Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

3 Nasihat dalam Menghadapi Bahaya Kesesatan

Pada artikel sebelumnya saya telah membahas 4 hal yang membuat para guru palsu sangat berbahaya berdasarkan perkataan Rasul Yohanes dalam 2 Yohanes 7. Pertanyaannya, apa yang perlu kita perbuat berkenaan dengan keberadaan guru-guru palsu itu? Bagaimana kita menghadapi bahaya kesesatan yang ada di sekitar kita?

Setidaknya ada 3 nasihat yang diberikan Rasul Yohanes dalam suratnya yang kedua (2 Yohanes) berkenaan dengan bahaya kesesatan itu, antara lain:

1. Hidup dalam Kasih

Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu–bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya–supaya kita saling mengasihi. Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus. (2 Yohanes 5-7)

Pertama-tama, Rasul Yohanes menasihatkan supaya kita, orang-orang percaya, saling mengasihi. Sekilas, nasihat ini nampaknya tidak berhubungan dengan bahaya kesesatan yang sedang mengancam. Namun, sesungguhnya, nasihat ini sangat berkaitan dengan persoalan itu.

  • Kasih merupakan perintah yang sangat mendasar dalam kekristenan.

Kasih merupakan perintah lama yang telah kita terima sejak semula, yaitu sejak kita percaya kepada Yesus Kristus. Dengan kata lain, kasih merupakan perintah yang sangat mendasar dalam kekristenan. Bila Injil Yesus Kristus merupakan pengajaran yang paling mendasar dalam iman Kristen, maka kasih merupakan penerapan yang paling mendasar dalam etika Kristen. Karena itu, sebagaimana kita harus mempercayai Injil Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh di dalam hati kita, demikian pula kita harus menerapkan kasih dengan sungguh-sungguh di dalam persekutuan kita.

Dalam hal ini kita harus memperhatikan teguran yang diberikan Yesus kepada gereja di Efesus dalam Wahyu 2:4-5. Sekalipun mereka sangat ketat dalam pengajaran mereka, mereka meninggalkan kasih mereka yang semula. Yesus memandang hal itu sebagai kejatuhan yang amat dalam dan mengancam mereka dengan hukuman yang serius. Hal ini menunjukkan bahwa meninggalkan kasih tidak kalah seriusnya dengan meninggalkan iman. Karena itu, sembari kita waspada terhadap berbagai pengajaran sesat yang bermunculan, kita juga harus berjuang mempertahankan kasih kita, baik dalam relasi dengan Allah maupun dalam relasi dengan orang-orang percaya, karena keduanya tak terpisahkan satu sama lain.

  • Persekutuan kasih sangat diperlukan dalam menghadapi penyesatan.

Dalam upayanya menarik banyak orang keluar dari gereja, para penyesat akan mempergunakan berbagai macam cara. Selain menantang intelek kita dengan argumen-argumen mereka yang nampaknya masuk akal, mereka juga akan berusaha mempengaruhi emosi kita dengan perhatian, kelembutan, dan kebaikan mereka kepada kita. Bila persekutuan gereja dingin dan hambar, lebih-lebih bila persekutuan itu diwarnai dengan perselisihan dan pertengkaran yang tiada akhirnya, maka para penyesat itu akan mudah memikat banyak orang dengan perhatian, kelembutan, dan kebaikan mereka. Karena itu, penting bagi kita untuk membangun persekutuan yang saling mengasihi di dalam gereja. Dengan demikian kita akan kuat dan dapat bertahan dalam menghadapi penyesatan itu.

Walaupun demikian, kita perlu berhati-hati dalam menerapkan kasih. Sekalipun Rasul Yohanes menasihatkan supaya orang-orang percaya hidup dalam kasih, kasih yang dimaksudkannya bukanlah kasih yang sentimentil, sembarangan, dan membabi buta. Sebaliknya, kasih itu adalah kasih yang tidak terpisah dari kebenaran dan ketaatan kepada Allah. Dengan kata lain, kasih itu harus berdiri di atas dasar kebenaran dan harus diterapkan dalam ketaatan kepada Allah.

