Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Penguasaan Diri: Apakah Artinya?

Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. (1 Korintus 9:24-25)

Allah tidak memanggil kita tanpa maksud. Sebaliknya, Dia memanggil kita dengan suatu maksud tertentu. Dia telah membentangkan suatu perlombaan di depan kita dan Dia menghendaki kita memenangkan perlombaan itu demi kemuliaan-Nya. Karena itu, sepatutnyalah kita berjuang sedemikian rupa dalam perlombaan itu dan menggenapi kehendak-Nya atas hidup kita (1Kor 9:24).

Namun, memenangkan perlombaan bukanlah perkara yang mudah, apalagi perlombaan yang sedang kita jalani adalah perlombaan kehidupan yang menuntut usaha dan perjuangan seumur hidup. Ada karakter-karakter tertentu yang harus kita miliki. Salah satunya adalah penguasaan diri (1Kor 9:25). Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan “penguasaan diri”?

Penguasaan diri dapat dijabarkan dengan 2 pengertian yang saling berkaitan dan saling melengkapi, yaitu:

1. Penguasaan diri adalah kemampuan untuk menahan, mengekang, dan menjaga diri sendiri tetap stabil di dalam batas yang wajar seturut maksud dan kehendak Allah.

Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. (Amsal 25:28)

Pengertian inilah yang nampaknya dibicarakan dalam Amsal 25:28, karena kata “mengendalikan” yang digunakan di sana mempunyai arti “menahan” atau “mengekang”. Dalam nas itu orang yang tidak mampu menahan dan mengekang dirinya digambarkan seperti sebuah kota yang roboh tembok pertahanannya. Ketika musuh-musuhnya datang menyerang, dia tidak mampu mempertahankan dirinya. Sebaliknya, dia akan mudah sekali diporak-porandakan dan dihancurkan oleh musuh-musuhnya.

Sebaliknya, orang yang menguasai diri mampu menahan, mengekang, dan menjaga dirinya tetap stabil di dalam batas yang wajar seturut maksud dan kehendak Allah.

  • Tetap stabil. Artinya, dia tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai hal yang dapat menyimpangkan jalan hidupnya dari maksud dan kehendak Allah. Pikirannya tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran yang menyesatkan. Emosinya tidak mudah diombang-ambingkan oleh keadaan di sekitarnya ataupun perlakuan orang lain terhadapnya. Keinginannya tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai tren dan tawaran dunia yang menggodanya.
  • Dalam batas yang wajar. Artinya, dia adalah seorang manusia yang normal, yang dapat memikirkan, merasakan, dan menginginkan segala sesuatu. Namun, dia dapat menahan pikiran, emosi, dan keinginannya itu dalam batas yang wajar menurut standar kebenaran. Misalnya, dia mungkin mempunyai rasa ingin tahu yang besar atas segala sesuatu, tetapi dia juga menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dan tidak boleh diketahuinya. Dia dapat mengalami kekuatiran, dukacita, atau perasaan tertekan, tetapi dia tidak akan sedemikian kuatir, berdukacita, dan tertekan sampai hilang harapan dan berusaha mengakhiri hidupnya sendiri. Dia dapat bergembira dan berpesta karena suatu hal baik yang dialaminya, tetapi dia tidak akan bergembira dan berpesta di luar batas sampai bermabuk-mabukan dan kehilangan empati terhadap orang lain yang berkesusahan. Dia dapat menginginkan sesuatu, tetapi dia tidak akan sedemikian dikuasai oleh keinginannya sampai jatuh dalam dosa pemborosan, pencurian, kerakusan, percabulan, perzinahan, dan sebagainya.

2. Penguasaan diri adalah kemampuan untuk memimpin, mengatur, dan menata diri sendiri secara bijaksana seturut maksud dan kehendak Allah.

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota. (Amsal 16:32)

Pengertian inilah yang nampaknya dibicarakan dalam Amsal 16:32b, karena kata “menguasai” yang digunakan di sana mempunyai arti “mengatur”. Dengan kata lain, orang yang menguasai diri tidak hanya mampu menahan dan mengekang dirinya dari segala hal yang tidak sesuai dengan maksud dan kehendak Allah, tetapi lebih daripada itu, dia juga dapat mengatur dan menata dirinya seturut maksud dan kehendak Allah. Dia mampu berkata “tidak” terhadap apa yang “tidak baik” dan bahkan terhadap apa yang “baik”, supaya dia dapat berkata “ya” terhadap apa yang “terbaik”.

Semua ini jelas bukan hal yang mudah. Diperlukan fokus yang tajam, komitmen yang kokoh, dan kedisiplinan setiap waktu. Karena itu, tidak mengherankan bila dikatakan bahwa orang yang menguasai diri melebihi orang yang merebut kota, karena merebut kota hanya membutuhkan pertempuran beberapa hari, sedangkan menguasai diri membutuhkan perjuangan yang melelahkan seumur hidup.

Walaupun demikian, jangan pernah menyerah. Tetaplah berjuang untuk bertumbuh dalam penguasaan diri dari hari ke hari. Kiranya Allah senantiasa menolong kita untuk semakin bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus. Amin.

Pertanyaan: Apa yang Anda lakukan untuk bertumbuh dalam penguasaan diri? Silahkan bagikan pengalaman Anda melalui kolom komentar di bawah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.