Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Kategori: Ilustrasi Kebenaran

Bayang-Bayang Berbentuk Salib

Pada tahun 1967 ketika mengikuti pelajaran di kelas fotografi Universitas Cincinnati, aku berkenalan dengan seorang pemuda bernama Charles Murray, siswa pada sekolah yang sama, yang sedang dilatih untuk persiapan Olimpiade musim panas tahun 1968 sebagai seorang pelompat indah papan kolam renang. Charles sangat sabar terhadapku ketika aku berbicara selama berjam-jam dengannya tentang Yesus Kristus dan bagaimana Ia telah menyelamatkanku.

Charles tidak dibesarkan di dalam keluarga yang berbakti di gereja manapun. Karena itu, semua yang kuceritakan kepadanya mempesonakannya. Ia bahkan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengampunan dosa. Akhirnya tibalah harinya di mana aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya. Aku bertanya apakah ia menyadari kebutuhan dirinya akan seorang penebus dan apakah ia siap untuk mempercayai Kristus sebagai juruselamat pribadinya. Aku melihat wajahnya berubah dan perasaan bersalah tergambar di situ. Namun jawabannya tegas sekali “Tidak”.

Ayah yang Sakit Rindu

Seorang gadis muda tumbuh di perkebunan ceri tidak jauh dari Traverse City, Michigan. Orangtuanya, sedikit kolot, cenderung bereaksi berlebihan pada cincin di hidungnya, musik yang ia dengarkan, dan panjang roknya. Mereka menghukumnya beberapa kali, dan ia memendam kejengkelan di dalam hati. “Saya benci Ayah!” teriaknya ketika ayahnya mengetuk pintu kamarnya setelah sebuah pertengkaran, dan malam itu ia menjalankan rencana yang sudah ia pikirkan puluhan kali. Ia melarikan diri.

Ia baru sekali ke Detroit sebelumnya, dalam perjalanan dengan bis bersama kelompok remaja gerejanya untuk menyaksikan permainan tim Tigers. Karena surat kabar di Traverse City sering memberitakan tentang geng, obat terlarang, dan kekerasan di pusat kota Detroit dengan sangat rinci, ia menyimpulkan pasti orangtuanya tidak akan mencarinya ke sana. California mungkin, atau Florida, tapi tidak Detroit.

Perjamuan Babette (Babette’s Feast)

Karen Blixen, kelahiran Denmark, menikah dengan seorang baron dan dari tahun 1914 sampai 1931 menjalankan perkebunan kopi di Afrika Timur jajahan Inggris (Out of Africa – tulisannya menceritakan masa-masa ini). Setelah bercerai, ia kembali ke Denmark dan mulai menulis dalam bahasa Inggris dengan nama samaran Isak Dinesen. Salah satu ceritanya, “Babette’s Feast,” menjadi klasik setelah dijadikan film pada tahun 1980-an.

Dinesen menggunakan Norwegia sebagai tempat ceritanya, tetapi pembuat film Denmark mengubah lokasinya ke sebuah desa nelayan miskin di pantai Denmark, kota kecil dengan jalanan becek dan gubuk-gubuk beratap ilalang. Di daerah muram ini, seorang pendeta berjenggot putih memimpin sekelompok jemaat dalam aliran Lutheran yang keras dan kaku.

Tidak banyak kesenangan duniawi yang bisa menggoda seorang petani miskin di Norre Vosburg. Tapi itu pun dilarang oleh aliran tersebut. Semua harus memakai baju hitam. Makanan mereka terdiri dari ikan cod rebus dan bubur gandum yang dibuat dari roti yang direbus dalam air bercampur sedikit bir hitam. Pada hari Sabat, kelompok itu berkumpul untuk menyanyi tentang “Yerusalem, rumahku yang kurindukan, nama yang selalu kusayangi.” Mereka telah menetapkan bahwa tujuan hidup ada di Yerusalem Baru, dan hidup di dunia hanya ditolerir sebagai cara untuk sampai ke sana.

