Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Kategori: Doktrin Kristen

Jati Diri Manusia: Ciptaan menurut Gambar Allah

“Siapakah aku?” Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat penting dan menuntut pemikiran yang sangat serius, karena jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan nilai, makna, dan tujuan hidup kita. Bila kita keliru dalam mengenali siapa diri kita, kita dapat jatuh dalam 2 sikap yang keliru, yaitu (1) sikap sombong, di mana kita memandang diri terlalu tinggi, atau (2) sikap rendah diri, di mana kita memandang diri terlalu rendah. Selanjutnya, kedua sikap itu akan menyimpangkan kita dari nilai, makna, dan tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Karena itu, penting bagi kita untuk merenungkan, mengingat, dan menyadari siapa diri kita yang sesungguhnya secara berkesinambungan setiap waktu.

Untuk mengetahui nilai, manfaat, dan tujuan suatu benda, kita perlu mempelajari awal-mula terbentuknya benda itu — siapa yang merancangnya, bagaimana benda itu dibuat, dan untuk apa benda itu dibuat. Demikian pula, untuk mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya, kita perlu mempelajari awal-mula terbentuknya manusia. Untuk itu, kita dapat mempelajari Alkitab yang adalah “buku manual” kehidupan kita.

Jaminan Keselamatan Domba Kristus

“Apakah orang percaya sejati dapat meninggalkan imannya, kehilangan keselamatannya, dan akhirnya mengalami kebinasaan kekal?” Pertanyaan ini telah membingungkan banyak orang Kristen dan menimbulkan pertentangan di sepanjang sejarah kekristenan. Sebagian orang berpendapat bahwa orang percaya sejati, oleh kebebasannya, dapat meninggalkan imannya dan kehilangan keselamatannya. Namun, sebagian yang lain berpentapat bahwa orang percaya sejati, oleh pemeliharaan Allah, tidak mungkin meninggalkan imannya dan kehilangan keselamatannya. Pertanyaannya, pandangan manakah yang lebih dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan Alkitab?

Setelah mempelajari berbagai argumentasi yang diajukan oleh masing-masing pihak, saya berpendapat bahwa pandangan kedua, bahwa orang percaya sejati tidak mungkin meninggalkan imannya dan kehilangan keselamatannya, lebih dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan Alkitab. Tentu saja, dibutuhkan suatu pembahasan yang sangat panjang untuk menjawab dan menguraikan semua argumentasi itu secara komprehensif. Walaupun demikian, tanpa bermaksud mengabaikan argumentasi-argumentasi lainnya, pada artikel ini saya akan meninjau persoalan itu berdasarkan perkataan Yesus dalam Yohanes 10:27-30 dan menunjukkan bahwa pandangan kedua lebih dapat dipertanggungjawabkan.

5 Hal yang Menunjukkan Pentingnya Kematian Yesus Kristus

Kematian adalah salah satu karya penting yang dikerjakan Yesus Kristus pada kedatangan-Nya yang pertama kali. Ya, kematian Yesus Kristus disebut “karya yang dikerjakan-Nya” karena 2 alasan:

  1. Karena kematian-Nya terjadi oleh kehendak dan keputusan-Nya sendiri.
  2. Karena kematian-Nya dilakukan untuk tujuan yang bermanfaat.

Karena kematian Yesus Kristus terjadi oleh kehendak dan keputusan-Nya untuk tujuan tertentu yang bermanfaat, maka tidak keliru bila teologi Kristen menyebut kematian Yesus Kristus sebagai “karya yang dikerjakan-Nya”. Namun, lebih daripada itu, kematian Yesus Kristus bukan hanya sebuah karya, tetapi itu adalah sebuah karya yang sangat luar biasa dan sangat penting di dalam teologi Kristen.

