Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

5 Hal yang Menunjukkan Pentingnya Kematian Yesus Kristus

Kematian adalah salah satu karya penting yang dikerjakan Yesus Kristus pada kedatangan-Nya yang pertama kali. Ya, kematian Yesus Kristus disebut “karya yang dikerjakan-Nya” karena 2 alasan:

  1. Karena kematian-Nya terjadi oleh kehendak dan keputusan-Nya sendiri.
    Sesungguhnya, Yesus dapat melepaskan diri dari penangkapan dan hukuman mati yang dijatuhkan kepada-Nya (Mat 26:53-54). Namun, Dia tidak berbuat demikian. Sebaliknya, dengan rela Dia membiarkan diri-Nya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati, karena hal itu sesuai dengan tujuan kedatangan-Nya ke dalam dunia. Selain itu, Dia sendirilah yang menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa (Luk 27:46; Yoh 10:17-18).
  2. Karena kematian-Nya dilakukan untuk tujuan yang bermanfaat.
    Yesus tidak menyerahkan nyawa-Nya dalam keputusasaan dan kesia-siaan seperti orang-orang yang melakukan bunuh diri. Sebaliknya, Dia menyerahkan nyawa-Nya dalam pengharapan karena Dia memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai-Nya. Misalnya, dalam Matius 20:28 Dia menyatakan bahwa Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Selain itu, ada banyak tujuan lain yang dicapai Yesus Kristus melalui kematian-Nya. John Piper, dalam bukunya “The Passion of Jesus Christ”, memberikan 50 tujuan yang dicapai Yesus melalui kematian-Nya. Kebangkitan-Nya dari kematian menjadi bukti bahwa tujuan kematian-Nya telah tercapai.

Karena kematian Yesus Kristus terjadi oleh kehendak dan keputusan-Nya untuk tujuan tertentu yang bermanfaat, maka tidak keliru bila teologi Kristen menyebut kematian Yesus Kristus sebagai “karya yang dikerjakan-Nya”. Namun, lebih daripada itu, kematian Yesus Kristus bukan hanya sebuah karya, tetapi itu adalah sebuah karya yang sangat luar biasa dan sangat penting di dalam teologi Kristen.

Berikut ini adalah 5 hal yang menunjukkan pentingnya kematian Yesus Kristus di dalam teologi Kristen:

1. Kematian Yesus Kristus adalah penggenapan dari banyak simbol dan nubuat dalam Perjanjian Lama.

Segala bentuk korban persembahan yang dilaksanakan pada zaman perjanjian lama pada dasarnya hanyalah simbol atau bayangan dari satu korban persembahan yang agung dan mulia, yaitu persembahan diri Yesus Kristus dalam kematian-Nya (Ibr 10:1-18). Tanpa pengorbanan Yesus Kristus dalam kematian-Nya, segala bentuk korban persembahan itu tidak akan berarti. Kemudian, setelah pengorbanan Yesus Kristus, segala bentuk korban persembahan itu tidak diperlukan lagi.

Selain itu, ada banyak nubuat dalam Perjanjian Lama sehubungan dengan penderitaan dan kematian Sang Mesias. Misalnya:

  • Zakharia 13:7-9 menubuatkan bahwa sang gembala, yaitu Dia yang paling karib dengan Allah, akan dibunuh, sehingga domba-domba tercerai-berai. Walaupun demikian, melalui kematian gembala itu akan bangkit suatu umat yang baru, yaitu umat yang dimurnikan bagi Allah.
  • Daniel 9:26 menubuatkan bahwa seorang yang telah diurapi, yaitu Kristus, akan disingkirkan pada waktu yang telah ditentukan, sekalipun Dia tidak bersalah apa-apa.
  • Yesaya 52:13—53:12 mungkin adalah nubuat yang paling jelas berkenaan dengan penderitaan dan pengorbanan Sang Mesias yang akan datang. Nubuat itu tidak hanya menggambarkan bagaimana penderitaan yang akan dialami oleh Sang Mesias, tetapi juga menyatakan alasan dan makna dari penderitaan dan pengorbanan itu.

