Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Kategori: Eksposisi Alkitab

Panggilan dan Tujuan Pelayanan Rasul Paulus (Bagian 3)

Jumlah jemaat, penyelesaian masalah hidup, dan keselamatan manusia dari kebinasaan kekal bukanlah tujuan akhir pelayanan Rasul Paulus. Dalam Roma 1:5 dia mengatakan bahwa tujuan pelayanannya yang terutama adalah “untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya” atau lebih tepatnya “untuk menghasilkan ketaatan iman di antara segala bangsa demi nama-Nya”. Dengan kata lain, tujuan pelayanan Rasul Paulus yang terutama adalah ketaatan iman segala bangsa demi kemuliaan Allah.

Ketaatan iman manusia dan kemuliaan Allah merupakan hal paling utama yang Allah kehendaki dari pelayanan kita dan itu pulalah yang seharusnya menjadi tujuan akhir pelayanan kita. Karena itu, dalam artikel ini kita akan membahas kedua tujuan itu secara lebih seksama.

Panggilan dan Tujuan Pelayanan Rasul Paulus (Bagian 2)

Rasul Paulus sungguh-sungguh memperhatikan kehendak dan maksud Allah dalam pekerjaan pelayanannya. Dia tidak pernah mengerjakan tugas pelayanannya secara asal-asalan. Sebaliknya, Dengan senantiasa memperhatikan kehendak dan maksud Allah dia berjuang keras mengerjakan tugas pelayanannya sampai kehendak dan maksud Allah itu tergenapi.

Pertanyaannya sekarang: Apakah yang Allah kehendaki dari pelayanan Rasul Paulus dan juga dari pelayanan kita? Inilah pertanyaan pertama yang harus kita jawab sebelum kita mulai mengerjakan tugas pelayanan kita. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan cara kita mengerjakan tugas pelayanan kita.

Panggilan dan Tujuan Pelayanan Rasul Paulus (Bagian 1)

Sebagai orang percaya kita bukan hanya dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah, tetapi juga untuk menjadi hamba-hamba-Nya. Kita bukan hanya dipanggil untuk menerima warisan kekal dari Bapa sorgawi, tetapi juga untuk menerima tanggung jawab besar dari Raja sorgawi. Kita bukan hanya dipanggil untuk menjadi warga Kerajaan Allah, tetapi juga untuk menjadi duta-duta kerajaan itu. Kita bukan hanya dipanggil untuk menerima anugerah keselamatan, tetapi juga untuk memberitakan Injil keselamatan itu di tengah-tengah dunia ini. Singkatnya, kehidupan Kristen bukanlah kehidupan yang pasif, melainkan kehidupan yang aktif. Seorang Kristen bukanlah seorang pengangguran, melainkan seorang pekerja keras bagi kemuliaan Allah.

Murid Sejati: Pertimbangkan Keputusan Anda Baik-Baik!

Dalam Lukas 14:28-32 Yesus menyisipkan dua perumpamaan berikut di antara ketiga syarat yang Dia ajukan:

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.

Mengapa Yesus menyisipkan kedua perumpamaan itu di antara ketiga syarat menjadi murid-Nya? Apa maksud dari kedua perumpamaan itu?

Murid Sejati: Melepaskan Segala Sesuatu

Dalam Lukas 14:33 Yesus berkata:

Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Untuk menjadi murid Kristus, kita harus melepaskan segala sesuatu yang kita miliki dan menyerahkannya kepada Kristus. Kita harus menyerahkan seluruh hak kepemilikan yang kita punyai kepada-Nya. Inilah syarat ketiga menjadi Murid Kristus.

Murid Sejati: Mengasihi Yesus Lebih Dari Apapun

Dalam Lukas 14:26 Yesus berkata:

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Akan tetapi, bukankah Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri kita sendiri? Mengapa dalam nas ini Dia justru mengatakan bahwa untuk menjadi murid-Nya seseorang harus membenci orang-orang yang dikasihinya dan bahkan dirinya sendiri? Apakah yang Dia maksudkan dengan kata “membenci” dalam nas ini?

Murid Sejati: Tujuan Penginjilan Yesus

Dewasa ini ada banyak pengajaran yang seolah-olah menyatakan bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang mudah dan menyenangkan. Berbagai hal menarik ditawarkan dalam pemberitaan Injil, seperti penyelesaian masalah, kenyamanan hidup, kelimpahan materi, kesembuhan dari penyakit, dan sebagainya. Cara mendapatkannya pun mudah. Seseorang cukup mengucapkan doa orang berdosa dan mengaku percaya kepada Yesus untuk mendapatkan semua itu. Akan tetapi, benarkah itu yang diajarkan dan ditawarkan oleh Yesus bagi orang yang hendak mengikut Dia?

3 Tanda Orang Kristen Sejati

Hanya oleh anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus sajalah kita beroleh keselamatan. Dalam hal ini perlu dipahami bahwa keselamatan bukan hanya berbicara soal pengampunan dosa dan pembebasan dari murka dan hukuman Allah saja, tetapi juga berbicara soal pembaharuan hidup kita di hadapan Allah. Anugerah Allah itu mengampuni kita dari segala dosa kita, membebaskan kita dari murka dan hukuman Allah, dan juga mengubah serta memperbaharui hidup kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Lalu, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita telah beroleh keselamatan? Tanda-tanda apa sajakah yang seharusnya dimiliki oleh orang Kristen sejati?

Kualitas Jemaat Tesalonika

Jemaat Tesalonika dirintis oleh rasul Paulus dalam perjalanan misinya yang kedua dalam waktu yang relatif singkat, yaitu kurang dari sebulan (bd. Kis 17:1-9). Hal itu terjadi karena adanya orang-orang Yahudi yang iri hati dan menindas mereka bersama dengan para penjahat dan preman-preman pasar. Karena itu, rasul Paulus terpaksa harus meninggalkan jemaat itu. Walau demikian, ternyata jemaat Tesalonika dapat bertumbuh menjadi jemaat yang cukup kuat dalam iman.

Surat 1 Tesalonika ditulis tak lama setelah rasul Paulus meninggalkan jemaat Tesalonika (sekitar 6 bulan), yaitu ketika ia berada di kota Korintus pada tahun 51 m. Ia sedemikian memikirkan nasib jemaat Tesalonika. Ia mengutus Timotius untuk menilik mereka. Surat ini ditulis sebagai tanggapan terhadap kabar yang dibawa Timotius mengenai kondisi jemaat itu. Melalui surat ini rasul Paulus hendak menyatakan kepuasannya atas mereka sekaligus mendorong mereka agar tetap kuat dalam iman mereka.

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.