Alkitab Pemberian Utusan Tuhan

Ketika Yun berusia 16 tahun, ayahnya sakit keras dan dokter berkata bahwa sudah tidak ada harapan lagi. Suatu malam ibu Yun mendengar suara Tuhan yang lembut berkata, “Yesus mengasihimu.” Ia segera bangun dari tempat tidurnya dan berdoa, meminta ampun karena dia telah meninggalkan Tuhan di masa-masa sulit. Sekali lagi ia bertobat dan mengakui dosa-dosanya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Keesokan harinya secara ajaib ayah Yun sembuh dari sakitnya. Yun tahu hal ini dan ia menerima Yesus serta memutuskan untuk melayani Tuhan.

Kerinduan Yun begitu besar untuk melihat Alkitab. Ia berusaha mencari dikalangan orang-orang yang sudah percaya Tuhan. Dalam pencariannya ia bertemu dengan seorang penginjil dan ia disarankan untuk berdoa dan berpuasa. Dua bulan Yun berdoa dan berpuasa, tetapi ia belum memperoleh Alkitab. Kemudian ia kembali menemui penginjil itu lagi. Penginjil itu berkata, “Bila engkau meminta Alkitab kepada Allah, janganlah hanya berlutut dan berdoa. Engkau juga harus menangis dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah. Semakin engkau sungguh-sungguh, semakin cepat engkau mendapat Alkitabmu.”

Rahasia Ibu yang Buruk Rupa

Di sebuah kota hiduplah seorang gadis remaja yang sangat cantik rupanya. Ia dijuluki “bunga mawar sekolah” oleh teman-temannya. Tentu saja ia sangat bangga akan keadaan dirinya itu.

Walaupun demikian, ada satu hal yang sangat merisaukan hatinya. Ia memiliki seorang ibu yang sangat buruk rupanya. Ia merasa sangat malu memiliki ibu yang demikian. Karena itu, ia tidak mau berjalan bersama ibunya. Ia juga tidak mau mengakuinya sebagai ibunya. Di hadapan teman-temannya ia mengatakan bahwa itu bukanlah ibunya, melainkan pembantu rumahnya.

Datanglah Sebagaimana Adanya Kamu

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dalam ketidakpercayaan. Tidak mungkin ini tempatnya. Tidak mungkin aku diterima di sini. Aku sudah diberi undangan beberapa kali oleh beberapa orang yang berbeda, dan baru memutuskan untuk melihat seperti apa tempatnya. Tapi, tidak mungkin ini tempatnya.

Sekali lagi kulihat undangan yang ada di genggamanku. Kuperiksa lagi kata-kata yang tertera di sana dengan teliti. “Datanglah sebagaimana adanya kamu. Tidak perlu ditutup-tutupi.” Di bawah kata-kata itu kutemukan alamatnya.

Identitas dan Tujuan Hidup Orang Percaya

Raja Louis XVI telah digulingkan dari tahtanya dan dipenjarakan. Puteranya yang masih muda dibawa oleh para pemberontak yang telah menggulingkannya. Para pemberontak itu mengira bahwa bila mereka dapat menghancurkan moralitas sang pangeran yang juga adalah putera mahkota kerajaan Perancis, tentu ia tak akan pernah menduduki tahta agung yang sebenarnya telah dianugerahkan kepadanya.

Karena itu, mereka membawa sang pangeran ke suatu komunitas yang jauh. Di sana mereka memperlihatkan segala hal yang kotor dan memalukan kepadanya. Mereka menghadapkan segala jenis makanan yang dapat membuatnya diperbudak oleh selera makan. Mereka selalu menggunakan kata-kata memalukan setiap kali berada di dekatnya. Mereka menghadapkannya pada hawa nafsu dan wanita-wanita pelacur. Mereka menghadapkannya pada sikap tidak hormat dan tidak percaya. Dua puluh empat jam setiap harinya ia dikelilingi oleh segala hal yang dapat menyeret jiwa seorang pria serendah-rendahnya.

Harta dalam Bejana Tanah Liat

William adalah seorang penasehat kerajaan yang sangat disegani karena kebijaksanaannya. Raja pun sangat memperhatikan perkataan dan nasehatnya. Akan tetapi, hal itu rupanya membuat putri raja merasa iri, apalagi William memiliki wajah yang jelek dengan tubuh yang bongkok.

Putri raja pun bertanya kepadanya sambil mengejek: “Jika engkau bijaksana, beritahu aku mengapa Tuhan menyimpan kebijaksanaan-Nya dalam diri orang yang buruk rupa dan bongkok?”

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.