Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Tanggung Jawab Istri Kristen: Tunduk kepada Suami

Alkitab secara konsisten memerintahkan para istri untuk tunduk kepada suaminya (Ef 5:22-24; Kol 3:18; Tit 2:4-5; 1Ptr 3:1). Perintah itu sendiri nampaknya sangat ringkas dan sederhana. Namun, dalam praktiknya perintah itu tidak mudah untuk dilakukan dan sering disalahpahami. Lebih-lebih, pada era sekarang ini, di mana emansipasi wanita dan feminisme semakin berkembang, perintah ini menghadapi tantangan yang semakin besar.

Karena itu, pada artikel ini saya akan berfokus pada 2 persoalan berkenaan dengan perintah ini:

  1. Apakah perintah ini masih berlaku pada zaman sekarang? Apakah dasar dan alasannya?
  2. Apakah maksud perintah ini? Apakah perintah ini mengharuskan para istri menaati suaminya secara mutlak dalam segala sesuatu?

Kuasa Kasih Karunia Allah dalam Kehidupan Rasul Paulus

Banyak orang memahami kasih karunia sebagai suatu obyek pemberian yang pasif, di mana efektivitas kasih karunia itu bergantung pada orang yang menerimanya. Bila orang itu mempergunakannya dengan baik, maka kasih karunia itu akan memberikan manfaat. Namun, bila orang itu tidak mempergunakannya dengan baik, maka kasih karunia itu tidak akan memberi manfaat apa-apa.

Adalah benar bahwa kasih karunia merupakan pemberian Allah. Namun, itu bukanlah suatu obyek pemberian yang pasif. Sebaliknya, kasih karunia itu bersifat aktif dan efektif. Dia bekerja dengan penuh kuasa di dalam diri orang yang menerimanya dan memberikan manfaat seturut kehendak Allah yang memberikannya. Dia tidak akan gagal dan menjadi sia-sia. Sebaliknya, dia akan mencapai tujuan Allah atasnya.

Pemahaman inilah yang dipegang dan disadari oleh Rasul Paulus. Karena itu, dalam 1 Korintus 15:10 dia sangat menekankan peranan kasih karunia di dalam hidup dan pelayanannya. Dia menegaskan bahwa sesungguhnya kasih karunia Allah itulah yang telah bekerja secara aktif dan efektif di dalam dirinya, sehingga dia dapat hidup dan melayani sebagaimana adanya sekarang.

5 Hal yang Menunjukkan Pentingnya Kematian Yesus Kristus

Kematian adalah salah satu karya penting yang dikerjakan Yesus Kristus pada kedatangan-Nya yang pertama kali. Ya, kematian Yesus Kristus disebut “karya yang dikerjakan-Nya” karena 2 alasan:

  1. Karena kematian-Nya terjadi oleh kehendak dan keputusan-Nya sendiri.
  2. Karena kematian-Nya dilakukan untuk tujuan yang bermanfaat.

Karena kematian Yesus Kristus terjadi oleh kehendak dan keputusan-Nya untuk tujuan tertentu yang bermanfaat, maka tidak keliru bila teologi Kristen menyebut kematian Yesus Kristus sebagai “karya yang dikerjakan-Nya”. Namun, lebih daripada itu, kematian Yesus Kristus bukan hanya sebuah karya, tetapi itu adalah sebuah karya yang sangat luar biasa dan sangat penting di dalam teologi Kristen.

Berikut ini adalah 5 hal yang menunjukkan pentingnya kematian Yesus Kristus di dalam teologi Kristen:

3 Karakteristik Ibadah yang Sejati

Bila Allah itu ada — dan Dia memang ada —, maka ibadah kepada-Nya merupakan suatu keharusan bagi semua makhluk. Setidaknya ada 2 alasan bagi pernyataan ini, antara lain:

  • Karena Allah adalah satu-satunya keberadaan yang sempurna, maka Dia adalah satu-satunya yang berhak dan layak menerima penyembahan dari semua makhluk.
  • Karena Allah adalah pencipta dan penguasa yang berdaulat mutlak atas seluruh ciptaan, maka seluruh ciptaan bertanggung jawab untuk menyembah dan tunduk kepada-Nya.

Karena itu, keengganan dan ketidakseriusan dalam ibadah pada dasarnya merupakan suatu bentuk penghinaan, penghujatan, dan bahkan penyangkalan terhadap keberadaan Allah. Itu merupakan bentuk kefasikan yang sangat dikecam oleh Allah di dalam Alkitab (bd. Rom 1:18-21).

Mengapa Rasul Paulus Tidak Tawar Hati?

Bila kita mempelajari perjalanan hidup Rasul Paulus sebagaimana diceritakan dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita akan mendapati bahwa pekerjaan pelayanan Rasul Paulus sama sekali bukanlah pekerjaan yang ringan dan mudah. Sebaliknya, pekerjaan pelayanannya begitu berat dan sukar (bd. 2Kor 11:23-28).

  • Dia harus menempuh perjalanan yang sukar dan berbahaya sejauh ribuan kilometer untuk memberitakan Injil dan merintis jemaat Tuhan di berbagai wilayah kekaisaran Romawi.
  • Dia harus menghadapi hinaan, penolakan, pertentangan, dan penganiayaan dari orang-orang yang dia injili.
  • Dia harus menghadapi berbagai fitnah dan serangan dari saudara-saudara palsu yang ingin menjatuhkannya.

