriman. Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa memperhatikan peran dan tanggung jawab kita di dalam keluarga.

3. Peranan di dalam pekerjaan

Alkitab mengecam orang-orang yang malas. Dalam Amsal 6:6-11 Raja Salomo menegur para pemalas dan menyuruh mereka belajar kepada semut. Dalam 2 Tesalonika 5:10-11 Rasul Paulus dengan tegas menegur anggota-anggota jemaat yang tidak mau bekerja dan memperingatkan, “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”

Lebih jauh lagi, orang-orang percaya tidak hanya diperintahkan untuk bekerja, tetapi untuk bekerja dengan motivasi dan standar kerja yang tinggi. dalam Efesus 4:28 Rasul Paulus menasihatkan supaya orang-orang percaya bekerja keras, bukan hanya supaya mereka dapat mencukupi kebutuhannya sendiri, tetapi juga supaya mereka dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Kemudian, dalam Efesus 6:5-9 dan Kolose 3:22—4:1 dia menasihatkan supaya hamba-hamba Kristen tunduk kepada majikannya dan bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan supaya majikan-majikan Kristen berlaku adil dan jujur terhadap bawahan mereka. Karena itu, janganlah kita malas dan lalai dalam bekerja. Sebaliknya, marilah kita bekerja dengan penuh tanggung jawab supaya kita dapat mencukupi kebutuhan hidup kita, menjadi berkat bagi sesama, dan memuliakan Allah.

4. Peranan di dalam masyarakat

Sebagai garam dan terang dunia kita dipanggil untuk membawa dampak positif dan menyatakan kemuliaan Allah di tengah-tengah dunia ini (Mat 5:13-16). Kita tidak akan dapat menggenapi panggilan Allah itu bila kita bersikap acuh tak acuh, berdiam diri, dan mengeluh atas segala keadaan buruk yang terjadi. Kita harus berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa ini dan berusaha memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar kita. Bagaimanapun juga, kesejahteraan bangsa ini adalah kesejahteraan kita juga (Yer 29:7). Karena itu, kita perlu mendoakan dan mengupayakan kesejahteraan bangsa ini. Sekecil apapun kontribusi yang kita berikan, itu sangatlah berarti.

Jadi, Anda lihat, Allah menghendaki umat-Nya bertumbuh dalam seluruh aspek hidupnya, bukan hanya satu-dua aspek saja. Karena itu, bila Anda sungguh-sungguh rindu membangun kehidupan Kristen yang sehat seturut kehendak Allah, perhatikanlah segala aspek itu secara seimbang. Tidak mudah, tetapi berjuanglah! Kemuliaan kekal menanti di depan!

Kiranya Allah, oleh hikmat, kuasa, dan kasih karunia-Nya di dalam Yesus Kristus, membimbing dan menolong kita untuk menggenapi rencana-Nya atas hidup kita. Amin.

Pertanyaan: Kesulitan apa saja yang Anda hadapi dalam proses membangun kehidupan Kristen yang sehat? Silahkan bagikan pengalaman Anda melalui kolom komentar di bawah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.