Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Mempersiapkan Diri dalam Menghadapi Kematian

Kematian merupakan sebuah peristiwa yang tidak dapat kita hindari. Sebagian orang merasa takut dan kuatir menghadapi kenyataan ini dengan berbagai alasan. Namun, ketakutan dan kekuatiran itu tak akan dapat mengubah kenyataan ini. Mau atau tidak mau, cepat atau lambat, pada akhirnya kita semua pasti mengalami kematian. Karena itu, daripada menguatirkan kematian, lebih baik kita mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi kematian.

Satu hal yang harus kita ingat dan perhatikan: Kematian bukanlah akhir keberadaan kita. Seandainya kematian adalah akhir dari seluruh keberadaan kita, maka tak ada apapun yang patut kita pikirkan dan persiapkan untuk menghadapinya. Kita dapat bersenang-senang dan menghabiskan waktu hidup kita sesuka hati. Sebagaimana dikatakan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:32b: “Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka ‘marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati’.”

Namun, sekali lagi, kematian bukanlah akhir keberadaan kita. Sebaliknya, kematian merupakan permulaan keberadaan kita di dalam kekekalan. Sebagaimana dikatakan dalam Ibrani 9:27, kematian akan menghadapkan kita pada penghakiman Allah yang adil. Dalam penghakiman itu akan diputuskan di mana dan bagaimana kita akan menghabiskan waktu kita dalam kekekalan. Karena itu, mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian pada dasarnya sama dengan mempersiapkan diri dalam menghadapi penghakiman Allah. Untuk itu, kita perlu mengetahui apakah dasar penghakiman Allah itu: Apakah yang akan Allah perhitungkan dalam menentukan nasib kita dalam kekekalan kelak?

Setidaknya ada 2 pertanyaan yang akan Allah ajukan kepada kita dalam penghakiman itu:

  1. “Bagaimanakah pengenalan dan kepercayaanmu pada Yesus Kristus?” Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan di mana kita akan menghabiskan waktu kita dalam kekekalan: Apakah kita akan menikmati persekutuan dengan Allah di sorga atau mengalami kengerian murka Allah di neraka.
  2. “Bagaimanakah kamu mempergunakan hidupmu selama ini?” Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bagaimana keadaan kita dalam kekekalan: Seberapa besar upah yang akan kita terima di sorga atau seberapa besar hukuman yang akan kita terima di neraka.

Karena itu, bila kita ingin menikmati persekutuan dengan Allah dan menerima upah besar di sorga, setidaknya ada 2 hal yang harus kita lakukan: (1) Memastikan keselamatan jiwa kita dengan memiliki pengenalan dan kepercayaan yang benar pada Yesus Kristus, dan (2) mempergunakan hidup kita sebaik mungkin untuk menggenapi tujuan Allah atas hidup kita.

Pastikanlah Keselamatan Jiwa Anda!

Pada dasarnya kita semua telah berdosa di hadapan Allah. Dosa telah mencemari seluruh aspek hidup kita. Hati, pikiran, perasaan, kehendak, perkataan, dan perbuatan kita, semuanya telah tercemar oleh dosa. Karena itu, kita semua patut menerima murka dan hukuman Allah yang adil di dalam neraka kekal.

Kita tidak dapat lari dan menghindari murka dan hukuman Allah itu, karena kematian pasti menyeret kita ke hadapan penghakiman Allah. Kita juga tidak dapat “menyuap” Allah, Hakim yang adil itu, dengan segala kesalehan dan perbuatan baik kita, karena keadilan-Nya menuntut pelaksanaan hukuman atas dosa. Bila demikian, bagaimana kita dapat diselamatkan dari murka dan hukuman Allah itu?