Kemudian, setelah semua kesukaran itu, dia masih harus berjerih-lelah mengajar dan memelihara jemaat-jemaat Allah yang telah dirintisnya, baik untuk membangun iman mereka maupun untuk menjaga mereka dari bahaya kesesatan. Karena itu, tak mengherankan bila ada kalanya dia menjadi lemah, habis akal, dan menyerah di hadapan Allah, sebagaimana yang diungkapkannya dalam 2 Korintus 1:8-9.

Walaupun demikian, segala tekanan, penderitaan, dan kesukaran itu tak pernah membuat Rasul Paulus tawar hati. Dia tak pernah menjadi kecewa, putus asa, atau menyerah dalam pekerjaan pelayanannya. Sebaliknya, dia terus berjuang mengerjakan panggilan pelayanannya sampai akhir hidupnya. Hal ini mungkin membuat kita bertanya-tanya: Bagaimana Rasul Paulus dapat bertahan menghadapi segala penderitaan dan kesukaran itu? Apakah yang mendorongnya untuk tetap berjuang bagi Kristus sampai akhir hidupnya?

11 Aspek Kehidupan Kristen yang Sehat

“Kehidupan seperti apakah yang Allah kehendaki untuk Anda jalani di dunia ini?” Ini adalah pertanyaan yang sangat penting dan mendesak. Bila Anda tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan ini, Anda tidak akan dapat membangun kehidupan Kristen yang sehat seturut kehendak Allah. Anda mungkin sangat sibuk dengan segala rutinitas Anda. Namun, bila Anda tidak mengetahui tujuan hidup Anda secara jelas, Anda hanya akan berputar-putar di tempat tanpa mengalami kemajuan sedikitpun. Anda mungkin mengira bahwa Anda telah bekerja bagi Allah, tetapi sesungguhnya Anda sedang menyia-nyiakan hidup Anda. Karena itu, bila Anda ingin menggenapi kehendak Allah atas hidup Anda, Anda harus sungguh-sungguh memahami apa maksud dan rencana Allah atas hidup Anda.

Ingatlah Istri Lot!

Ingatlah akan isteri Lot! (Lukas 17:32)

Perkataan ini diucapkan Yesus Kristus ketika Dia sedang berbicara tentang kedatangan-Nya yang kedua kali, di mana kedatangan-Nya itu akan terjadi secara tiba-tiba dan tanpa diduga-duga. Lebih buruknya, kedatangan-Nya itu akan disertai dengan hukuman yang dahsyat atas penduduk bumi yang tidak siap menyambut-Nya, yaitu mereka yang mengasihi dunia dan tidak sungguh-sungguh merindukan kedatangan-Nya. Dalam konteks inilah Dia memperingatkan murid-murid-Nya — ya, murid-murid-Nya yang mengikuti-Nya, bukan orang-orang Farisi yang secara terang-terangan menentang-Nya —, supaya mereka mengingat istri Lot.

Apakah artinya itu? Artinya, Yesus mengetahui bahwa di antara orang-orang yang mengikuti-Nya, ada orang-orang yang tidak sungguh-sungguh mempercayai dan mengasihi-Nya. Mereka lebih mengasihi dunia daripada Dia. Mereka tidak siap menyambut kedatangan-Nya, sehingga mereka akan ditimpa hukuman yang dahsyat pada hari kedatangan-Nya. Karena itu, Dia memperingatkan mereka supaya mereka mengingat istri Lot dan menarik pelajaran darinya.

3K untuk Menggenapi Panggilan Allah atas Hidup Anda

Dalam Matius 5:13-16 Yesus dengan sangat jelas menyatakan bahwa kita, anak-anak Allah, adalah garam dan terang dunia. Seperti halnya garam yang mengasini dan cahaya yang menerangi, kita semua dipanggil untuk membawa pengaruh positif dan menyatakan kemuliaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Bila kita gagal menggenapi panggilan Allah itu, kita akan menjadi orang-orang yang tidak berguna, disingkirkan, dan diinjak-injak orang. Karena itu, penting bagi kita untuk berjuang semaksimal mungkin dan melakukan yang terbaik guna menggenapi panggilan Allah atas hidup kita.

Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menggenapi panggilan Allah itu? Apa saja yang harus kita perhatikan dan kerjakan supaya kita dapat membawa pengaruh positif dan menyatakan kemuliaan Allah di tengah-tengah dunia ini?

Penguasaan Diri: Bagaimana Caranya?

Sebagaimana telah saya bahas pada artikel sebelumnya, penguasaan diri merupakan salah satu karakter yang harus kita miliki bila kita mau memenangkan perlombaan hidup ini seturut kehendak Allah. Saya telah membahas pengertian penguasaan diri pada artikel sebelumnya. Namun, memahami pengertian penguasaan diri saja tak akan membuat kita memenangkan perlombaan hidup ini. Kita harus berjuang untuk bertumbuh dalam penguasaan diri setiap hari. Bagaimana caranya?

Penguasaan Diri: Apakah Artinya?

Allah tidak memanggil kita tanpa maksud. Sebaliknya, Dia memanggil kita dengan suatu maksud tertentu. Dia telah membentangkan suatu perlombaan di depan kita dan Dia menghendaki kita memenangkan perlombaan itu demi kemuliaan-Nya. Karena itu, sepatutnyalah kita berjuang sedemikian rupa dalam perlombaan itu dan menggenapi kehendak-Nya atas hidup kita (1Kor 9:24).

Namun, memenangkan perlombaan bukanlah perkara yang mudah, apalagi perlombaan yang sedang kita jalani adalah perlombaan kehidupan yang menuntut usaha dan perjuangan seumur hidup. Ada karakter-karakter tertentu yang harus kita miliki. Salah satunya adalah penguasaan diri (1Kor 9:25). Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan “penguasaan diri”?

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.