Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Tag: Kasih Kristen

Kualitas Jemaat Tesalonika

Jemaat Tesalonika dirintis oleh rasul Paulus dalam perjalanan misinya yang kedua dalam waktu yang relatif singkat, yaitu kurang dari sebulan (bd. Kis 17:1-9). Hal itu terjadi karena adanya orang-orang Yahudi yang iri hati dan menindas mereka bersama dengan para penjahat dan preman-preman pasar. Karena itu, rasul Paulus terpaksa harus meninggalkan jemaat itu. Walau demikian, ternyata jemaat Tesalonika dapat bertumbuh menjadi jemaat yang cukup kuat dalam iman.

Surat 1 Tesalonika ditulis tak lama setelah rasul Paulus meninggalkan jemaat Tesalonika (sekitar 6 bulan), yaitu ketika ia berada di kota Korintus pada tahun 51 m. Ia sedemikian memikirkan nasib jemaat Tesalonika. Ia mengutus Timotius untuk menilik mereka. Surat ini ditulis sebagai tanggapan terhadap kabar yang dibawa Timotius mengenai kondisi jemaat itu. Melalui surat ini rasul Paulus hendak menyatakan kepuasannya atas mereka sekaligus mendorong mereka agar tetap kuat dalam iman mereka.

Pengorbanan Seorang Sahabat

Dalam buku To End All Wars, Ernest Gordon menceritakan kisah nyata sekelompok tahanan perang yang bekerja di Jawatan Kereta Api Birma selama Perang Dunia II. Adegan tersebut menjadi lebih tidak terlupakan karena difilmkan dengan judul yang sama.

Tugas hari itu sudah selesai; alat-alat yang digunakan sedang dihitung, seperti biasa. Ketika kelompok itu hampir dibubarkan, sang tentara Jepang berseru bahwa ada sebuah sekop yang hilang. Ia bersikeras bahwa salah seorang tahanan telah mencurinya untuk dijual kepada orang-orang Thailand. Sambil melangkah kian kemari di hadapan para tahanan itu, ia meneriaki dan mengutuki mereka karena kejahatan mereka, dan yang paling tidak termaafkan adalah sikap mereka yang tidak tahu terima kasih kepada Kaisar. Saat ia berteriak-teriak tanpa kendali, kemarahannya makin menjadi-jadi. Sambil menjerit dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, ia menuntut agar orang yang bersalah maju satu langkah ke depan untuk menerima hukumannya. Tidak ada yang bergerak; kemarahan tentara itu sudah mencapai puncaknya.

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.