Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Tag: Cerita Perumpamaan

Ayah yang Sakit Rindu

Seorang gadis muda tumbuh di perkebunan ceri tidak jauh dari Traverse City, Michigan. Orangtuanya, sedikit kolot, cenderung bereaksi berlebihan pada cincin di hidungnya, musik yang ia dengarkan, dan panjang roknya. Mereka menghukumnya beberapa kali, dan ia memendam kejengkelan di dalam hati. “Saya benci Ayah!” teriaknya ketika ayahnya mengetuk pintu kamarnya setelah sebuah pertengkaran, dan malam itu ia menjalankan rencana yang sudah ia pikirkan puluhan kali. Ia melarikan diri.

Ia baru sekali ke Detroit sebelumnya, dalam perjalanan dengan bis bersama kelompok remaja gerejanya untuk menyaksikan permainan tim Tigers. Karena surat kabar di Traverse City sering memberitakan tentang geng, obat terlarang, dan kekerasan di pusat kota Detroit dengan sangat rinci, ia menyimpulkan pasti orangtuanya tidak akan mencarinya ke sana. California mungkin, atau Florida, tapi tidak Detroit.

Perjamuan Babette (Babette’s Feast)

Karen Blixen, kelahiran Denmark, menikah dengan seorang baron dan dari tahun 1914 sampai 1931 menjalankan perkebunan kopi di Afrika Timur jajahan Inggris (Out of Africa – tulisannya menceritakan masa-masa ini). Setelah bercerai, ia kembali ke Denmark dan mulai menulis dalam bahasa Inggris dengan nama samaran Isak Dinesen. Salah satu ceritanya, “Babette’s Feast,” menjadi klasik setelah dijadikan film pada tahun 1980-an.

Dinesen menggunakan Norwegia sebagai tempat ceritanya, tetapi pembuat film Denmark mengubah lokasinya ke sebuah desa nelayan miskin di pantai Denmark, kota kecil dengan jalanan becek dan gubuk-gubuk beratap ilalang. Di daerah muram ini, seorang pendeta berjenggot putih memimpin sekelompok jemaat dalam aliran Lutheran yang keras dan kaku.

Tidak banyak kesenangan duniawi yang bisa menggoda seorang petani miskin di Norre Vosburg. Tapi itu pun dilarang oleh aliran tersebut. Semua harus memakai baju hitam. Makanan mereka terdiri dari ikan cod rebus dan bubur gandum yang dibuat dari roti yang direbus dalam air bercampur sedikit bir hitam. Pada hari Sabat, kelompok itu berkumpul untuk menyanyi tentang “Yerusalem, rumahku yang kurindukan, nama yang selalu kusayangi.” Mereka telah menetapkan bahwa tujuan hidup ada di Yerusalem Baru, dan hidup di dunia hanya ditolerir sebagai cara untuk sampai ke sana.

Harta dalam Bejana Tanah Liat

William adalah seorang penasehat kerajaan yang sangat disegani karena kebijaksanaannya. Raja pun sangat memperhatikan perkataan dan nasehatnya. Akan tetapi, hal itu rupanya membuat putri raja merasa iri, apalagi William memiliki wajah yang jelek dengan tubuh yang bongkok.

Putri raja pun bertanya kepadanya sambil mengejek: “Jika engkau bijaksana, beritahu aku mengapa Tuhan menyimpan kebijaksanaan-Nya dalam diri orang yang buruk rupa dan bongkok?”

Pengorbanan Seorang Sahabat

Dalam buku To End All Wars, Ernest Gordon menceritakan kisah nyata sekelompok tahanan perang yang bekerja di Jawatan Kereta Api Birma selama Perang Dunia II. Adegan tersebut menjadi lebih tidak terlupakan karena difilmkan dengan judul yang sama.

Tugas hari itu sudah selesai; alat-alat yang digunakan sedang dihitung, seperti biasa. Ketika kelompok itu hampir dibubarkan, sang tentara Jepang berseru bahwa ada sebuah sekop yang hilang. Ia bersikeras bahwa salah seorang tahanan telah mencurinya untuk dijual kepada orang-orang Thailand. Sambil melangkah kian kemari di hadapan para tahanan itu, ia meneriaki dan mengutuki mereka karena kejahatan mereka, dan yang paling tidak termaafkan adalah sikap mereka yang tidak tahu terima kasih kepada Kaisar. Saat ia berteriak-teriak tanpa kendali, kemarahannya makin menjadi-jadi. Sambil menjerit dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, ia menuntut agar orang yang bersalah maju satu langkah ke depan untuk menerima hukumannya. Tidak ada yang bergerak; kemarahan tentara itu sudah mencapai puncaknya.

Tragedi Lonceng Berdarah

Alkisah, di sebuah desa tinggalah seorang ibu yang sudah tua bersama anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Ibu itu seringkali merasa sedih karena memikirkan anaknya yang memiliki tabiat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Ia sering menangis meratapi nasibnya yang malang, tetapi ia tetap berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan, tolong sadarkan anakku yang kusayangi supaya ia tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.” Akan tetapi, semakin hari si anak semakin larut dalam perbuatan jahatnya. Berulang kali ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.

Suatu malam si anak kembali beraksi dan merampok rumah seorang penduduk desa. Malangnya, dia tertangkap. Dia pun kemudian dibawa ke hadapan raja untuk diadili. Karena ia sudah terlalu sering melakukan kejahatan, maka sang raja menjatuhkan hukuman pancung kepadanya. Hasil pengadilan itu diumumkan ke seluruh desa, bahwa hukuman pancung akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.