Blog Pribadi Paulus Roi

Memperlengkapi Orang-orang Percaya dalam Kebenaran, Kasih, dan Pekerjaan Baik

Berlangganan Email

Silahkan masukkan nama depan dan alamat email Anda pada form di bawah ini untuk berlangganan artikel blog ini melalui email.

Nama depan:
Alamat email:

Tag: Tujuan Hidup

Hidup bagi Kemuliaan Allah

Alam semesta merupakan benda mati. Karena itu, ia tidak dapat memilih untuk tidak memuliakan Allah. Akan tetapi, manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan dan diperlengkapi dengan kehendak bebas. Manusia dapat memilih untuk hidup memuliakan Allah atau tidak. Sayangnya, Adam dan Hawa sebagai manusia pertama telah memilih untuk tidak taat kepada Allah dan dengan demikian juga tidak memuliakan Allah.

Namun sekarang, setelah kita mengenal Kristus dan diselamatkan, kita bebas dari dosa yang memperbudak kita. Karena itu, janganlah kita hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Marilah kita hidup seturut kehendak Allah dan memuliakan Dia.

Mengapa kita harus memuliakan Allah?

Surat Terbuka kepada Korban Gagal Aborsi

Kau mengetahui bahwa dahulu engkau hendak diaborsi oleh orangtuamu? Kau merasa sedih dan kecewa? Kau merasa sebagai anak yang tak diinginkan dan tertolak? Dan kau katakan bahwa aku tak akan pernah dapat mengerti perasaanmu karena aku bukanlah seorang anak yang pernah hendak diaborsi?

Ya, kau benar, aku memang tak dapat mengerti perasaanmu. Namun, itu bukan karena aku tak pernah hendak diaborsi, melainkan karena jalan pikiranku berbeda dengan jalan pikiranmu, sehingga perasaan yang timbul dalam batinku berbeda dengan perasaan yang timbul dalam batinmu.

Hidup dan Mati bagi Kristus

Dalam Filipi 1:21 Rasul Paulus memberikan sebuah pernyataan yang sangat ringkas dan padat mengenai prinsip hidupnya. Prinsip itu secara jelas menyatakan apa yang menjadi kerinduan dan harapannya. Prinsip itu pula yang melandasi segala sesuatu yang dikerjakannya. Dia berkata:

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Banyak orang memandang kehidupan dan kematian sebagai dua hal yang saling berlawanan. Kehidupan merupakan kesempatan untuk mencapai segala harapan dan cita-cita yang mereka miliki, sedangkan kematian merupakan ancaman bagi pencapaian cita-cita itu. Kematian dapat menggagalkan segala rencana yang telah mereka buat. Kematian juga dapat merampas segala sesuatu yang berharga dalam kehidupan mereka. Mungkin kenyataan inilah yang membuat kematian terasa menakutkan bagi banyak orang.

Kerinduan Rasul Paulus

Rasul Paulus memiliki suatu kerinduan yang begitu menggebu-gebu dalam hatinya, yaitu bahwa Kristus dengan nyata diagungkan, ditinggikan, dan dimuliakan dalam segala hal yang dikerjakannya. Kerinduan itu telah timbul sejak awal pertobatannya dan terus dikejarnya sampai akhir hidupnya. Dia berjuang sedemikian rupa, mengeluarkan segenap potensi yang dimilikinya, demi mewujudnyatakan kerinduan hatinya itu.

Akan tetapi, bila kita mempelajari perkataan Rasul Paulus dalam Filipi 1:20 secara seksama, kita akan mendapati bahwa cara Rasul Paulus mengungkapkan kerinduan hatinya sangat aneh. Dia mengatakan: “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, ….” Mengapa Rasul Paulus berkata demikian?

Identitas dan Tujuan Hidup Orang Percaya

Raja Louis XVI telah digulingkan dari tahtanya dan dipenjarakan. Puteranya yang masih muda dibawa oleh para pemberontak yang telah menggulingkannya. Para pemberontak itu mengira bahwa bila mereka dapat menghancurkan moralitas sang pangeran yang juga adalah putera mahkota kerajaan Perancis, tentu ia tak akan pernah menduduki tahta agung yang sebenarnya telah dianugerahkan kepadanya.

Karena itu, mereka membawa sang pangeran ke suatu komunitas yang jauh. Di sana mereka memperlihatkan segala hal yang kotor dan memalukan kepadanya. Mereka menghadapkan segala jenis makanan yang dapat membuatnya diperbudak oleh selera makan. Mereka selalu menggunakan kata-kata memalukan setiap kali berada di dekatnya. Mereka menghadapkannya pada hawa nafsu dan wanita-wanita pelacur. Mereka menghadapkannya pada sikap tidak hormat dan tidak percaya. Dua puluh empat jam setiap harinya ia dikelilingi oleh segala hal yang dapat menyeret jiwa seorang pria serendah-rendahnya.

This blog is presented by Paulus Roi. © 2018 All right reserved.