Hanya ada satu jalan: Seorang juruselamat harus datang dan menggantikan kita untuk menanggung seluruh murka dan hukuman Allah. Namun, tidak semua orang dapat menjadi juruselamat. Setidaknya ada 5 kualifikasi yang harus dipenuhi oleh juruselamat itu, antara lain:

  1. Dia haruslah seorang manusia sejati, karena nyawa manusia haruslah digantikan oleh nyawa manusia.
  2. Dia haruslah kudus dan tak bercela, karena orang berdosa tidak dapat menanggung hukuman dosa orang lain.
  3. Dia haruslah mengorbankan dirinya dengan kerelaan hatinya sendiri, karena tidak adil bagi Allah untuk menjatuhkan hukuman secara paksa pada orang yang tidak bersalah.
  4. Dia haruslah kekal, mahakuasa, dan tak terbatas, karena hukuman dosa itu bersifat kekal dan jumlah orang yang harus diselamatkan sangat banyak.
  5. Dia haruslah bangkit dari kematiannya, karena dia harus membuktikan bahwa seluruh hukuman dosa itu telah ditanggung secara lunas.

Pertanyaannya, siapakah yang dapat memenuhi semua kualifikasi itu? Hanya Yesus Kristus. Sesungguhnya, Dia adalah Allah yang kekal, mahakuasa, dan tak terbatas. Namun, Dia telah merendahkan diri-Nya, mengenakan hakikat manusia yang sejati pada diri-Nya, dan menjalani kehidupan yang kudus sebagai manusia. Dia rela menanggung segala penderitaan dan bahkan kematian untuk menanggung seluruh hukuman dosa dari setiap orang yang percaya kepada-Nya. Dan, pada puncaknya, Dia bangkit dari kematian — suatu bukti yang nyata bahwa seluruh hukuman dosa itu telah lunas dibayar. Karena itu, hanya di dalam Dia sajalah ada keselamatan. Satu-satunya syarat untuk dapat menerima keselamatan itu adalah iman yang sungguh-sungguh kepada-Nya.

Jadi, sudahkah Anda mempercayai dan menerima pribadi dan karya Yesus Kristus itu dengan sungguh-sungguh di dalam hati Anda? Bila belum, percaya dan terimalah Dia dengan seluruh karya penebusan-Nya yang sempurna itu sekarang. Ingatlah, pengenalan dan kepercayaan Anda pada Yesus Kristus akan menentukan di mana Anda akan menghabiskan waktu Anda dalam kekekalan kelak!

Genapilah Tujuan Allah atas Hidup Anda!

Salah satu buah yang dihasilkan oleh iman yang sejati adalah kasih kepada Allah dan kerinduan untuk menyenangkan Dia setiap waktu. Bila kita sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus Kristus telah menyelamatkan dan mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, maka kasih dan kerinduan akan Allah itu seharusnya juga timbul dalam hati kita dan mengubah seluruh orientasi hidup kita, dari kehidupan yang berpusat pada diri (self-centered) kepada kehidupan yang berpusat pada Allah (God-centered). Selain itu, kita pun menyadari bahwa sesungguhnya seluruh hidup kita adalah milik Allah dan sepatutnya dipergunakan untuk menggenapi kehendak Allah. Dan, sebagai ganjarannya, Allah akan memberikan upah kekal atas setiap pekerjaan baik yang kita lakukan. Karena itu, bila kita rindu menyenangkan Allah dan menerima upah kekal dari-Nya, kita harus berjuang menggenapi tujuan-Nya atas hidup kita.

Sehubungan dengan hal itu, setidaknya ada 4 hal yang perlu kita lakukan, antara lain:

  1. Mengenali tujuan hidup kita.

Kita mungkin mengetahui, sebagaimana dinyatakan dalam jawaban atas pertanyaan pertama Katekismus Wesminster, bahwa tujuan utama hidup kita adalah untuk memuliakan Allah. Namun, bagaimanakah wujud spesifik dari “memuliakan Allah” Itu? Inilah yang seringkali tidak diketahui oleh banyak orang. Akibatnya, “memuliakan Allah” hanya menjadi suatu jargon yang kosong belaka.

