Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Kuasa Kasih Karunia Allah dalam Kehidupan Rasul Paulus

Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. (1 Korintus 15:8-10)

Banyak orang memahami kasih karunia sebagai suatu obyek pemberian yang pasif, di mana efektivitas kasih karunia itu bergantung pada orang yang menerimanya. Bila orang itu mempergunakannya dengan baik, maka kasih karunia itu akan memberikan manfaat. Namun, bila orang itu tidak mempergunakannya dengan baik, maka kasih karunia itu tidak akan memberi manfaat apa-apa.

Adalah benar bahwa kasih karunia merupakan pemberian Allah. Namun, itu bukanlah suatu obyek pemberian yang pasif. Sebaliknya, kasih karunia itu bersifat aktif dan efektif. Dia bekerja dengan penuh kuasa di dalam diri orang yang menerimanya dan memberikan manfaat seturut kehendak Allah yang memberikannya. Dia tidak akan gagal dan menjadi sia-sia. Sebaliknya, dia akan mencapai tujuan Allah atasnya.

Pemahaman inilah yang dipegang dan disadari oleh Rasul Paulus. Karena itu, dalam 1 Korintus 15:10 dia sangat menekankan peranan kasih karunia di dalam hidup dan pelayanannya. Dia menegaskan bahwa sesungguhnya kasih karunia Allah itulah yang telah bekerja secara aktif dan efektif di dalam dirinya, sehingga dia dapat hidup dan melayani sebagaimana adanya sekarang.

Berdasarkan apa yang dikemukakan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:8-10, kita dapat memperoleh gambaran bagaimana kasih karunia Allah bekerja di dalam dirinya. Kasih karunia itu diterimanya secara tak terduga — seperti anak yang lahir sebelum waktunya — dalam perjalanan ke Damsyik, di mana Yesus menyatakan diri-Nya kepadanya. Hal itu membuatnya menyadari bahwa Yesus, yang selama ini dianggapnya sebagai penyesat yang telah mati, sesungguhnya adalah Tuhan dan Kristus yang sejati, sebagaimana dibuktikan melalui kebangkitan-Nya.

Selanjutnya, atas dasar kenyataan itu, ada 3 hal yang dikerjakan oleh kasih karunia Allah di dalam diri Rasul Paulus, antara lain:

1. Kasih karunia Allah membangkitkan kerendahan hati di dalam dirinya.

Sesungguhnya, semua manusia telah berbuat dosa dan tidak layak di hadapan Allah. Tak ada seorang pun yang benar dan berkenan kepada-Nya. Semuanya najis dan menjijikkan di hadapan-Nya. Tak peduli seberapa banyak perbuatan baik yang mereka kerjakan, semuanya telah tercemar oleh dosa.

Persoalannya, tidak semua orang sungguh-sungguh menyadari keadaannya itu. Banyak orang menganggap dirinya cukup baik, lebih-lebih bila mereka membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka beranggapan bahwa mereka dapat menutupi dosa dan kenajisan mereka dengan berbagai perbuatan baik. Karena itu, tak mengherankan bila mereka mudah sekali tergelincir ke dalam kesombongan.

Namun, tidak demikian halnya dengan Rasul Paulus. Kasih karunia yang diterimanya dalam perjumpaan dengan Yesus Kristus yang bangkit telah membuatnya menyadari dosanya yang begitu besar, di mana dia telah menganiaya jemaat Allah. Dia menyadari bahwa sesungguhnya dia adalah orang yang sangat berdosa dan sama sekali tidak layak di hadapan Allah. Jangankan diangkat menjadi rasul, diselamatkan dari kebinasaan kekal pun sesungguhnya dia tidak layak. Bila dia dapat diselamatkan dan diangkat menjadi rasul, itu semata-mata karena belas kasihan dan kemurahan Allah oleh pengorbanan Yesus Kristus baginya. Karena itu, sekalipun dia telah bekerja lebih keras dari rasul-rasul lainnya, dia tidak menjadi sombong. Sebaliknya, dengan rendah hati dia menyebut dirinya sebagai yang paling hina di antara semua rasul (ay. 9), bahkan di antara semua orang berdosa (1Tim 1:15).

2. Kasih karunia Allah mengerjakan pembaharuan besar di dalam hidupnya.

Kesadaran akan dosa dan ketidaklayakan di hadapan Allah tidak selalu membuat seseorang mengalami perubahan positif dalam hidupnya. Sebagian orang tenggelam dalam penyesalan dan rasa bersalah yang berlebihan, lalu mereka menjadi putus asa dan menghancurkan dirinya sendiri. Sebagian orang yang lain menyesali dan menangisi keadaannya yang berdosa dan kelam, tetapi mereka tidak beranjak dari keadaan itu. Mereka tetap tinggal dalam dosa-dosa mereka sebagai orang-orang yang terbelenggu.

