Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Kategori: Kehidupan Kristen

Mempersiapkan Diri dalam Menghadapi Kematian

Kematian merupakan sebuah peristiwa yang tidak dapat kita hindari. Sebagian orang merasa takut dan kuatir menghadapi kenyataan ini dengan berbagai alasan. Namun, ketakutan dan kekuatiran itu tak akan dapat mengubah kenyataan ini. Mau atau tidak mau, cepat atau lambat, pada akhirnya kita semua pasti mengalami kematian. Karena itu, daripada menguatirkan kematian, lebih baik kita mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi kematian.

Tanggung Jawab Suami Kristen: Mengasihi Istri

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tanggung jawab istri Kristen, di mana dia harus tunduk kepada suaminya. Sekarang, pada artikel ini, kita akan membahas tanggung jawab suami Kristen, di mana dia harus mengasihi istrinya. Ya, mengasihi istri adalah tanggung jawab yang harus diperhatikan oleh setiap suami.

Sayangnya, sebagaimana banyak istri lebih suka membacakan Kolose 3:19 kepada suaminya, demikian pula banyak suami lebih suka membacakan Kolose 3:18 kepada istrinya. Banyak suami senang menegaskan wewenangnya sebagai kepala dan pemimpin keluarga, tetapi mereka melupakan dan mengabaikan tanggung jawab mereka untuk mengasihi istri mereka. Mereka menuntut penghormatan dan pelayanan dari istri mereka, tetapi mereka tidak memberikan perhatian dan kasih-sayang yang dibutuhkan istri mereka. Karena itu, tak mengherankan bila relasi suami-istri menjadi relasi yang timpang dan hambar.

Rasul Paulus tidak ingin relasi suami-istri dalam keluartga Kristen menjadi relasi yang timpang dan hambar seperti itu. Karena itu, setelah dia menasihati para istri untuk tunduk kepada suami mereka, dia menasihati para suami untuk mengasihi istri mereka. Lebih jauh lagi, dia juga menasihati para suami supaya mereka tidak menjadi pahit terhadap istri mereka.

Sehubungan dengan nasihat Rasul Paulus itu, ada 3 pertanyaan yang akan saya bahas dalam artikel ini, antara lain:

  1. Mengapa seorang suami harus mengasihi istrinya?
  2. Apa yang dimaksud dengan “mengasihi istri”? Apa saja yang tercakup dalam tanggung jawab ini?
  3. Apa yang dimaksud dengan “tidak menjadi pahit terhadap istri”? Apa saja implikasi dari nasihat ini?

Tanggung Jawab Istri Kristen: Tunduk kepada Suami

Alkitab secara konsisten memerintahkan para istri untuk tunduk kepada suaminya (Ef 5:22-24; Kol 3:18; Tit 2:4-5; 1Ptr 3:1). Perintah itu sendiri nampaknya sangat ringkas dan sederhana. Namun, dalam praktiknya perintah itu tidak mudah untuk dilakukan dan sering disalahpahami. Lebih-lebih, pada era sekarang ini, di mana emansipasi wanita dan feminisme semakin berkembang, perintah ini menghadapi tantangan yang semakin besar.

Karena itu, pada artikel ini saya akan berfokus pada 2 persoalan berkenaan dengan perintah ini:

  1. Apakah perintah ini masih berlaku pada zaman sekarang? Apakah dasar dan alasannya?
  2. Apakah maksud perintah ini? Apakah perintah ini mengharuskan para istri menaati suaminya secara mutlak dalam segala sesuatu?

3 Karakteristik Ibadah yang Sejati

Bila Allah itu ada — dan Dia memang ada —, maka ibadah kepada-Nya merupakan suatu keharusan bagi semua makhluk. Setidaknya ada 2 alasan bagi pernyataan ini, antara lain:

  • Karena Allah adalah satu-satunya keberadaan yang sempurna, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak dan layak menerima penyembahan dari semua makhluk.
  • Karena Allah adalah pencipta dan penguasa yang berdaulat mutlak atas seluruh ciptaan, maka seluruh ciptaan bertanggung jawab untuk menyembah dan tunduk kepada-Nya.

Karena itu, keengganan dan ketidakseriusan dalam ibadah pada dasarnya merupakan suatu bentuk penghinaan, penghujatan, dan bahkan penyangkalan terhadap keberadaan Allah. Itu merupakan bentuk kefasikan yang sangat dikecam oleh Allah di dalam Alkitab (bd. Rom 1:18-21).

11 Aspek Kehidupan Kristen yang Sehat

“Kehidupan seperti apakah yang Allah kehendaki untuk Anda jalani di dunia ini?” Ini adalah pertanyaan yang sangat penting dan mendesak. Bila Anda tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan ini, Anda tidak akan dapat membangun kehidupan Kristen yang sehat seturut kehendak Allah. Anda mungkin sangat sibuk dengan segala rutinitas Anda. Namun, bila Anda tidak mengetahui tujuan hidup Anda secara jelas, Anda hanya akan berputar-putar di tempat tanpa mengalami kemajuan sedikitpun. Anda mungkin mengira bahwa Anda telah bekerja bagi Allah, tetapi sesungguhnya Anda sedang menyia-nyiakan hidup Anda. Karena itu, bila Anda ingin menggenapi kehendak Allah atas hidup Anda, Anda harus sungguh-sungguh memahami apa maksud dan rencana Allah atas hidup Anda.

