Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Tag: Pelayanan Rasul Paulus

Kuasa Kasih Karunia Allah dalam Kehidupan Rasul Paulus

Banyak orang memahami kasih karunia sebagai suatu obyek pemberian yang pasif, di mana efektivitas kasih karunia itu bergantung pada orang yang menerimanya. Bila orang itu mempergunakannya dengan baik, maka kasih karunia itu akan memberikan manfaat. Namun, bila orang itu tidak mempergunakannya dengan baik, maka kasih karunia itu tidak akan memberi manfaat apa-apa.

Adalah benar bahwa kasih karunia merupakan pemberian Allah. Namun, itu bukanlah suatu obyek pemberian yang pasif. Sebaliknya, kasih karunia itu bersifat aktif dan efektif. Dia bekerja dengan penuh kuasa di dalam diri orang yang menerimanya dan memberikan manfaat seturut kehendak Allah yang memberikannya. Dia tidak akan gagal dan menjadi sia-sia. Sebaliknya, dia akan mencapai tujuan Allah atasnya.

Pemahaman inilah yang dipegang dan disadari oleh Rasul Paulus. Karena itu, dalam 1 Korintus 15:10 dia sangat menekankan peranan kasih karunia di dalam hidup dan pelayanannya. Dia menegaskan bahwa sesungguhnya kasih karunia Allah itulah yang telah bekerja secara aktif dan efektif di dalam dirinya, sehingga dia dapat hidup dan melayani sebagaimana adanya sekarang.

Mengapa Rasul Paulus Tidak Tawar Hati?

Bila kita mempelajari perjalanan hidup Rasul Paulus sebagaimana diceritakan dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita akan mendapati bahwa pekerjaan pelayanan Rasul Paulus sama sekali bukanlah pekerjaan yang ringan dan mudah. Sebaliknya, pekerjaan pelayanannya begitu berat dan sukar (bd. 2Kor 11:23-28).

  • Dia harus menempuh perjalanan yang sukar dan berbahaya sejauh ribuan kilometer untuk memberitakan Injil dan merintis jemaat Tuhan di berbagai wilayah kekaisaran Romawi.
  • Dia harus menghadapi hinaan, penolakan, pertentangan, dan penganiayaan dari orang-orang yang dia injili.
  • Dia harus menghadapi berbagai fitnah dan serangan dari saudara-saudara palsu yang ingin menjatuhkannya.

Kemudian, setelah semua kesukaran itu, dia masih harus berjerih-lelah mengajar dan memelihara jemaat-jemaat Allah yang telah dirintisnya, baik untuk membangun iman mereka maupun untuk menjaga mereka dari bahaya kesesatan. Karena itu, tak mengherankan bila ada kalanya dia menjadi lemah, habis akal, dan menyerah di hadapan Allah, sebagaimana yang diungkapkannya dalam 2 Korintus 1:8-9.

Walaupun demikian, segala tekanan, penderitaan, dan kesukaran itu tak pernah membuat Rasul Paulus tawar hati. Dia tak pernah menjadi kecewa, putus asa, atau menyerah dalam pekerjaan pelayanannya. Sebaliknya, dia terus berjuang mengerjakan panggilan pelayanannya sampai akhir hidupnya. Hal ini mungkin membuat kita bertanya-tanya: Bagaimana Rasul Paulus dapat bertahan menghadapi segala penderitaan dan kesukaran itu? Apakah yang mendorongnya untuk tetap berjuang bagi Kristus sampai akhir hidupnya?

Panggilan dan Tujuan Pelayanan Rasul Paulus (Bagian 3)

Jumlah jemaat, penyelesaian masalah hidup, dan keselamatan manusia dari kebinasaan kekal bukanlah tujuan akhir pelayanan Rasul Paulus. Dalam Roma 1:5 dia mengatakan bahwa tujuan pelayanannya yang terutama adalah “untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya” atau lebih tepatnya “untuk menghasilkan ketaatan iman di antara segala bangsa demi nama-Nya”. Dengan kata lain, tujuan pelayanan Rasul Paulus yang terutama adalah ketaatan iman segala bangsa demi kemuliaan Allah.

Ketaatan iman manusia dan kemuliaan Allah merupakan hal paling utama yang Allah kehendaki dari pelayanan kita dan itu pulalah yang seharusnya menjadi tujuan akhir pelayanan kita. Karena itu, dalam artikel ini kita akan membahas kedua tujuan itu secara lebih seksama.

Panggilan dan Tujuan Pelayanan Rasul Paulus (Bagian 2)

Rasul Paulus sungguh-sungguh memperhatikan kehendak dan maksud Allah dalam pekerjaan pelayanannya. Dia tidak pernah mengerjakan tugas pelayanannya secara asal-asalan. Sebaliknya, Dengan senantiasa memperhatikan kehendak dan maksud Allah dia berjuang keras mengerjakan tugas pelayanannya sampai kehendak dan maksud Allah itu tergenapi.

Pertanyaannya sekarang: Apakah yang Allah kehendaki dari pelayanan Rasul Paulus dan juga dari pelayanan kita? Inilah pertanyaan pertama yang harus kita jawab sebelum kita mulai mengerjakan tugas pelayanan kita. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan cara kita mengerjakan tugas pelayanan kita.

Panggilan dan Tujuan Pelayanan Rasul Paulus (Bagian 1)

Sebagai orang percaya kita bukan hanya dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah, tetapi juga untuk menjadi hamba-hamba-Nya. Kita bukan hanya dipanggil untuk menerima warisan kekal dari Bapa sorgawi, tetapi juga untuk menerima tanggung jawab besar dari Raja sorgawi. Kita bukan hanya dipanggil untuk menjadi warga Kerajaan Allah, tetapi juga untuk menjadi duta-duta kerajaan itu. Kita bukan hanya dipanggil untuk menerima anugerah keselamatan, tetapi juga untuk memberitakan Injil keselamatan itu di tengah-tengah dunia ini. Singkatnya, kehidupan Kristen bukanlah kehidupan yang pasif, melainkan kehidupan yang aktif. Seorang Kristen bukanlah seorang pengangguran, melainkan seorang pekerja keras bagi kemuliaan Allah.

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.