Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Tanggung Jawab Istri Kristen: Tunduk kepada Suami

Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. (Kolose 3:18)

Alkitab secara konsisten memerintahkan para istri Kristen untuk tunduk kepada suaminya (Ef 5:22-24; Kol 3:18; Tit 2:4-5; 1Ptr 3:1). Perintah itu sendiri nampaknya sangat ringkas dan sederhana. Namun, dalam praktiknya perintah itu tidak mudah untuk dilakukan dan sering disalahpahami. Lebih-lebih, pada era sekarang ini, di mana emansipasi wanita dan feminisme semakin berkembang, perintah ini menghadapi tantangan yang semakin besar.

Karena itu, pada artikel ini saya akan berfokus pada 2 persoalan berkenaan dengan perintah ini:

  1. Apakah perintah ini masih berlaku pada zaman sekarang? Apakah dasar dan alasannya?
  2. Apakah maksud perintah ini? Apakah perintah ini mengharuskan para istri menaati suaminya secara mutlak dalam segala sesuatu?

Keberlakuan Perintah Ini

Mereka yang dipengaruhi oleh paham feminisme dan egalitarianisme — paham yang sangat menekankan kesetaraan gender, di mana tidak ada perbedaan peran antara pria dan wanita — berusaha menentang perintah ini dengan mengatakan bahwa perintah ini tidak berlaku pada zaman sekarang. Mereka berargumentasi bahwa perintah ini diberikan oleh para rasul karena demikianlah budaya pada waktu itu. Dengan kata lain, mereka menganggap perintah ini sebagai norma kultural belaka, bukannya hukum Allah yang universal.

Namun, anggapan itu jelas tidak sesuai dengan anggapan Rasul Paulus sebagaimana dinyatakan dalam Kolose 3:18. Dalam nas tersebut Rasul Paulus tidak berkata: “Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam budaya kita.” Tidak! Sebaliknya, dia berkata: “Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.” Artinya, ketundukan istri kepada suami bukan sekedar suatu norma yang bersifat kultural, tetapi lebih daripada itu, itu adalah perintah Allah yang bersifat universal. Karena itu, perintah ini berlaku di segala tempat dan di segala zaman. Bila Anda adalah wanita yang percaya kepada Tuhan, maka sudah sepatutnya Anda menaati perintah ini.

Selain itu, ada beberapa alasan lain mengapa para istri harus tunduk pada suaminya, antara lain:

  1. Alasan Penciptaan

Dalam kisah penciptaan manusia kita mendapati bahwa pria dijadikan sebelum wanita. Lebih daripada itu, wanita dibentuk dan dijadikan dari pria (Kej 2:21-23; 1Kor 11:8) dan untuk menjadi penolong bagi pria (Kej 2:18; 1Kor 11:9). Karena itu, sudah sepatutnyalah bila seorang istri tunduk kepada suaminya yang darinya dan untuknya dia dijadikan.

  1. Alasan Fungsional

Secara hakikat tidak ada perbedaan derajat antara pria dan wanita. Keduanya adalah manusia yang setara di hadapan Allah (1Kor 11:11-12). Namun, secara fungsional Allah menetapkan pria untuk menjadi kepala atas istri dan rumah-tangganya (1Kor 11:3; Ef 5:23). Dia memberikan wewenang dan tanggung jawab kepada pria untuk memimpin istri dan rumah-tangganya dalam kebenaran, sehingga secara fungsional seorang suami memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada istrinya di dalam rumah-tangganya. Allah menetapkan demikian bukan karena pria secara hakikat lebih tinggi daripada wanita, tetapi semata-mata karena Allah oleh hikmat-Nya menghendaki adanya keteraturan dalam rumah-tangga. Karena itu, seorang istri yang bijaksana, yang takut akan Allah, dan yang menghendaki rumah-tangganya berjalan teratur seturut kehendak Allah, sepatutnya tunduk kepada suaminya.

  1. alasan Misiologis

Selain kedua alasan di atas, ada pula alasan misiologis yang diajukan oleh Rasul Paulus dan Rasul Petrus saat mereka menasihati supaya para istri Kristen tunduk pada suaminya dan hidup dalam kesalehan. Dalam Titus 2:4-5 Rasul Paulus menyatakan alasan misiologis itu secara negatif, yaitu “agar Firman Allah jangan dihujat orang”; sedangkan dalam 1 Petrus 3:1-2 Rasul Petrus menyatakan alasan misiologis itu secara positif, yaitu “supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya”. Dengan kata lain, ketundukan dan kesalehan seorang istri Kristen dapat menjadi sarana yang Allah pakai untuk membungkam mulut para penghujat, khususnya suaminya sendiri, melunakkan hatinya, dan mempersiapkannya untuk menerima kebenaran Injil.