Semua nubuat itu adalah nubuat yang sangat penting, karena nubuat-nubuat itu membicarakan rencana dan janji Allah berkenaan dengan keselamatan umat-Nya. Puji syukur kepada Allah, kematian Yesus Kristus telah menggenapi semua nubuat itu. Dengan demikian rencana dan janji keselamatan itu pun digenapi.

2. Kematian Yesus Kristus adalah tujuan utama kedatangan-Nya ke dalam dunia.

Yesus Kristus adalah guru yang sangat luar biasa. Sebagai guru Dia patut dihormati dan diikuti. Dia tidak hanya menyingkapkan kebenaran dan memberikan pengajaran yang agung, tetapi juga teladan yang nyata. Walaupun demikian, itu bukanlah tujuan utama kedatangan-Nya.

Sebagaimana disingkapkan melalui arti nama-Nya, tujuan utama kedatangan Yesus ke dalam dunia adalah untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Mat 1:21). Tujuan itu tidak dapat dicapai melalui pengajaran dan teladan saja. Lebih daripada itu, diperlukan suatu korban tebusan yang memadai untuk membayar lunas hutang dosa itu dan memenuhi seluruh tuntutan keadilan Allah. Untuk itu, Yesus harus menyerahkan diri-Nya sendiri yang tidak berdosa sebagai korban tebusan bagi umat-Nya yang berdosa. Dia harus mati untuk menanggung seluruh murka dan hukuman Allah yang seharusnya dijatuhkan kepada umat-Nya. Hanya dengan cara demikian umat-Nya dapat diselamatkan. Karena itu, dalam beberapa kesempatan Yesus menyatakan bahwa Dia datang ke dalam dunia untuk menyerahkan nyawa-Nya (Mat 20:28; Yoh 10:17-18; 12:27).

3. Kematian Yesus Kristus adalah jantung dari seluruh berita Injil.

Pada dasarnya istilah “Injil” berarti “kabar baik”. Di dalam Alkitab istilah ini digunakan dengan beberapa pengertian. Dalam pengertian yang paling luas, istilah ini digunakan untuk menunjuk pada seluruh penyataan Allah tentang penghakiman dan keselamatan yang sedang dan akan dikerjakan-Nya (Why 14:6-13). Dalam pengertian yang lebih sempit, istilah ini digunakan untuk menunjuk pada kisah kehidupan Yesus (Mrk 1:1). Dan dalam pengertian yang lebih sempit lagi, istilah ini digunakan untuk menunjuk pada karya keselamatan yang Yesus kerjakan melalui kematian dan kebangkitan-Nya (1Kor 15:1-4).

Karena itu, dapat dikatakan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan jantung dari seluruh berita Injil. Tanpa kematian dan kebangkitan-Nya, kehidupan Yesus Kristus tidak jauh berbeda dengan semua nabi dan guru lainnya. Tanpa kematian dan kebangkitan-Nya, tidak akan ada korban tebusan atas dosa-dosa manusia. Tanpa kematian dan kebangkitan-Nya, hanya akan ada berita penghakiman, tanpa ada berita keselamatan.

4. Kematian Yesus Kristus sangat ditekankan dalam Perjanjian Baru sebagai dasar iman dan praktik hidup Kristen.

Yesus Kristus berulang kali memberitahukan bahwa Dia akan menanggung banyak penderitaan, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari yang ketiga (Mat 16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2; Yoh 12:32-33). Para penulis Injil sangat menekankan penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus, sehingga kisah itu mengisi kurang lebih seperlima bagian dari kitab-kitab Injil. Demikian pula, dalam khotbah dan surat-suratnya para rasul berulang kali membicarakan penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Semua ini menunjukkan bahwa baik Yesus maupun para rasul memandang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai peristiwa yang sangat penting, sehingga hal itu perlu ditekankan berulang-ulang.

Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi bukti bahwa semua nubuat dan klaim yang diucapkan Yesus tentang diri-Nya adalah benar. Misalnya, bahwa Dia adalah Mesias yang dijanjikan (Yoh 4:25-26), bahwa Dia senantiasa melakukan apa yang benar dan tidak berbuat dosa (Yoh 8:29, 46), bahwa Dia ada sebelum Abraham ada (Yoh 8:58), bahwa Dia dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30), dan sebagainya. Seandainya Dia tidak mati dan bangkit seperti yang dikatakan-Nya, maka Dia pastilah seorang nabi palsu yang mengucapkan nubuat dan klaim palsu. Namun, pada kenyataannya Dia sungguh-sungguh mati dan bangkit seperti yang dikatakan-Nya. Karena itu, kita dapat mempercayai semua perkataan-Nya. Dengan demikian kematian dan kebangkitan Yesus Kristus telah menjadi dasar yang kokoh bagi iman Kristen.

Selain itu, pengorbanan dan kematian Yesus Kristus juga menjadi dasar bagi segala praktik hidup Kristen. Misalnya:

  • Dalam relasi dengan Allah, pengorbanan Yesus Kristus menjadi dasar bagi kita untuk datang kepada Allah dengan penuh keyakinan, karena darah-Nya telah menyucikan kita dari segala dosa (Ibr 10:19).
  • Dalam relasi dengan saudara-saudara seiman pada khususnya dan dengan sesama manusia pada umumnya, pengorbanan Yesus Kristus menjadi dasar dan teladan bagi kita untuk mengasihi, merendahkan diri, dan rela berkorban bagi kepentingan orang lain (Yoh 13:34-35; Flp 2:1-11; 1Yoh 3:16).
  • Dalam relasi pernikahan, pengorbanan Yesus Kristus menjadi dasar dan teladan bagi seorang suami dalam mengasihi istrinya (Efesus 5:25-30).
  • Dalam penderitaan dan tekanan, penderitaan dan kematian Yesus Kristus menjadi dasar dan teladan bagi orang-orang percaya untuk tetap sabar dan bertahan dalam kebenaran (1Ptr 2:18-25).

Singkatnya, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus telah menjadi dasar bagi seluruh bangunan kekristenan, baik secara doktrinal maupun secara praktikal. Singkirkan salib Kristus, maka hilanglah inti kekristenan. Buktikanlah bahwa Yesus Kristus tidak pernah bangkit, maka hancurlah kekristenan.

5. Kematian Yesus Kristus adalah pokok pembicaraan dan puji-pujian di sorga.

Ketika Musa dan Elia menampakkan diri dan bercakap-cakap dengan Yesus, mereka membicarakan “tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Luk 9:31). Ketika Yohanes mendapat penglihatan tentang ibadah di sorga, dia melihat keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua menyanyikan suatu nyanyian baru tentang karya penebusan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus dalam kematian-Nya (Why 5:8-10). Bahkan, para malaikat pun ikut memuji Yesus Kristus karena karya penebusan yang dikerjakan-Nya itu (Why 5:11-12). Semua ini menunjukkan betapa pentingnya kematian Yesus Kristus, sampai-sampai hal itu menjadi pokok pembicaraan dan puji-pujian di sorga.

Jadi, kita lihat, kematian Yesus Kristus adalah peristiwa yang sangat penting. Itu bukanlah peristiwa sejarah biasa. Sebaliknya, itu adalah suatu peristiwa sejarah yang mengandung makna teologis yang dalam. Karena itu, sepatutnyalah kita mempelajari, memikirkan, dan merenungkan makna kematian Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh setiap waktu.

Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, semakin nyata dalam hidup kita sekalian. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.