Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Ingin berlangganan artikel blog ini? Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini.

Nama depan:
Alamat email:

Tag: Penderitaan Orang Percaya

Mengapa Rasul Paulus Tidak Tawar Hati?

Bila kita mempelajari perjalanan hidup Rasul Paulus sebagaimana diceritakan dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita akan mendapati bahwa pekerjaan pelayanan Rasul Paulus sama sekali bukanlah pekerjaan yang ringan dan mudah. Sebaliknya, pekerjaan pelayanannya begitu berat dan sukar (bd. 2Kor 11:23-28).

  • Dia harus menempuh perjalanan yang sukar dan berbahaya sejauh ribuan kilometer untuk memberitakan Injil dan merintis jemaat Tuhan di berbagai wilayah kekaisaran Romawi.
  • Dia harus menghadapi hinaan, penolakan, pertentangan, dan penganiayaan dari orang-orang yang dia injili.
  • Dia harus menghadapi berbagai fitnah dan serangan dari saudara-saudara palsu yang ingin menjatuhkannya.

Kemudian, setelah semua kesukaran itu, dia masih harus berjerih-lelah mengajar dan memelihara jemaat-jemaat Allah yang telah dirintisnya, baik untuk membangun iman mereka maupun untuk menjaga mereka dari bahaya kesesatan. Karena itu, tak mengherankan bila ada kalanya dia menjadi lemah, habis akal, dan menyerah di hadapan Allah, sebagaimana yang diungkapkannya dalam 2 Korintus 1:8-9.

Walaupun demikian, segala tekanan, penderitaan, dan kesukaran itu tak pernah membuat Rasul Paulus tawar hati. Dia tak pernah menjadi kecewa, putus asa, atau menyerah dalam pekerjaan pelayanannya. Sebaliknya, dia terus berjuang mengerjakan panggilan pelayanannya sampai akhir hidupnya. Hal ini mungkin membuat kita bertanya-tanya: Bagaimana Rasul Paulus dapat bertahan menghadapi segala penderitaan dan kesukaran itu? Apakah yang mendorongnya untuk tetap berjuang bagi Kristus sampai akhir hidupnya?

Alkitab Pemberian Utusan Tuhan

Ketika Yun berusia 16 tahun, ayahnya sakit keras dan dokter berkata bahwa sudah tidak ada harapan lagi. Suatu malam ibu Yun mendengar suara Tuhan yang lembut berkata, “Yesus mengasihimu.” Ia segera bangun dari tempat tidurnya dan berdoa, meminta ampun karena dia telah meninggalkan Tuhan di masa-masa sulit. Sekali lagi ia bertobat dan mengakui dosa-dosanya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Keesokan harinya secara ajaib ayah Yun sembuh dari sakitnya. Yun tahu hal ini dan ia menerima Yesus serta memutuskan untuk melayani Tuhan.

Kerinduan Yun begitu besar untuk melihat Alkitab. Ia berusaha mencari dikalangan orang-orang yang sudah percaya Tuhan. Dalam pencariannya ia bertemu dengan seorang penginjil dan ia disarankan untuk berdoa dan berpuasa. Dua bulan Yun berdoa dan berpuasa, tetapi ia belum memperoleh Alkitab. Kemudian ia kembali menemui penginjil itu lagi. Penginjil itu berkata, “Bila engkau meminta Alkitab kepada Allah, janganlah hanya berlutut dan berdoa. Engkau juga harus menangis dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah. Semakin engkau sungguh-sungguh, semakin cepat engkau mendapat Alkitabmu.”

This blog is presented by Paulus Roi. Copyright © 2018 All right reserved.