Berikut ini adalah 5 hal yang menunjukkan pentingnya kematian Yesus Kristus di dalam teologi Kristen:

Makna Pengorbanan Kristus bagi Keselamatan Manusia

Dalam Roma 3:23 dikatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Dosa telah merusak seluruh aspek kehidupan kita. Dosa telah memperbudak kita sedemikian rupa, sehingga kita tidak bisa lagi berbuat benar di hadapan Allah dan hanya bisa menuruti natur dosa kita. Karena dosa, kita juga teralienasi dari Allah. Dan akhirnya, dosa mendatangkan murka dan hukuman Allah atas kita.

Kita sama sekali tidak bisa mengatasi masalah dosa kita. Satu-satunya jalan adalah Yesus Kristus, Putra tunggal Allah, harus datang ke dunia dan menyerahkan nyawa-Nya dengan mati disalib untuk mengatasi dosa kita.

Namun, apakah dampak pengorbanan Kristus bagi kita?

Kedaulatan Allah atas Segala Sesuatu

Banyak hal, entah baik atau buruk, terjadi di dunia ini. Bagaimanakah hal-hal itu terjadi? Apakah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini telah diatur sebelumnya? Bila ya, siapakah yang mengaturnya? Bila tidak, apakah itu berarti bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini hanyalah serangkaian kejadian yang tidak beraturan dan terjadi secara kebetulan saja? Apa kata Alkitab mengenai hal ini?

Mengenal Kasih Allah

Dalam 1 Yohanes 4:8 dikatakan bahwa Allah adalah kasih. Artinya, kasih merupakan salah satu atribut Allah yang sangat penting, yang menggambarkan siapa Allah. Karena itu, penting bagi kita untuk mengenal kasih Allah.

Secara umum kasih Allah dinyatakan melalui pemeliharaan-Nya atas seluruh alam semesta dan segala makhluk hidup yang diciptakan-Nya. Dia tidak hanya menciptakan dunia beserta segala isinya, tetapi juga berperan aktif dalam mengatur dan memelihara seluruh ciptaan-Nya. Dia mengasihi dunia ciptaan-Nya dan menyediakan kebutuhan makhluk ciptaan-Nya.

Mengenal Keadilan Allah

Di tengah-tengah dunia yang berdosa ini berbagai bentuk ketidakadilan seringkali terjadi. Dalam beberapa kesempatan mungkin Anda pernah merasa diperlakukan secara tidak adil, entah oleh pemimpin, orang tua, sahabat, atau oleh orang-orang lain di sekitar Anda. Saat itu mungkin Anda merasa marah, kecewa, dan berharap keadilan dinyatakan.

Dalam beberapa kasus tertentu mungkin Anda malah menuduh Allah telah berlaku tidak adil terhadap Anda. Anda mungkin merasa telah hidup seturut kehendak Allah, tetapi berbagai hal buruk justru menimpa Anda. Anda pun merasa kecewa dan marah kepada Allah. Anda mulai meragukan dan mempertanyakan keadilan Allah. Benarkah Allah itu adil?

Mengenal Kekudusan Allah

Kekudusan merupakan salah satu atribut Allah. Ada banyak bagian dalam Alkitab yang menekankan kekudusan Allah. Salah satunya terdapat dalam Yesaya 6:1-7. Dalam bagian itu nabi Yesaya melihat Allah duduk di atas takhta-Nya dan para Serafim berseru: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yes 6:3)

Kekudusan Allah dinyatakan dengan berbagai cara, antara lain:

Kehendak Allah dan Tragedi Manusia

Allah rindu bersekutu dengan umat-Nya. Dia ingin umat-Nya mengenal-Nya. Itulah sebabnya Ia memperkenalkan dan menyatakan diri-Nya kepada mereka.

Sayangnya, banyak umat Allah tidak mau peduli terhadap Allah. Mereka bersikap seolah-olah Allah tidak pernah menyatakan diri-Nya kepada mereka. Mereka membuat alasan dengan berkata: “Allah itu terlalu besar bagi kami. Tak mungkin kami dapat mengenal-Nya. Karena itu, untuk apa kami berusaha mengenal-Nya?”

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.