Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Penguasaan Diri: Bagaimana Caranya?

Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. (1 Korintus 9:25-27)

Sebagaimana telah saya bahas pada artikel sebelumnya, penguasaan diri merupakan salah satu karakter yang harus kita miliki bila kita mau memenangkan perlombaan hidup ini seturut kehendak Allah. Saya telah membahas pengertian penguasaan diri pada artikel sebelumnya. Namun, memahami pengertian penguasaan diri saja tak akan membuat kita memenangkan perlombaan hidup ini. Kita harus berjuang untuk bertumbuh dalam penguasaan diri setiap hari. Bagaimana caranya?

Setidaknya ada 4 hal yang perlu kita lakukan untuk bertumbuh dalam penguasaan diri, antara lain:

1. Mengenali panggilan dan tujuan Allah atas hidup kita, baik yang umum maupun yang khusus, secara jelas.

Setelah menyatakan pentingnya penguasaan diri dalam perlombaan, Rasul Paulus berkata: “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan ….” (1Kor 9:26a) Dengan kata lain, ada kaitan yang erat antara menguasai diri dengan mengenali tujuan hidup.

Bila kita tidak mengenali panggilan dan tujuan hidup kita secara jelas, setidaknya ada 2 akibat yang akan kita alami, antara lain:

  • Kita akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai trend dan tawaran yang menyimpangkan arah hidup kita. Ketika banyak orang menekuni bidang X, kita tergoda untuk menekuni bidang X juga. Ketika banyak orang menekuni bidang Y, kita tergoda untuk menekuni bidang Y juga. Akhirnya, kita mencoba mengerjakan segala hal, lalu merasa kewalahan dan bingung mana yang harus diprioritaskan.
  • Kita akan mudah dihanyutkan oleh arus rutinitas yang terus berputar. Kita mungkin disibukkan oleh berbagai tugas setiap hari, tetapi semua itu hanya membawa kita berputar-putar di tempat, tanpa kemajuan sedikitpun ke arah tujuan hidup yang Allah tetapkan bagi kita. Akhirnya, kita mengalami kebosanan dan kejenuhan dalam menjalani hari-hari hidup kita.

Sebaliknya, bila kita mengenali panggilan dan tujuan hidup kita secara jelas, kita akan dapat mengenali prioritas hidup kita. Kita akan dapat berkata “tidak” kepada segala hal yang tidak sesuai dengan panggilan dan tujuan hidup kita, sehingga kita dapat berfokus pada segala hal yang selaras dengan panggilan dan tujuan hidup kita. Selain itu, kita pun akan dapat mengukur kemajuan hidup kita, apakah kita telah mengalami kemajuan atau justru mengalami kemunduran. Kita akan dapat memilah-milah tugas mana yang harus kita kerjakan, singkirkan, dan delegasikan untuk memperbaiki diri dan melangkah maju seturut panggilan dan tujuan Allah atas hidup kita.

Karena itu, penting bagi kita untuk sungguh-sungguh berupaya mencari, mengenali, dan menyadari secara jelas apa panggilan dan tujuan Allah atas hidup kita, bukan saja yang umum, tetapi juga yang khusus.

2. Mengenal kebenaran, baik yang doktrinal maupun yang praktikal, dengan landasan yang kokoh.

Lebih jauh lagi, Rasul Paulus berkata: “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” (1Kor 9:26) Dengan kata lain, Rasul Paulus tidak hanya mengenal tujuan perlombaan itu, tetapi juga peraturan perlombaan itu. Dia tidak hanya mengetahui tujuan Allah yang harus dicapainya, tetapi juga hukum Allah yang harus dipatuhinya. Dengan demikian dia dapat bertahan dalam perlombaan hidupnya sampai akhir.

Seperti halnya orang yang tidak mengenali panggilan dan tujuan hidupnya akan diombang-ambingkan oleh berbagai tawaran yang menyimpangkan arah hidupnya, demikian pula orang yang tidak mengenal kebenaran dengan landasan yang kokoh akan mudah diombang-ambingkan oleh keadaan dan nilai-nilai dunia yang menyesatkan. Ketika keadaan dan peristiwa buruk menimpanya, dia akan mudah sekali bersungut-sungut dan meragukan Allah. Ketika dia menghadapi persoalan dalam pekerjaan atau pelayanan, dia akan mudah sekali berlaku munafik, curang, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan pribadinya. Lebih buruk lagi, dia mungkin mengira bahwa dia telah bertekun untuk menggenapi kehendak Allah, padahal dia justru sedang melawan kehendak Allah dengan “kebenaran” yang didirikannya sendiri (bd. Rom 10:1-3)

Tidak demikian halnya dengan orang yang mengenal kebenaran dengan landasan yang kokoh. Dia tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran yang menyesatkan. Sebaliknya, dia akan dapat bertahan dan mempertanggungjawabkan imannya dengan baik (Ef 4:11-15). Dia tidak akan mudah dihanyutkan oleh nilai-nilai dunia yang berdosa. Dia mungkin tergelincir dan jatuh, tetapi dia akan segera menyadari kesalahannya, bangkit, dan berjuang kembali di dalam kebenaran.

