Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Kategori: Eksposisi Alkitab

Murid Sejati: Melepaskan Segala Sesuatu

Dalam Lukas 14:33 Yesus berkata:

Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Untuk menjadi murid Kristus, kita harus melepaskan segala sesuatu yang kita miliki dan menyerahkannya kepada Kristus. Kita harus menyerahkan seluruh hak kepemilikan yang kita punyai kepada-Nya. Inilah syarat ketiga menjadi Murid Kristus.

Murid Sejati: Mengasihi Yesus Lebih Dari Apapun

Dalam Lukas 14:26 Yesus berkata:

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Akan tetapi, bukankah Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri kita sendiri? Mengapa dalam nas ini Dia justru mengatakan bahwa untuk menjadi murid-Nya seseorang harus membenci orang-orang yang dikasihinya dan bahkan dirinya sendiri? Apakah yang Dia maksudkan dengan kata “membenci” dalam nas ini?

Murid Sejati: Tujuan Penginjilan Yesus

Dewasa ini ada banyak pengajaran yang seolah-olah menyatakan bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang mudah dan menyenangkan. Berbagai hal menarik ditawarkan dalam pemberitaan Injil, seperti penyelesaian masalah, kenyamanan hidup, kelimpahan materi, kesembuhan dari penyakit, dan sebagainya. Cara mendapatkannya pun mudah. Seseorang cukup mengucapkan doa orang berdosa dan mengaku percaya kepada Yesus untuk mendapatkan semua itu. Akan tetapi, benarkah itu yang diajarkan dan ditawarkan oleh Yesus bagi orang yang hendak mengikut Dia?

3 Tanda Orang Kristen Sejati

Hanya oleh anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus sajalah kita beroleh keselamatan. Dalam hal ini perlu dipahami bahwa keselamatan bukan hanya berbicara soal pengampunan dosa dan pembebasan dari murka dan hukuman Allah saja, tetapi juga berbicara soal pembaharuan hidup kita di hadapan Allah. Anugerah Allah itu mengampuni kita dari segala dosa kita, membebaskan kita dari murka dan hukuman Allah, dan juga mengubah serta memperbaharui hidup kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Lalu, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita telah beroleh keselamatan? Tanda-tanda apa sajakah yang seharusnya dimiliki oleh orang Kristen sejati?

Kualitas Jemaat Tesalonika

Jemaat Tesalonika dirintis oleh rasul Paulus dalam perjalanan misinya yang kedua dalam waktu yang relatif singkat, yaitu kurang dari sebulan (bd. Kis 17:1-9). Hal itu terjadi karena adanya orang-orang Yahudi yang iri hati dan menindas mereka bersama dengan para penjahat dan preman-preman pasar. Karena itu, rasul Paulus terpaksa harus meninggalkan jemaat itu. Walau demikian, ternyata jemaat Tesalonika dapat bertumbuh menjadi jemaat yang cukup kuat dalam iman.

Surat 1 Tesalonika ditulis tak lama setelah rasul Paulus meninggalkan jemaat Tesalonika (sekitar 6 bulan), yaitu ketika ia berada di kota Korintus pada tahun 51 m. Ia sedemikian memikirkan nasib jemaat Tesalonika. Ia mengutus Timotius untuk menilik mereka. Surat ini ditulis sebagai tanggapan terhadap kabar yang dibawa Timotius mengenai kondisi jemaat itu. Melalui surat ini rasul Paulus hendak menyatakan kepuasannya atas mereka sekaligus mendorong mereka agar tetap kuat dalam iman mereka.

Doa Syafaat bagi Pemerintah

Ketika rasul Paulus menulis surat kepada Timotius, pemerintahan Romawi berada di tangan Nero, kaisar yang terkenal karena kekejaman dan kebengisannya. Pada masa itu banyak pengikut Kristus dibantai, dibakar, atau dijadikan mangsa binatang buas. Lebih daripada itu, Nero juga memfitnah dan mengkambinghitamkan mereka sebagai pelaku kebakaran kota Roma yang sebenarnya dilakukannya sendiri. Hal itu membuat jemaat Tuhan semakin dibenci dan dimusuhi oleh masyarakat di sekitarnya. Namun, justru dalam keadaan seperti itulah rasul Paulus menasihatkan agar umat Tuhan berdoa bagi keselamatan raja dan semua pembesar yang ada.

Seandainya anda menjadi jemaat Tuhan pada saat itu, bagaimana perasaan dan tanggapan anda terhadap nasihat rasul Paulus itu? Akankah anda menaati nasihat rasul Paulus itu dan berdoa dengan penuh kesungguhan bagi keselamatan pemerintah yang mungkin telah menganiaya dan menghabisi orang-orang yang anda kasihi? Atau sebaliknya, anda merasa berat dan terpaksa melakukan nasihat itu dan bahkan menolak melakukannya? Akankah anda menjadi seperti nabi Yunus yang menolak melakukan perintah Tuhan karena tak ingin orang-orang Niniwe yang kejam dan bengis itu beroleh selamat?

Hidup dan Mati bagi Kristus

Dalam Filipi 1:21 Rasul Paulus memberikan sebuah pernyataan yang sangat ringkas dan padat mengenai prinsip hidupnya. Prinsip itu secara jelas menyatakan apa yang menjadi kerinduan dan harapannya. Prinsip itu pula yang melandasi segala sesuatu yang dikerjakannya. Dia berkata:

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Banyak orang memandang kehidupan dan kematian sebagai dua hal yang saling berlawanan. Kehidupan merupakan kesempatan untuk mencapai segala harapan dan cita-cita yang mereka miliki, sedangkan kematian merupakan ancaman bagi pencapaian cita-cita itu. Kematian dapat menggagalkan segala rencana yang telah mereka buat. Kematian juga dapat merampas segala sesuatu yang berharga dalam kehidupan mereka. Mungkin kenyataan inilah yang membuat kematian terasa menakutkan bagi banyak orang.

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.