Jadi, dengan memperhatikan ketiga alasan di atas, jelaslah bahwa perintah supaya para istri tunduk kepada suaminya tetap berlaku kapanpun, di manapun, dan dalam keadaan apapun. Bila istri yang bersuamikan orang tak beriman saja diperintahkan untuk tunduk pada suaminya, lebih-lebih istri yang bersuamikan orang beriman! Karena itu, perintah ini harus diperhatikan dan dikerjakan oleh setiap istri Kristen.

Pemahaman yang Salah atas Perintah Ini

Sebagaimana telah saya singgung di atas, perintah supaya para istri tunduk kepada suaminya sering disalahpahami. Karena itu, sebelum membahas apa maksud perintah ini, saya perlu membahas apa yang tidak dimaksudkan oleh perintah ini terlebih dahulu.

  1. Perintah ini tidak berarti bahwa istri harus membiarkan dirinya disiksa oleh suaminya.

Dalam program radio “Breakpoint” yang diasuhnya pada tanggal 20 Oktober 2009, mendiang Chuck Colson menceritakan peristiwa tragis berikut ini.

Suatu kali seorang wanita datang kepada pendetanya untuk berkonsultasi. Dia bercerita bahwa suaminya telah mendorongnya sampai jatuh, menendangnya, dan mematahkan salah satu tulang rusuknya.

Mendengar hal itu, pendetanya bersimpati dan mendoakannya. Kemudian pendeta itu menyuruhnya pulang dan menasihatkan: “Berusahalah untuk lebih patuh pada suamimu. Bagaimanapun, suamimu adalah kepala rohanimu.”

Dua minggu kemudian gereja itu digemparkan oleh sebuah berita: Wanita itu tewas dibunuh oleh suaminya sendiri yang kasar. Padahal, suami wanita itu adalah guru sekolah Minggu dan diaken di gereja itu.

Saya kira peristiwa tragis itu merupakan akibat dari pemahaman dan penerapan yang keliru dari perintah kepada istri untuk tunduk pada suaminya. Pendeta itu telah memberikan nasihat yang tidak bijaksana kepada wanita itu, di mana dia sedemikian memutlakkan perintah itu tanpa mempedulikan persoalan yang terjadi. Apakah wanita itu disiksa oleh suaminya karena dia kurang patuh atau karena suaminya yang kasar? Seandainya wanita itu telah berbuat salah terhadap suaminya, apakah kekasaran suaminya itu dapat dibenarkan? Haruskah wanita itu pulang dan membiarkan dirinya disiksa oleh suaminya? Tidakkah lebih baik bagi wanita itu untuk menyingkir dari suaminya untuk sementara waktu demi menyelamatkan dirinya?

Perintah kepada para istri untuk tunduk pada suaminya tidak memberi hak bagi suami untuk menyiksa dan memperlakukan istrinya sesuka hati. Perintah itu juga tidak mengharuskan para istri membiarkan dirinya disiksa secara keji oleh suaminya. Bila seorang suami mengancam nyawa istrinya, maka bukanlah tindakan yang keliru bila istrinya itu menyingkir untuk menyelamatkan diri dan melaporkan kasusnya kepada pemerintah yang berwenang.

  1. Perintah ini tidak berarti bahwa istri harus berlaku pasif dan tidak boleh mengajukan pendapat atau saran apapun kepada suaminya.

Ketika Rasul Petrus mengatakan bahwa suami yang tidak taat pada firman mungkin akan dapat dimenangkan “tanpa perkataan” melalui ketundukan dan kesalehan istrinya, itu tidak berarti bahwa istri tidak boleh berbicara, memberitakan Injil, serta memberikan nasihat dan teguran kepada suaminya. Itu tidak berarti bahwa seorang istri harus membiarkan suaminya berjalan dalam dosa dan kesesatan tanpa berusaha mencegahnya sedikitpun. Sama sekali bukan itu yang dimaksudkan oleh Rasul Petrus! Bila seorang istri bersikap pasif seperti itu, dia justru berbuat salah dan mengabaikan tanggung jawabnya dalam pernikahan.