Karena itu, penting bagi kita untuk sungguh-sungguh mempelajari firman Tuhan — landasan final bagi iman dan prinsip hidup kita —, merenungkannya, dan mengingatnya setiap waktu.

3. Mendisiplin diri untuk berfokus pada tujuan, berkomitmen pada kebenaran, serta berjuang dalam pengudusan dan pekerjaan baik setiap waktu.

Mengetahui tujuan, peraturan, dan seluk-beluk perlombaan adalah hal yang sangat penting, tetapi itu saja tidak cukup untuk memenangkan perlombaan. Seorang atlet perlu mendisiplin pikirannya untuk berfokus pada tujuan, mendisiplin emosi dan keinginannya untuk berkomitmen pada peraturan, serta mendisiplin tubuhnya untuk berlatih dan berjuang secara konsisten. Dengan cara demikianlah dia akan dapat memenangkan perlombaan yang dijalaninya. Itulah sebabnya Rasul Paulus melanjutkan perkataannya: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1Kor 9:27)

Itu pulalah yang harus kita lakukan bila kita ingin memenangkan perlombaan hidup kita. Kita harus mendisiplin diri kita untuk senantiasa berfokus pada panggilan dan tujuan Allah atas hidup kita, berkomitmen pada kebenaran yang Allah nyatakan, dan berjuang merealisasikannya dalam tindakan nyata.

Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat diterapkan:

  • Tuliskanlah tujuan hidup dan nilai-nilai kebenaran yang Anda pegang secara jelas dan spesifik pada sebuah dokumen.
  • Tuliskanlah segala hal yang harus Anda kerjakan untuk mencapai tujuan hidup Anda dan susunlah semua itu menurut prioritasnya.
  • Kerjakan, evaluasi, dan perbaikilah terus-menerus secara berkala.

4. Bersandar pada bimbingan dan pertolongan Roh Kudus setiap waktu.

Penguasaan diri merupakan buah atau hasil karya Roh Kudus di dalam hidup kita (Gal 5:22-23). Karena itu, tidak peduli seberapa kerasnya kita berusaha, tanpa hikmat, bimbingan, dan pertolongan Roh Kudus, kita tidak akan pernah dapat menguasai diri seturut kehendak Allah. Kita mungkin dapat “menguasai diri” menurut ukuran dunia, tetapi tidak menurut ukuran Allah.

Ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha menguasai diri. Kenyataannya, dalam 2 Petrus 1:5-6 Rasul Petrus mendorong kita untuk berusaha dengan segala ketekunan untuk menambahkan penguasaan diri pada segala kebajikan dan pengetahuan yang kita miliki. Ini semata-mata berarti bahwa dalam segala usaha yang kita lakukan itu, kita harus senantiasa bersandar pada bimbingan dan pertolongan Roh Kudus. Hanya dengan bimbingan dan pertolongan Roh Kudus sajalah kita dapat mengenal panggilan dan tujuan hidup kita yang sesungguhnya, mengenal kebenaran Allah, dan mendisiplin diri dalam segala hal. Dialah guru dan pelatih hidup kita. Karena itu, kita harus senantiasa bersandar kepada-Nya setiap waktu.

Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa penguasaan diri merupakan sebuah proses yang harus kita perjuangkan secara terus-menerus, dari hari ke hari, seumur hidup kita. Keberhasilan menguasai diri pada hari ini tidak menjamin keberhasilan menguasai diri pada esok hari. Karena itu, kita harus terus bersandar pada bimbingan dan pertolongan Roh Kudus, terus waspada terhadap berbagai pengajaran, trend, dan godaan dunia yang menyesatkan, dan terus berjuang mendisiplin diri dalam segala hal seturut maksud dan kehendak Allah atas hidup kita.

Kiranya Allah senantiasa dimuliakan melalui hidup kita. Amin.

Pertanyaan: Apa sajakah kesulitan yang Anda hadapi dalam perjuangan menguasai diri? Silahkan bagikan pengalaman Anda melalui kolom komentar di bawah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.