Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini untuk berlangganan artikel blog ini melalui email.

Nama depan:
Alamat email:

Tag: Makna Hidup

Surat Terbuka kepada Korban Gagal Aborsi

Kau mengetahui bahwa dahulu engkau hendak diaborsi oleh orangtuamu? Kau merasa sedih dan kecewa? Kau merasa sebagai anak yang tak diinginkan dan tertolak? Dan kau katakan bahwa aku tak akan pernah dapat mengerti perasaanmu karena aku bukanlah seorang anak yang pernah hendak diaborsi?

Ya, kau benar, aku memang tak dapat mengerti perasaanmu. Namun, itu bukan karena aku tak pernah hendak diaborsi, melainkan karena jalan pikiranku berbeda dengan jalan pikiranmu, sehingga perasaan yang timbul dalam batinku berbeda dengan perasaan yang timbul dalam batinmu.

Kesia-siaan Segala Sesuatu

“Segala sesuatu adalah sia-sia.” Itulah kesimpulan Pengkhotbah setelah ia mengeksplorasi berbagai cara yang ditempuh manusia untuk memuaskan hatinya dan menemukan makna hidupnya di dunia ini. Perkataan Pengkhotbah itu terdapat pada awal dan akhir kitab Pengkhotbah, yaitu pada 1:2 dan 12:8. Selain itu, dalam kitab ini kata “sia-sia” dan “kesia-siaan” muncul berulang kali. Hal itu menunjukkan maksud utama penulisan kitab ini, di mana Pengkotbah hendak menekankan kesementaraan dan ketidakberartian segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Banyak orang berusaha mencari kepuasan dan makna hidupnya dengan kesenangan. Pengkotbah pun ingin mengetahui apakah hal itu dapat memuaskan hatinya. Ia pun melakukan segala hal yang oleh banyak orang dipandang sebagai kesenangan, seperti minum anggur, membangun rumah-rumah dan taman-taman, membeli banyak budak dan ternak, mengumpulkan segala harta benda yang indah, serta memiliki banyak gundik (Pkh 2:3-10). Namun, benarkah semua itu dapat memuaskan hatinya?

This blog is presented by Paulus Roi. © 2018 All right reserved.