Ketika seorang istri mendapati suaminya berdosa, tentu saja dia boleh, dan bahkan harus, menegur dan menasihati suaminya. Hanya saja, dia harus melakukannya dengan kasih dan dengan rasa hormat kepada suaminya sebagaimana ditunjukkan oleh perilakunya yang saleh setiap hari. Dengan jalan demikian diharapkan suaminya itu dapat dilunakkan hatinya dan dimenangkan bagi Kristus tanpa perdebatan atau pertengkaran yang tajam.

Selain itu, perlu diingat bahwa istri bukanlah budak suami, melainkan mitra kerjanya dalam membangun dan mengurus rumah-tangga (bd. 1Ptr 3:7). Karena itu, seorang istri juga memiliki hak untuk mencurahkan isi hatinya dan menyampaikan pendapat serta sarannya kepada suaminya, khususnya dalam segala hal yang terkait dengan urusan rumah-tangga. Hanya saja, apabila terjadi perbedaan pendapat, maka keputusan final berada di tangan suami sebagai kepala rumah-tangga dan terhadapnya istri harus hormat dan tunduk.

  1. Perintah ini tidak berarti bahwa istri harus menyetujui, mengikuti, dan menaati suaminya secara mutlak dalam segala sesuatu.

Ketundukan kepada Allah adalah satu-satunya ketundukan yang tak bersyarat dan tak berbatas. Semua ketundukan kepada manusia, termasuk ketundukan istri kepada suaminya, adalah ketundukan yang bersyarat dan berbatas, di mana syarat dan batasnya adalah keselarasan dengan kehendak Allah. Bila seorang suami melakukan perbuatan yang salah dan berdosa, tidak ada keharusan bagi istrinya untuk menyetujui dan mengikutinya. Bila seorang suami memerintahkan istrinya untuk menyangkal imannya atau melanggar firman Tuhan, tidak ada keharusan bagi istrinya untuk menaati perintah itu.

Dua contoh kasus dapat diajukan di sini. Contoh kasus yang pertama adalah Safira (Kis 5:1-11). Dia tahu bahwa Ananias, suaminya, telah berdusta sehubungan dengan hasil penjualan tanah dan jumlah persembahan yang diberikannya. Namun, dia tidak menegur dan menasihati suaminya. Sebaliknya, dia bersepakat dan mendukung perbuatan suaminya itu. Apakah akibatnya? Apakah dia dipuji karena kesetiaan dan ketundukannya pada suaminya? Tidak! Dia justru dihukum karena sikapnya itu.

Contoh kasus yang kedua adalah Abigail (1Sam 25:2-44). Ketika dia mendengar bahwa Nabal, suaminya, telah berlaku tidak pantas terhadap Daud dan bahwa Daud sedang berjalan untuk menghabisinya, maka dia segera bertindak tanpa sepengetahuan suaminya. Dia memberikan berbagai hasil bumi kepada Daud, sujud di kakinya, mengakui kebebalan suaminya, dan memohon pengampunan bagi suaminya, sehingga Daud tidak jadi menghabisinya. Lalu, keesokan harinya, dia menceritakan tindakannya itu kepada suaminya dan ceritanya itu membuat Nabal terkejut dan akhirnya mati 10 hari kemudian. Namun, sekalipun Abigail telah bertindak tanpa sepengetahuan suaminya, berkata yang buruk tentang suaminya kepada Daud, dan secara tak langsung menyebabkan Nabal mati dengan ceritanya, dia tidak dihukum. Sebaliknya, dia dicatat sebagai seorang wanita yang bijaksana.

Berdasarkan kedua contoh kasus itu, jelaslah bahwa ketundukan yang Allah kehendaki untuk diperbuat oleh istri kepada suaminya bukanlah ketundukan yang membabi buta, melainkan ketundukan yang dilakukan atas dasar kebenaran dan takut akan Allah. Selama kehendak suaminya tidak bertentangan dengan kehendak Allah, istri harus tunduk kepadanya. Namun, bila kehendak suaminya bertentangan dengan kehendak Allah, istri harus lebih tunduk kepada Allah daripada kepada suaminya (bd. Kis 5:29).