Namun, tidak demikian halnya dengan Rasul Paulus. Kasih karunia yang diterimanya dalam perjumpaan dengan Yesus Kristus yang bangkit tidak hanya menyadarkannya akan dosanya yang begitu besar di hadapan Allah, tetapi juga mengerjakan suatu pembaharuan besar di dalam dirinya. Sejak saat itu pola pikir, motivasi hati, dan cara hidupnya mengalami perubahan yang luar biasa. Dia tidak lagi memandang Injil Yesus Kristus sebagai kesesatan dan kebodohan, tetapi sebagai kebenaran dan hikmat Allah yang menakjubkan. Dia tidak lagi mengejar kebanggan diri sebagai orang Yahudi, tetapi kemuliaan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat. Dia tidak lagi mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi kuasa Injil Yesus Kristus yang menyelamatkan. Singkatnya, sebagaimana dikatakannya pada ayat 10a, kasih karunia itu telah menjadikannya sebagaimana adanya sekarang, yaitu seorang manusia baru di dalam Kristus.

3. Kasih karunia Allah memberikan dorongan dan kekuatan di dalam dirinya untuk bekerja bagi Tuhan.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, sekalipun semua manusia telah berbuat dosa dan tidak layak di hadapan Allah, hanya sebagian saja yang sungguh-sungguh menyadari dosa dan ketidaklayakannya itu. Lalu, di antara mereka yang menyadari dosa dan ketidaklayakannya, hanya sebagian saja yang mengalami perubahan positif di dalam hidupnya. Itu adalah kenyataan yang sangat buruk dan menyedihkan.

Namun, lebih buruk lagi, di antara mereka yang nampaknya telah mengalami perubahan positif dalam hidupnya, ternyata hanya sebagian saja yang mau terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Sebagian yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka mungkin menghadiri ibadah gereja secara aktif, tetapi mereka tidak mau terlibat secara aktif dalam pekerjaan pelayanan, apalagi disibukkan olehnya. Mereka mau diperhatikan, dilayani, dan dimuridkan, tetapi mereka sendiri tidak mau memperhatikan, melayani, dan memuridkan orang lain. Mereka ingin anggota gereja bertambah, tetapi mereka sendiri tidak mau memberitakan Injil. Bila demikian, benarkah mereka telah menerima dan mengalami kuasa kasih karunia Allah dalam hidup mereka?

Apa yang terjadi dalam kehidupan Rasul Paulus sangat berbeda. Kasih karunia yang diterimanya dalam perjumpaan dengan Yesus Kristus yang bangkit tidak hanya membuatnya menyadari segala dosanya dan memperbaharui hidupnya, tetapi lebih daripada itu, kasih karunia itu juga membangkitkan suatu dorongan dan kekuatan yang sangat besar di dalam hatinya untuk bekerja bagi Tuhan. Segera setelah pertobatannya, dia terlibat aktif dalam pemberitaan Injil, pengajaran firman Tuhan, dan pekerjaan pelayanan. Ancaman, tekanan, kesukaran, penderitaan, dan penganiayaan telah dialaminya, tetapi semua itu tidak dapat menyurutkan semangat dan kegigihannya dalam memberitakan Injil dan melayani Tuhan. Sampai akhir hidupnya dia tetap setia bekerja bagi Tuhan dan membawa dampak yang sangat besar bagi perkembangan gereja Tuhan.

Demikianlah, kebangkitan Yesus Kristus telah mendatangkan kasih karunia yang begitu berlimpah dalam hidup Rasul Paulus, sehingga kasih karunia itu tak dapat dibendung lagi. Kasih karunia itu meluap keluar dari dalam jiwanya dan nampak secara nyata dalam kerendahan hatinya, dalam pembaharuan hidupnya, dan dalam kegigihannya dalam pemberitaan Injil dan pekerjaan pelayanan.

Namun, kebangkitan Yesus Kristus tidak hanya mendatangkan kasih karunia yang berlimpah bagi Rasul Paulus saja, tetapi juga bagi setiap orang percaya. Sebagaimana kasih karunia itu bekerja secara aktif dan efektif dalam diri Rasul Paulus, demikian pula kasih karunia itu bekerja secara aktif dan efektif dalam diri setiap orang percaya. Karena itu, bila Anda sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus Kristus telah mati dan bangkit bagi Anda, milikilah kerendahan hati, bertumbuhlah dalam pengudusan, dan giatlah dalam pekerjaan Tuhan. Dengan demikian akan nyata bahwa kasih karunia Allah oleh kuasa kebangkitan Kristus ada di dalam diri Anda.

Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, Tuhan kita, senantiasa berlimpah dalam hidup kita sekalian. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.