Karena itu, kasih tidak selalu bersikap lembut. Dia memang lembut terhadap orang-orang yang mau bertobat. Tidak peduli seberapa besar dosa mereka, asalkan mereka mau percaya kepada Yesus Kristus dan bertobat dari segala dosanya, kasih akan menerima mereka dalam persekutuan jemaat. Namun, kasih akan bersikap keras terhadap orang-orang yang tidak mau bertobat. Dia akan menegur dan menghajar mereka. Bahkan, lebih jauh lagi, bila mereka membahayakan jemaat dengan dosa dan kesesatan mereka, kasih tidak akan segan-segan menolak dan mengusir mereka dari persekutuan jemaat, karena kasih akan selalu berusaha melindungi jemaat dari dosa dan kesesatan yang membahayakan.

Jadi, sekali lagi, kita harus berhati-hati dalam hal ini. Jangan menceraikan kebenaran dari kasih dan jangan menceraikan kasih dari kebenaran. Kita harus memegang keduanya erat-erat dan menerapkannya secara bijaksana.

2. Mengawasi Diri Sendiri

Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. (2 Yohanes 8-9)

Selanjutnya, Rasul Yohanes menasihatkan supaya kita mengawasi diri kita sendiri. Nasihat ini sejalan dengan nasihat yang diberikan Rasul Paulus kepada Timotius dalam 1 Timotius 4:16. Sebelum kita menghadapi para penyesat dengan segala pengaruhnya, kita perlu mengawasi dan memeriksa diri kita terlebih dahulu: Apakah kita telah memiliki pemahaman yang benar dan lengkap tentang Injil Yesus Kristus? Apakah kita sungguh-sungguh percaya dan menerima kebenaran Injil itu di dalam hati kita? Dan, bila kita adalah seorang pemberita Injil atau pengajar firman Tuhan, apakah kita mengajarkan semuanya itu dengan benar dan akurat? Kita perlu memeriksa diri kita sendiri berkenaan dengan semuanya itu, bukan hanya sekali, tetapi secara terus-menerus setiap waktu, karena kesesatan dapat menyerang dan mempengaruhi kita kapanpun dan di manapun.

Selain itu, ada 2 alasan lain mengapa kita harus memastikan bahwa pemahaman dan iman kita akan Injil Yesus Kristus itu adalah pemahaman dan iman yang benar, lengkap, dan akurat:

  • Pemahaman dan iman kita akan menentukan upah kekal kita.

Selama ini kita mungkin telah berjerih-lelah dalam beribadah dan melayani. Kita mungkin berharap bahwa Allah akan memperhitungkan semuanya itu dan akan memberikan upah besar di sorga bagi kita. Namun, bila pemahaman dan iman kita akan Injil Yesus Kristus ternyata tidak lengkap dan tidak akurat, sehingga praktik ibadah dan pelayanan kita juga tidak sesuai dengan kehendak Allah, maka semua jerih-lelah itu akan menjadi sia-sia. Kita mungkin diselamatkan karena adanya secuil iman dalam hati kita, tetapi kita akan mengalami kerugian, karena Allah tidak akan memberikan upah apa-apa atas praktik ibadah dan pelayanan kita yang keliru itu (bd. 1Kor 3:12-15).

  • Pemahaman dan iman kita akan menentukan keselamatan kekal kita.

Keadaannya akan jauh lebih buruk lagi bila ternyata pemahaman dan iman kita akan Injil Yesus Kristus ternyata keliru. Karena kita tidak mengawasi diri kita dengan sungguh-sungguh, kita mungkin telah menyimpang dari Injil yang benar tanpa kita sadari. Secara lahiriah kita mungkin tergabung dalam persekutuan jemaat Allah, tetapi sesungguhnya kita tidak memiliki persekutuan dengan Allah sama sekali. Akibatnya, bukan hanya mengalami kerugian karena tidak mendapat upah atas segala jerih-lelah kita, tetapi lebih buruk lagi, kita justru akan menerima murka dan hukuman Allah yang kekal. Bukannya sukacita, justru dukacita dan penyesalan yang tiada habisnyalah yang akan kita alami kelak. Karena itu, sekali lagi, penting bagi kita untuk senantiasa mengawasi pemahaman dan iman kita dengan sungguh-sungguh.

Bagaimana kita dapat melakukannya? Tidak ada cara lain, kita harus mempelajari dan merenungkan firman Tuhan setiap waktu. Kita harus terus-menerus bercermin pada firman Tuhan dan membiarkannya mengoreksi diri kita, baik pemahaman, iman, maupun praktik hidup kita. Dengan demikian pemahaman kita akan dipertajam, iman kita akan diperkuat, dan hidup kita akan dikuduskan dalam kebenaran. Kesesatan tak akan dapat menggoyahkan iman kita dan kita pun dapat menjadi sarana Allah untuk memelihara jemaat-Nya.