Pemahaman yang Benar atas Perintah Ini

Setidaknya ada 3 hal yang tercakup dalam perintah ini, antara lain:

  1. Perintah ini berarti bahwa istri harus menghormati suaminya (Ef 5:33).

Seorang istri mungkin berasal dari keluarga yang lebih terhormat, mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, atau memiliki pekerjaan dan kekayaan yang lebih baik daripada suaminya. Lebih buruk lagi, suaminya mungkin memiliki banyak kekurangan dalam berbagai hal dan tidak sesuai dengan harapannya. Namun, semua itu bukanlah alasan baginya untuk menghina dan merendahkan suaminya. Bagaimanapun keadaannya, dia harus tetap menghormati suaminya dan memandangnya sebagai kepala keluarga.

Seorang istri mungkin tidak setuju dengan pendapat, keputusan, dan cara yang diambil suaminya dalam suatu persoalan. Dia dapat mengemukakan pendapat dan sarannya kepada suaminya. Bahkan, bila pendapat, keputusan, dan tindakan suaminya bertentangan dengan firman Tuhan, dia dapat menegur dan tidak menaatinya. Namun, sekali lagi, semua itu haruslah dia lakukan dengan sikap hormat. Ingatlah, ketidaksetujuan dan teguran tidak harus disampaikan dengan sikap tidak hormat.

  1. Perintah ini berarti bahwa istri harus menolong dan melayani suaminya.

Sejak semula Allah merancang dan menjadikan wanita untuk menjadi penolong — bukannya perongrong — bagi suaminya (Kej 2:18). Karena itu, ketika seorang istri mendapati kekurangan-kekurangan pada suaminya, dia seharusnya berusaha menolong dan menutupi kekurangan-kekurangan itu dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, bukannya menghina dan mencelanya. Dia seharusnya memberikan dorongan semangat kepada suaminya untuk maju dan menjadi lebih baik, bukannya justru melemahkan semangatnya. Dia seharusnya berusaha menjaga martabat dan kehormatan suaminya, bukannya mengumbar kekurangan dan menjatuhkan suaminya di muka umum. Bukankah keberhasilan dan kehormatan suami juga adalah keberhasilan dan kehormatan bagi istri? Demikian pula, bukankah kegagalan dan kehinaan suami juga adalah kegagalan dan kehinaan bagi istri?

  1. Perintah ini berarti bahwa istri harus taat pada suaminya dalam segala hal yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan.

Sebagaimana telah dibahas di atas, bila seorang suami memerintahkan istrinya untuk melakukan suatu hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, maka tidak ada keharusan bagi si istri untuk menaati perintah suaminya itu. Namun, itu tidak berarti bahwa istri itu bebas dari segala tanggung jawabnya kepada suaminya. Bukan demikian maksudnya! Istri itu memang tidak sepatutnya menaati perintah suaminya yang bertentangan dengan firman Tuhan, tetapi dia tetap bertanggung jawab untuk menaati perintah-perintah lainnya yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Perintah yang bertentangan dengan firman Tuhan tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak menaati perintah-perintah lain yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan.

Jadi, inilah tanggung jawab seorang istri Kristen: Dia harus menghormati suaminya, senantiasa bersedia menolong dan melayaninya, serta tunduk kepadanya dalam kasih dan kebenaran. Dengan demikian dia akan dapat menggenapi kehendak Allah dan memuliakan Allah melalui perannya sebagai seorang istri.

Akhirnya, setiap istri Kristen harus menyadari bahwa dasar dan motif ketundukan seorang istri bukanlah kasih suaminya. Bila Anda tunduk kepada suami Anda semata-mata karena suami Anda mengasihi Anda atau untuk membuat suami Anda mengasihi Anda, ketundukan Anda tidak akan dapat bertahan. Anda akan dilanda kekecewaan ketika suami Anda tidak mengasihi Anda.

Dasar dan motif ketundukan seorang istri Kristen adalah kehendak Allah. Dia tunduk kepada suaminya karena ketundukannya kepada Allah dan karena kerinduannya untuk memuliakan Allah. Tak peduli bagaimana sikap suaminya kepadanya, dia akan tetap mengerjakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dengan tekun, karena hatinya senantiasa dia arahkan kepada Allah.

Kiranya Allah, oleh Roh-Nya yang berdiam di dalam kita, membimbing dan menolong kita semua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.