3K untuk Menggenapi Panggilan Allah atas Hidup Anda

Dalam Matius 5:13-16 Yesus dengan sangat jelas menyatakan bahwa kita, anak-anak Allah, adalah garam dan terang dunia. Seperti halnya garam yang mengasini dan cahaya yang menerangi, kita semua dipanggil untuk membawa pengaruh positif dan menyatakan kemuliaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Bila kita gagal menggenapi panggilan Allah itu, kita akan menjadi orang-orang yang tidak berguna, disingkirkan, dan diinjak-injak orang. Karena itu, penting bagi kita untuk berjuang semaksimal mungkin dan melakukan yang terbaik guna menggenapi panggilan Allah atas hidup kita.

Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menggenapi panggilan Allah itu? Apa saja yang harus kita perhatikan dan kerjakan supaya kita dapat membawa pengaruh positif dan menyatakan kemuliaan Allah di tengah-tengah dunia ini?

Penguasaan Diri: Bagaimana Caranya?

Sebagaimana telah saya bahas pada artikel sebelumnya, penguasaan diri merupakan salah satu karakter yang harus kita miliki bila kita mau memenangkan perlombaan hidup ini seturut kehendak Allah. Saya telah membahas pengertian penguasaan diri pada artikel sebelumnya. Namun, memahami pengertian penguasaan diri saja tak akan membuat kita memenangkan perlombaan hidup ini. Kita harus berjuang untuk bertumbuh dalam penguasaan diri setiap hari. Bagaimana caranya?

Penguasaan Diri: Apakah Artinya?

Allah tidak memanggil kita tanpa maksud. Sebaliknya, Dia memanggil kita dengan suatu maksud tertentu. Dia telah membentangkan suatu perlombaan di depan kita dan Dia menghendaki kita memenangkan perlombaan itu demi kemuliaan-Nya. Karena itu, sepatutnyalah kita berjuang sedemikian rupa dalam perlombaan itu dan menggenapi kehendak-Nya atas hidup kita (1Kor 9:24).

Namun, memenangkan perlombaan bukanlah perkara yang mudah, apalagi perlombaan yang sedang kita jalani adalah perlombaan kehidupan yang menuntut usaha dan perjuangan seumur hidup. Ada karakter-karakter tertentu yang harus kita miliki. Salah satunya adalah penguasaan diri (1Kor 9:25). Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan “penguasaan diri”?

Menggunakan Waktu dengan Bijaksana

Waktu adalah satu hal yang sangat paradoks. Kita selalu ada di dalam waktu, tetapi waktu tidak bisa kita lihat. Agustinus mengatakan:

Ketika tidak ada yang menanyakan: “Apakah waktu itu?”, saya merasa mengerti apa waktu itu. Tetapi ketika ada yang bertanya kepada saya: “Apakah waktu itu?”, saya baru menyadari bahwa saya tidak mengerti apakah waktu itu.

Sangat sulit bagi kita untuk mengerti tentang waktu. Pada saat-saat tertentu kita merasa waktu berlalu dengan sangat cepat, sedangkan pada saat-saat lain kita merasa waktu berjalan dengan sangat lambat. Lalu, apakah yang Tuhan katakan tentang waktu?

Kebenaran Injil dan Peraturan Persepuluhan

Bila saya dapat meyakinkan Anda bahwa peraturan persepuluhan sudah tidak berlaku lagi pada era Perjanjian Baru, apakah yang akan Anda perbuat dengan uang Anda? Apakah Anda akan tetap mendukung pekerjaan Tuhan dengan memberikan persembahan yang terbaik? Atau Anda akan mempergunakannya sesuka hati Anda tanpa peduli pada pekerjaan Tuhan?

Bila Anda akan tetap memberikan persembahan yang terbaik bagi pekerjaan Tuhan, bukankah itu berarti bahwa berlaku atau tidak berlakunya peraturan persepuluhan tidak lagi menjadi persoalan yang signifikan bagi anda? Namun, bila ketidakberlakuan persepuluhan membuat Anda mempergunakan uang Anda sesuka hati tanpa mempedulikan pekerjaan Tuhan, bagaimana mungkin Anda dapat mengaku sebagai orang Kristen sejati yang telah mengenal kebenaran Injil dan mengalami kebesaran anugerah Allah dalam hidup anda? Bagaimana mungkin Anda dapat mengaku bahwa Anda telah bertobat dan menjadi murid Kristus bila Anda masih sedemikian terikat pada harta duniawi? Tidak tahukah Anda bahwa untuk menjadi murid Kristus, Anda harus melepaskan diri dari segala milik Anda (Luk 14:33)?

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.