3. Tidak Berkompromi dengan Para Penyesat

Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat. (2 Yohanes 10-11)

Akhirnya, Rasul Yohanes memperingatkan supaya kita tidak berkompromi dengan para penyesat. Dalam hal ini ada 2 peringatan yang diberikannya:

  • Jangan menerima mereka di dalam rumahmu.

Dalam hal ini ada 2 hal yang perlu kita pahami:

Pertama, pada waktu itu pertemuan jemaat diadakan di rumah-rumah. Karena itu, istilah “menerima di dalam rumah” merupakan sebuah istilah teknis yang berarti “menerima di dalam persekutuan jemaat”. Dengan kata lain, orang-orang percaya tidak sepatutnya menerima para penyesat di dalam persekutuan ibadah mereka.

Kedua, pada waktu itu ada banyak pemberita Injil dan pengajar yang pergi berkeliling dari gereja yang satu ke gereja yang lain, dari kota yang satu ke kota yang lain. Ketika mereka tiba di sebuah kota untuk melayani gereja yang ada di sana, gereja akan menyambut mereka, memberi mereka kesempatan untuk mengajar di dalam pertemuan jemaat, dan menyediakan tempat tinggal bagi mereka di salah satu rumah anggota jemaat. Hal itu dilakukan gereja sebagai bentuk dukungan terhadap para pengajar yang bersangkutan.

Celakanya, keramahan dan kebaikan gereja itu menjadi sebuah celah yang dimanfaatkan oleh para guru palsu untuk menyusup masuk ke dalam gereja. Mereka mungkin datang dan mengaku sebagai pengajar firman Tuhan, tetapi ternyata ajaran yang mereka beritakan justru bertentangan dengan firman Tuhan. Karena itu, Rasul Yohanes memperingatkan supaya jemaat berhati-hati dalam menerima dan mendukung pelayanan seorang pengajar. Bila pengajar itu tidak memberitakan Injil yang benar, gereja tidak boleh membiarkannya masuk dan mengajar di tengah-tengah mereka, apalagi mendukung pelayanannya. Sebaliknya, gereja harus menolaknya dari persekutuan mereka.

  • Jangan memberi salam kepada mereka.

Sebagaimana dalam budaya kita sekarang, dalam budaya pada waktu itu mengucapkan salam merupakan suatu bentuk keramah-tamahan. Karena itu, saling memberi salam merupakan sesuatu yang sangat umum pada waktu itu, bukan hanya di kalangan Kristen, tetapi juga di kalangan non-Kristen.

Walaupun demikian, bagi para rasul, sebuah salam memiliki nilai dan makna teologis yang jauh lebih dalam daripada sekedar keramah-tamahan. Bagi mereka, sebuah salam merupakan sebuah doa yang dipanjatkan kepada Allah bagi orang yang bersangkutan. Selain itu, memberi salam berarti juga menjalin persekutuan dengan mereka. Karena itu, Rasul Yohanes mengatakan bahwa memberi salam kepada seorang penyesat berarti juga mengambil bagian dalam perbuatannya yang jahat. Atas dasar itulah dia memperingatkan jemaat supaya jangan memberi salam secara sembarangan kepada penyesat.

Dengan memberikan 2 larangan ini jelaslah bahwa Rasul Yohanes tidak ingin kita berkompromi sedikitpun dengan para penyesat. Sedikit saja kita berkompromi dan membuka celah bagi mereka, mereka akan dapat menyelinap masuk dan mempengaruhi kita dengan kesesatannya. Karena itu, kita harus benar-benar waspada terhadap mereka.

Kita tinggal di tengah-tengah dunia yang penuh dengan rupa-rupa kesesatan. Semakin hari kesesatan itu akan semakin bertambah banyak, baik jumlah maupun jenisnya. Karena itu, marilah kita mempererat persekutuan kasih kita seorang akan yang lain, marilah kita mengawasi diri kita dalam kebenaran setiap waktu, dan janganlah kita berkompromi sedikitpun dengan kesesatan.

Kiranya kasih dan kebenaran Allah di dalam Yesus Kristus senantiasa nyata dalam persekutuan dan hidup kita setiap hari. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.