Mengetahui tujuan hidup secara jelas dan spesifik merupakan hal yang sangat penting. Tanpa hal itu, hidup kita akan mudah diombang-ambingkan ke sana ke mari. Kita mungkin nampak sibuk dengan segala rutinitas harian kita, tetapi semua itu hanya membawa kita berputar-putar di tempat, tanpa kemajuan sedikitpun ke arah yang Allah kehendaki. Akhirnya, kebosanan dan kejenuhan akan melanda hidup kita. Karena itu, penting bagi kita untuk mengenali tujuan hidup kita secara jelas dan spesifik dalam relasi dengan Allah secara langsung, dalam pengelolaan dan pengembangan sumber daya yang kita miliki, dan dalam relasi dengan orang lain.

  1. Menetapkan prioritas hidup kita.

Setelah kita mengenali tujuan hidup kita secara spesifik, kita perlu menetapkan urutan prioritas hidup kita secara jelas. Urutan prioritas itu akan membantu kita dalam mengelola waktu kita secara bijaksana. Selain itu, ketika kita menghadapi suatu keadaan yang dilematis, di mana kita harus memilih satu dari dua tugas yang harus dikerjakan pada waktu yang sama, urutan prioritas itu akan membantu kita dalam mengambil keputusan yang tepat. Karena itu, kita perlu memikirkan dan menetapkan urutan prioritas hidup kita secara jelas.

  1. Menyusun rencana dan komitmen hidup kita.

Setelah kita mengenal tujuan dan menetapkan prioritas hidup kita, hal berikutnya yang perlu kita lakukan adalah menyusun rencana dan komitmen hidup kita. Bila tujuan hidup menjawab pertanyaan: “Ke mana Anda akan pergi?”, rencana dan komitmen hidup menjawab pertanyaan: “Bagaimana Anda akan pergi ke sana? Jalur mana yang akan Anda tempuh?” Baik-buruknya rencana dan komitmen hidup kita akan mempengaruhi cepat-lambatnya dan berhasil-tidaknya kita dalam mencapai tujuan hidup kita. Semakin buruk rencana dan komitmen yang kita buat, semakin lambat dan semakin kecillah kemungkinan kita dalam mencapai tujuan itu. Sebaliknya, semakin baik rencana dan komitmen yang kita buat, semakin cepat dan semakin besarlah kemungkinan kita mencapai tujuan itu. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk menyusun rencana dan komitmen hidup yang jelas.

  1. Melaksanakan rencana dan komitmen itu serta mengevaluasinya secara berkesinambungan.

Akhirnya, semua tujuan, prioritas, rencana, dan komitmen itu tidak akan ada gunanya bila tidak dilaksanakan. Bertindak tanpa rencana dan tujuan yang jelas adalah hal yang buruk, tetapi terus-menerus memikirkan tujuan dan rencana tanpa tindakan yang nyata adalah hal yang lebih buruk lagi. Karena itu, jangan hanya berencana, tetapi bertindaklah. Sembari kita menjalankan rencana dan komitmen kita, kita dapat mengevaluasi dan memperbaikinya. Dengan demikian kita dapat berjalan maju, selangkah demi selangkah, untuk menggenapi tujuan Allah atas hidup kita.

Demikianlah, apa yang kita percaya dan apa yang kita perbuat dalam kehidupan ini akan menentukan apakah kematian akan mendatangkan keuntungan atau kerugian bagi kita. Kita tidak dapat berkata: “Bagiku kematian adalah keuntungan,” bila kita tidak berkata: “Bagiku hidup adalah Kristus.” Kita tidak dapat berkata: “Bagiku hidup adalah Kristus,” bila kita tidak mengenal dan percaya kepada Kristus. Karena itu, kenallah Kristus, percayalah kepada-Nya, dan hiduplah bagi kemuliaan-Nya. Dengan demikian kita akan dapat berkata bersama-sama Rasul Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Flp 1:21)

Kiranya Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuh kita, baik oleh kehidupan kita maupun oleh kematian kita. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.